HAPPY READING
.
.
.
.
Sore hari terasa hangat dengan langit yang mulai berubah warna. Setelah pulang sekolah, langkah kaki mereka terasa lebih santai dari biasanya. Angin sore berhembus pelan, membawa suasana tenang yang pas untuk melepas lelah setelah seharian beraktivitas.
Sepulang sekolah, Acha tidak langsung pulang ke rumah. Ia memilih pergi ke sebuah kafe bersama Keisya untuk mengerjakan tugas makalah. Laptop sudah berada di dalam tas, dan tenggat waktu menunggu tanpa kompromi.
“Kita kerjain di situ aja, Cha. Kayaknya nggak terlalu rame, tempatnya juga enak,” ujar Keisya sambil menunjuk sebuah kafe kecil di seberang jalan.
Acha mengangguk setuju.
Tak lama kemudian, mereka sudah duduk berhadapan. Layar laptop menyala, jari-jari mulai sibuk menari di atas papan ketik. Suasana kafe cukup tenang—hingga sebuah suara memecah konsentrasi.
“Achaa…”
Acha menoleh dan tersenyum kecil.
Raka.
Tanpa banyak basa-basi, laki-laki itu langsung menarik kursi dan duduk di samping Keisya. Seketika, tubuh Keisya menegang. Wajahnya memucat, napasnya tertahan.
"ini beneran dia… Raka. Acha nggak boleh dekat sama dia" batin keisya
“Lo kenapa melamun, Sya?” tanya Acha heran.
Keisya buru-buru menggeleng, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Raka tampak santai, bahkan melemparkan senyum tipis yang justru membuat dada Keisya semakin sesak.
“Kita pulang yuk, Cha,” ucap Keisya tiba-tiba.
Acha menoleh kaget. “Loh? Tapi ini belum selesai.”
“Besok masih ada waktu. Lagian tinggal dikit lagi,” jawab Keisya cepat, suaranya sedikit bergetar.
"Yaelah dikit lagi doang kok malah di tunda"
"Gapapa aman aja, gue yang ngerjain sisanya" ucapa Keisya yang sengaja membuat wajahnya begitu tenang, padahal aslinya keisya sudah panas dingin tak tertolong.
Acha menatap sahabatnya beberapa detik sebelum akhirnya mengalah. Hari memang sudah sore.
Saat mereka beranjak, Raka bersuara, “Loh, gue ditinggal nih, Cha?”
“Maaf ya, gue pulang dulu,” ucap Acha singkat.
Raka hanya mengangguk, menatap mereka pergi dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Begitu sampai di rumah Acha, Keisya langsung menarik tangan sahabatnya masuk dengan tergesa. Pintu ditutup rapat. Napas Keisya masih tersengal, wajahnya jelas menunjukkan ketakutan.
“Lo kenapa, Sya?” tanya Acha bingung. “Dari tadi kayak ketakutan. Terus kenapa lo bengong waktu Raka datang?”
Keisya menunduk. Tangannya gemetar.
“Gue takut, Cha,” ucapnya lirih. “Gue mohon… jangan terlalu dekat sama Raka.”
Acha terdiam. “Kenapa? Lo kenal dia?”
Keisya menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberanian.
“Gue punya kakak sepupu. Namanya Citra. Kami dekat banget… kayak kakak kandung sendiri. Waktu papa gue meninggal, gue tinggal sama tante Dina—mamanya kak Citra.”
Suara Keisya mulai bergetar.
“Raka itu temen sekelas kak Citra dulu. Waktu kak Citra kelas sepuluh… dan gue kelas delapan.”
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAVAN [END]
ActionAcha Syaqila Putri terlihat seperti remaja biasa. Senyum manis, sikap manja, dan hidup yang tampak normal. Padahal semua itu bohong. Di balik wajah polosnya, Acha menyimpan kemampuan mematikan-hasil latihan dari orang yang sama yang pernah menghancu...
![CHAVAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/357387260-64-k821142.jpg)