BAB 06. MALAM YANG MENGUBA SEGALANYA

716 31 1
                                        

“Bos, gue udah tahu Acha di mana,” ucap Gilang dengan napas masih tersengal. Nada suaranya berat, seolah kabar itu bukan sekadar informasi, tapi bom waktu.

Evan langsung menoleh tajam. “Langsung aja kita ke sana.”

“Jangan gegabah.” Aidil menggeleng keras. “Acha diculik. Lokasinya dekat hutan. Dan satu lagi…” Ia berhenti sejenak, menelan ludah. “ALL STAR.”

Nama itu langsung membuat udara terasa lebih dingin.

“Ini nggak bisa dibiarin,” sahut Bagas, tangannya mengepal, rahangnya mengeras menahan amarah.

Mulky membanting telapak tangannya ke meja. “Gue nggak terima! Kenapa ALL STAR malah nyulik Acha? Mau apa mereka?!”

Byan berdiri, matanya memerah, napasnya berat. “Gue bakal suruh semua anggota THE LION kumpul di aula markas. Sekarang.”

Tak ada yang membantah.

Kini Byan dan Evan berdiri saling berhadapan, menyusun rencana dengan kepala panas dan hati yang kacau. Di balik ketenangan yang dipaksakan, amarah Byan mendidih tak terbendung. Otaknya terus berputar pada satu hal yang sama.

Menculik Acha?

Tangannya bergetar, bukan karena takut—melainkan karena marah.

“Dasar pengecut,” gumamnya lirih, namun penuh racun. “Kalau berani, hadapi gue. Jangan sentuh adik gue.”

Dan malam itu, THE LION tidak lagi bersiap untuk sekadar bertahan—
mereka bersiap untuk perang.

*^*

“E–eughh…”

Acha terbangun perlahan. Kepalanya terasa berat, berdenyut seperti dipukul berulang kali. Pandangannya buram, yang ia rasakan pertama kali adalah dinginnya tanah dan bau lembap hutan.

“Gue… di mana…?”

Tawa kasar langsung menyambutnya.

“Hahahahaha… lo nggak bakal bisa lari dari sini sebelum THE LION datang.”

Acha tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Nama itu terdengar asing di telinganya.

*The Lion? Siapa itu…?*

Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya tertahan. Tali kasar melilit pergelangan tangannya, diikat kuat di belakang kursi. Setiap gerakan kecil membuat kulitnya terasa perih.

“Siapa THE LION?” suara Acha bergetar, panik mulai merayap. “Gue nggak kenal! Lepasin gue!!”

Acha memberontak. Tali itu semakin menekan, membuat pergelangannya memerah. Napasnya memburu, air mata mulai jatuh tanpa bisa ditahan.

Namun yang ia dapatkan hanyalah tatapan dingin.

Plakk!

Tamparan keras mendarat di pipinya.

“Aaahkk!!”

Kepalanya terhempas ke samping. Rasa panas menjalar cepat, disusul nyeri yang membuat penglihatannya berkunang-kunang.

Tubuh Acha melemas. Dunia di sekelilingnya perlahan menghitam, lalu gelap.

Laki-laki itu menatap tubuh Acha yang tak bergerak dengan senyum puas.

CHAVAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang