Pagi itu datang dengan cahaya yang lembut.
Sinar matahari menyelinap masuk lewat sela-sela gorden kamar Acha, jatuh tepat di wajahnya. Udara masih dingin, tenang, dan segar—pagi yang jarang terasa sesempurna ini.
Acha membuka mata dengan senyum kecil.
Hari ini… Papa dan Mama pulang.
Ia bangkit dari tempat tidur dengan perasaan ringan. Langkahnya kecil tapi cepat, seperti anak kecil yang tak sabar menunggu hadiah. Bahkan saat menyisir rambut dan merapikan diri, senyum itu tak juga hilang dari wajahnya.
Dapur sudah ramai oleh aroma teh hangat. Acha duduk di meja makan sambil sesekali melirik jam, jarinya mengetuk pelan permukaan meja.
“Sebentar lagi,” gumamnya sendiri.
Kerinduan itu terasa manis, bukan menyakitkan. Rasanya seperti menahan napas sebelum pelukan panjang yang sudah lama ditunggu.
Byan sempat muncul sebentar pagi itu, sudah rapi dengan jaket hitam khasnya.
“Abang berangkat dulu,ya Cha,” ucapnya sambil meraih kunci. “Doain seleksi lancar.”
Acha mengangguk cepat.
“Hati-hati, Bang. Jangan galak-galak amat sama calon anggota.”
Byan terkekeh kecil sebelum pergi.
Rumah kembali sunyi.
Jam terus bergerak. Pagi perlahan berubah menjadi siang. Matahari naik lebih tinggi, dan rasa bosan mulai menyelinap ke sela-sela hati Acha.
Akhirnya, ia menghubungi para Queen The Lion.
Tak lama, rumah yang tadinya sepi berubah ramai. Tawa pecah, suara langkah, obrolan random, dan candaan yang tak jelas arah. Acha ikut tertawa, ikut ribut, ikut larut—seolah pagi itu benar-benar sempurna.
Namun di tengah semua itu…
Acha tiba-tiba terdiam.
Tangannya refleks meraih ponsel. Layarnya menyala.
13.54.
Alisnya berkerut pelan.
Biasanya… Papa dan Mama tidak pernah telat.
Senyumnya memudar sedikit. Bukan panik—belum. Hanya perasaan aneh yang menggelitik di dada. Seperti angin dingin yang tiba-tiba lewat di pagi yang seharusnya hangat.
“Kenapa belum sampai, ya…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Tawa di sekelilingnya masih ramai. Tapi pagi yang tadi terasa cerah, kini perlahan berubah sunyi di hati Acha.
Dan entah kenapa…
ia merasa pagi ini menyimpan sesuatu yang belum ia pahami.
"Cha, lo kenapa?" tanya Billa, bingung melihat raut wajah Acha.
Acha tersenyum tipis, mencoba menenangkan diri. "Kok gue ngerasa kayak enggak enak gitu, ya?"
"Maksud lo, Cha?" sahut Kesya, tambah bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAVAN [END]
AksiAcha Syaqila Putri terlihat seperti remaja biasa. Senyum manis, sikap manja, dan hidup yang tampak normal. Padahal semua itu bohong. Di balik wajah polosnya, Acha menyimpan kemampuan mematikan-hasil latihan dari orang yang sama yang pernah menghancu...
![CHAVAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/357387260-64-k806921.jpg)