Acha Syaqila Putri terlihat seperti remaja biasa. Senyum manis, sikap manja, dan hidup yang tampak normal.
Padahal semua itu bohong.
Di balik wajah polosnya, Acha menyimpan kemampuan mematikan-hasil latihan dari orang yang sama yang pernah menghancu...
happy reading . . "Meskipun tubuhku terkapar, dan jiwaku meratap dalam kesakitan, ingatlah... selama masih ada detak jantung, harapan untuk bangkit tak akan pernah padam." . .
Pertarungan malam ini semangkin sangat sengit. Acha sudah menumbangkan hampir sepuluh orang, membuat mereka luka-luka parah, bahkan empat di antaranya nyaris terpisah badannya.
"anj**g kalian semua" ucap acha terus menghajar lawannya
"ACHA AWASS!" ucap clarissa dan langsung berlari melindungi acha darii pukulan benda tumpul
"bukkk.."
Pukulan itu tepat mengenai leher Clarissa, membuatnya langsung pingsan. "Anj**g woii berhentiii!" Acha sudah berteriak histeris melihat pemandangan itu, karena Clarissa terus dipukuli tanpa ampun. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena saat itu Acha tengah melawan empat musuh di hadapannya. Bukankah itu sangat pengecut?
Rama yang melihat itu langsung berlari ia benar benar sangat emosi bagaimanapun clarissa adalah pacarnya walaupun pacarannya sangat prik
"BAJINGAN!"
Rama seakan ingin sekali menangis ia melihat tubuh clarissa yang sudah melemas dan tak berdaya lagi
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rama buru buru memindahkan clarissa ke tempat yang lebih aman. disatu sisi evan sedari tadi berusaha untuk bangkit dari tempat persembunyiannya, ia terus mengumpulkan tekat untuk bangun dan melawan sanjaya,ia tidak bisa diam saja bagaimana pun penyebab nya adalah evan sendiri
Acha mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang menggila. Gerakan anak buah Sanjaya di sekelilingnya memang lambat, hampir seperti tarian, namun jumlah mereka terus bertambah, mengepungnya perlahan.
Ia terfokus pada dua lawan di depannya, mengamati setiap gerak-gerik mereka dengan cermat, seolah waktu melambat. Gemuruh pertarungan anak-anak geng The Lion yang membara di sekeliling mereka seolah sirna, tertelan fokusnya pada ancaman langsung.
Namun, di antara sela-sela kekacauan itu, sebuah bayangan lain bergerak. Tanpa suara, tanpa peringatan, sebilah pisau berkilat dari belakang, mengarah tepat ke punggung Acha yang lengah.
Napas Acha tertahan. Ia bisa merasakan hembusan angin dingin dari mata pisau itu. Tepat sebelum ujungnya menyentuh kulitnya, sebuah tangan kokoh mencengkeram pergelangan penyerang itu dengan kecepatan kilat.
Sosok Evan berdiri di sana, tatapannya dingin dan tajam, seolah baru saja muncul dari ketiadaan. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menarik penyerang itu menjauh, lalu mengempaskan tinju kuat ke arah rahangnya.
Suara berdebam itu langsung menarik atensi. Seketika, semua mata di arena pertarungan, baik dari pihak Sanjaya maupun The Lion, tertuju pada Evan. Gerakan mereka membeku, seolah menyaksikan kemunculan tak terduga yang telah mengubah seluruh dinamika pertarungan.