BAB 16. RUMAH YANG PULANG TANPA SUARA

399 19 5
                                        

HAPPY READING
.
.
"Kehilangan itu bukan soal kuat atau nggak.
Kadang kita cuma capek pura-pura baik-baik aja."
.
.

Di rumah sakit semua anggota thelion tengah berduka,dengan kehilangannya Argantara dan sella, setelah penemuan Arga selang 5 menit setelah itu sella ikut menyusul Arga pergi.

"M__Mah
p_pah Acha gak bisa" acha benar benar sangat berantakan, ia tidak bisa seperti ini 'kehilangan dua orang yang paling ia sayangain sekaligus?' oh acha tak sekuat itu

Byan yang melihat acha merasa bersalah, ia sudah membentak acha, disatu sisi ia juga sedih, kecewa, marah karena tidak bisa menyelamatkan Arga dan sella.

"Coba aja gue bisa nemuin mama papa lebih cepat pasti gak gini" batin byan merasa bersalah

Kini pun setelah pembersihan jenazah di rumah sakit, jenazah harus dibawa pulang untuk dilakukannya rukun rukunnya.

Pemakaman berlangsung pagi itu.

Langit mendung, tapi tidak hujan. Seolah cuaca pun ikut menahan diri. Tanah masih lembap, bau tanah basah bercampur dengan wangi bunga tabur.

Acha berdiri di antara Byan dan beberapa anggota THE LION. Ia mengenakan pakaian hitam sederhana. Wajahnya pucat, matanya bengkak, tapi air matanya sudah tidak banyak tersisa.

Saat kain kafan diturunkan, Acha refleks menggenggam lengan Byan.

"Bang..."
Suaranya hampir tidak terdengar.

Byan mengangguk pelan, meski dadanya sendiri terasa sesak.

Doa dibacakan. Suaranya lirih, berbaur dengan angin pagi. Acha menunduk, memejamkan mata, berusaha fokus pada setiap kata. Tapi pikirannya terus melayang-ke pagi-pagi biasa, ke suara Mama yang selalu cerewet, ke Papa yang suka bercanda.

Tanah mulai ditimbun.

Satu sekop.
Dua sekop.

Setiap bunyi tanah jatuh terdengar terlalu keras di telinganya.

Acha menelan ludah. Dadanya terasa kosong. Bukan karena tidak sedih, tapi karena terlalu penuh sampai tidak tahu harus merasakan apa.

"Mah... Pah..."
Hanya itu yang bisa ia ucapkan dalam hati.

Saat pemakaman selesai, satu per satu orang mulai pergi. Ada yang menepuk bahu, ada yang mengucap sabar. Acha hanya mengangguk, tersenyum tipis, meski rasanya asing-seperti sedang memainkan peran.

Sebelum pergi, Acha menoleh sekali lagi ke arah makam.

Ia tidak menangis.
Ia hanya berdiri diam lebih lama dari yang lain.

---

Perjalanan pulang terasa sunyi.

Mobil melaju pelan. Tidak ada yang berbicara. Radio sengaja dimatikan. Hanya suara mesin dan angin yang menemani.

Acha menatap keluar jendela. Jalanan yang biasa mereka lewati kini terasa berbeda. Pohon, toko, lampu lalu lintas-semuanya masih ada, tapi rasanya tidak sama.

"Bang..."
"Iya, Cha?"

"Kita pulang ke rumah yang sama, tapi rasanya beda ya."

CHAVAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang