BAB 05. SAAT SINGA MULAI TERBANGUN

853 30 1
                                        

Pagi yang cerah, Acha sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Tas menggantung di bahu, rambut terikat seadanya. Tangannya memang masih terasa nyeri akibat insiden semalam, tapi ia merasa sudah jauh lebih baik. Setidaknya, cukup baik untuk mengendarai motor sendiri.

Namun, Byan punya pendapat lain.
Tanpa aba-aba, Byan mengambil kunci motor Acha dan menyelipkannya ke saku jaket.

"Bang!" Acha langsung menoleh tajam. "Motor Acha!"

"Enggak," jawab Byan singkat, datar, tanpa menoleh.

Kesal.
Marah.
Geram.
Semua bercampur jadi satu.

"Bang, tangan Acha udah mendingan," rengeknya, suaranya mulai naik. "Acha bisa nyetir sendiri."

Byan menatapnya dingin. "Gue bilang enggak."

Nada itu sukses membuat dada Acha sesak. Matanya memanas.

"Abanggg..." Suaranya melemah, nyaris seperti anak kecil yang mau menangis.

Dan tepat di saat itu-

Pintu pagar terbuka.
Evan melangkah masuk, helm masih di tangan.

Acha refleks menegakkan tubuhnya. Jantungnya langsung berdegup tidak karuan.

Sejak kapan Kak Evan di sini?
Astaga... kok ganteng banget pagi-pagi gini?

Byan menoleh ke arah Evan. "Lo bisa anter adek gue ke sekolah, enggak? Kalau bukan sama lo, dia nggak bakal mau berangkat."

Acha langsung melotot.

Sejak kapan gue minta dianter Kak Evan?
Eh... dulu sih iya.
Tapi sekarang... ya masih sih.
Tapi kan gengsi!

"Ayo," ucap Evan sambil tersenyum tipis. "Naik."

Acha membeku.

Hah?
Serius?
Ini mimpi apa kenyataan?

"Acha Syaqila Putri!" suara Byan meninggi melihat Acha masih berdiri seperti patung.

"IYA, SAYA!" Acha tersentak dan hampir berteriak.

"Cepat naik!"

Tanpa pikir panjang, Acha langsung berlari kecil ke arah motor Evan.

"Nanti pulangnya Abang yang jemput!" teriaknya. Acha hanya mengangguk singkat.

---

Sejak dulu, Acha sudah mengenal Evan. Mereka pertama kali bertemu saat Byan masih SMA, bersekolah di tempat yang sama-SMA Mentari. Dari sejak itu pula, Acha diam-diam menyukai Evan.

Dan belakangan ini...
Perasaan itu terasa berbalas.

Di sekolah, Acha tampak lebih sering menunduk menatap ponselnya. Jarinya sibuk membalas pesan.

Raka.

Kesya yang duduk di sampingnya memperhatikan sejak tadi. Alisnya berkerut.

"Cha," panggilnya pelan. "Lo sering chat sama Raka, ya?"

Acha mengangguk santai. "Iya. Dia baik kok, Sya."

Justru itu yang bikin Kesya makin tidak tenang.

Baik?
Raka itu baik baiknya versi 'tai anj*ng'.

Apalagi saat Raka mengajak Acha pergi sepulang sekolah. Katanya mau mentraktir sebagai ucapan terima kasih.

"Terima kasih apaan?" Kesya mendengus. "Aneh nggak sih?"

Acha mengedikkan bahu. "Entahlah. Gue mikir positif aja."

"Cha," Kesya menatapnya serius. "Lo yakin mau nemuin dia?"

CHAVAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang