HAPPY READING
.
.
"Kadang yang bikin sesak bukan perpisahan,
tapi kebenaran yang datang di waktu paling salah.
Kadang yang bikin kuat bukan janji,
tapi satu orang yang nggak pergi saat segalanya runtuh."
.
.
Pagi itu sekolah sudah mulai ramai meski matahari baru naik sepenggalah. Udara masih terasa sejuk, bercampur aroma kantin yang baru dibuka dan wangi lantai yang habis dipel. Suara langkah kaki bersahutan di koridor, tawa-tawa kecil terdengar dari sudut tangga, dan beberapa siswa duduk berkelompok membicarakan sesuatu dengan nada berbisik yang justru menarik perhatian.
Kelas sudah hampir penuh. Suara kursi digeser, tawa kecil, dan bisik-bisik masih terdengar samar. Tapi begitu Acha masuk… rasanya dunia seperti mengecil.
Kesya langsung berdiri menyambutnya.
"Cha?!"
Acha melirik sekilas ke arah keisya "gue harap lo bantu gue buat nyelesain ini" ucapa acha sambil menatap keisya
keisya yang merasa ada yang aneh dengan acha pun menjawab singkat "Oke"
Di depan kelas, Evan sudah berdiri sejak tadi. Tangannya masuk ke saku celana, wajahnya terlihat tenang seperti biasa, tapi matanya tak pernah lepas dari Acha. Seolah ia takut jika sedetik saja berpaling, Acha akan menghilang.
"Acha?!"
Acha yang merasa di panggil pun langsung melihat asal suara itu "gue kok ngelihat kak evan nyesek banget ya" dalam hati acha
Keisya yang melihat acha ingin menjumpai evan pun langsung menariknya
"Dia ketua kita"ucap acha tanpa melihat keisya
"Lo masih anggep dia ketua?,dia udah nyakitin lo cha! "
"Gue gak ada hubungan sama kak evan, satu lagi lo gak tau cerita, bentar lagi gue ceritain"
"Cha? "
Acha melepas pegangan tangannya dan langsung mendatangi evan
"Acha kok berubah ya" lirih keisya
Di hadapan Evan, Acha berhenti. Tidak ada jarak jauh di antara mereka, tapi rasanya seperti dipisahkan jurang. Evan melihat jelas lingkar hitam tipis di bawah mata Acha—tanda ia tidak tidur semalaman. Dan Acha melihat kegelisahan di mata Evan yang biasanya tenang.
***
L
orong terasa lebih sepi walau orang-orang masih ada. Seakan suara sekitar meredup saat mereka berdiri saling berhadapan.
"Kakak mau bantu acha kan, acha gak berani bilang sama bang byan"
Evan mengangguk "makasih ya cha, berarti acha udah bantu kakak"
Acha mengangguk "tapi keluarga acha?" acha benar benar kecewa ia tidak habis pikir dengan jalan hidupnya
"Berarti acha percaya kan? kakak gak mungkin ngelakuin hal itu"
Acha mengangguk, ia benar benar sesak, ia baru saja menerima kenyataan yang begitu pahit . Apa salah keluargan nya sehingga mendapatkan berita yang seburuk itu
Evan menariknya ke dalam pelukan. Bukan pelukan posesif. Bukan pelukan untuk menguasai. Tapi pelukan yang mencoba menenangkan badai. Tangannya mengelus lembut pucuk kepala Acha, seperti biasa—gerakan kecil yang entah kenapa selalu berhasil membuat Acha merasa sedikit aman.
"Acha jangan gegabah,Byan belum bisa kakak ajak bicara" ucap evan lembut serai mengelus pucuk kepala evan
"Acha milik kakak, kakak gak mau tau, mulai sekarang gak ada yang boleh ambil acha dari kakak"
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAVAN [END]
AksiAcha Syaqila Putri terlihat seperti remaja biasa. Senyum manis, sikap manja, dan hidup yang tampak normal. Padahal semua itu bohong. Di balik wajah polosnya, Acha menyimpan kemampuan mematikan-hasil latihan dari orang yang sama yang pernah menghancu...
![CHAVAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/357387260-64-k821142.jpg)