BAB 46. PUNCAK!

42 3 5
                                        

HAPPY READING
.
.
"Cinta sejati itu bukan cuma soal kata, tapi tentang siapa yang ada di sana saat dunia lo hancur."
.
.


Di tengah kegelapan malam, dengan bintang-bintang yang seolah enggan bersinar menyaksikan kekejaman itu, Sanjaya meludahkan kata-kata tajam. "Ini balasan kalian. Kalian pikir bisa bermain-main dengan saya dan lolos begitu saja?" Suaranya menusuk, dipenuhi kebencian.

"Manusia iblis!" Acha memekik, suaranya parau dan bergetar menahan perih yang menyayat kulit kepala, namun sorot matanya menyala penuh kebencian. Ia menatap Sanjaya dengan segenap sisa kekuatannya. "Ini kah yang lo lakuin ke anak darah daging lo sendiri?!"

Sanjaya hanya tertawa dingin, tawa yang menusuk tulang, tanpa sedikit pun keraguan atau penyesalan terpancar dari wajahnya. Bahkan, pergelangan tangan kirinya yang putus dan kini terbalut perban darurat seolah tak berarti apa-apa baginya. "Haha, anak bajingan itu? Apa masih bisa kuanggap sebagai anakku? Setelah apa yang dia lakukan kepadaku?"

Evan mengepalkan tangannya, urat-urat di lehernya menegang. "Lo yang buat masalah itu, anj*ng!" desisnya penuh amarah, tatapannya membakar, seolah siap menerjang Sanjaya kapan saja meskipun tubuhnya sendiri babak belur.

Tiba-tiba, Sanjaya membungkuk, tangannya meraih. Bukan untuk memukul, melainkan untuk mengambil pedang Acha yang sempat terlepas dari genggamannya. Pedang itu, yang dulu diberikan Evan, kini berada di tangan Sanjaya. Ia menatap pedang itu dengan tatapan aneh, seolah mengenali atau meremehkannya. Acha dan Evan, meskipun tubuh mereka lemah, tak bisa mengalihkan pandangan. Mereka memperhatikan setiap gerak-gerik Sanjaya, jantung mereka berdebar cemas, bertanya-tanya apa yang akan dilakukan iblis itu dengan pedang yang menyimpan begitu banyak arti bagi mereka.

Lalu, dengan gerakan perlahan namun penuh ancaman, Sanjaya mengangkat pedang itu tinggi-tinggi di atas kepala, bilahnya berkilat memantulkan cahaya rembulan yang redup, seolah ingin menebas mereka berdua di sana juga. Udara terasa membeku, setiap detik terasa seperti keabadian.

Tepat saat pedang itu mulai menukik ke bawah, Evan menyadari apa yang akan Sanjaya lakukan. Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Evan melirik Acha, memberikan kode singkat melalui tatapan mata. Acha, yang selalu sefrekuensi dengannya, langsung mengerti. Tanpa ragu, ia menyeret dan menarik salah satu anak buah Sanjaya yang berdiri terlalu dekat.

Dalam sepersekian detik yang menegangkan, pedang Sanjaya yang seharusnya mengenai Acha dan Evan, malah menembus tubuh kedua anak buahnya sendiri. Sebuah erangan kesakitan terdengar, darah menyembur, dan kedua tubuh itu ambruk seketika.

Senyuman tipis, penuh kepuasan, muncul di bibir Acha dan Evan. Sebuah senyuman pahit yang tak tertahankan. Dan pada saat itulah, terpancar jelas dari raut wajah Sanjaya bahwa ia sedang dilanda ketakutan yang sesungguhnya. Ekspresi iblisnya runtuh, tergantikan oleh kejutan dan bayangan horor atas kegagalannya sendiri.

"Kenapa, hum?" ucap Evan, suaranya berat dan rendah, dipenuhi nada intimidasi yang dingin. Matanya menyorot tajam, seolah menelanjangi setiap ketakutan Sanjaya. Senyum tipis masih bermain di bibirnya yang berdarah, membuat Sanjaya merasa seperti mangsa yang terjebak.

"Kenapa takut, Om? Ayo main sama Acha aja," tambah Acha, suaranya terdengar lembut namun menyimpan ancaman yang tak kalah mengerikan. Ia membalas tatapan Sanjaya, senyumnya kini melebar, memperlihatkan sisi gelap yang membuat Sanjaya semakin bergidik ngeri.

Sanjaya menggeleng pelan, rasa takut yang nyata akhirnya merayapi wajahnya yang biasanya kejam. Senyuman remehnya lenyap, digantikan oleh kerutan khawatir yang dalam. Ia tidak pernah menduga dua remaja yang babak belur ini bisa membuatnya merasakan ketakutan seperti ini.

"Sayang, kamu yakin mau bunuh si bajingan ini, hum?" ucap Acha, suaranya melunak manja, namun ada nada intimidasi yang dingin dan berbahaya dalam setiap suku katanya. Matanya menatap Evan penuh arti, seolah ingin tahu batas akhir kemarahan mereka.

CHAVAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang