HAPPY READING
.
.
"Kelemahan terbesar dari seorang pria sejati bukanlah saat ia menangis, melainkan saat ia tidak lagi memiliki air mata untuk orang yang paling ia cintai."
.
.
Di tengah bau obat yang menyengat dan dinginnya ruang perawatan, sudah hampir dua minggu Acha terperangkap dalam koma, tanpa ada tanda-tanda ia akan kembali. Kenyataan itu semakin perih tatkala dokter menyatakan bahwa secara medis, Acha bisa dibilang sudah tiada, menyisakan hanya kepiluan di balik tirai yang membatasi.
Evan tahu betul arti kata-kata dokter itu. Namun, ia menolak mentah-mentah diagnosis klinis yang dingin. Bagi Evan, selama jantung Acha masih berdetak samar dan tubuhnya terasa hangat, Acha masih ada. Ia menguatkan cengkeramannya pada tangan Acha, seolah melalui sentuhan itu ia bisa menyalurkan seluruh kekuatannya.
Sumpah yang ia ucapkan di dalam hati kini semakin keras: ia akan tetap di sini, menjadi jangkar bagi Acha, sampai gadis itu memutuskan untuk kembali-atau sampai ia benar-benar tidak bisa bernapas lagi. Ia menutup mata, mencoba mengabaikan rasa sakit di lututnya, fokus hanya pada keajaiban yang ia yakini sebentar lagi akan terjadi.
Tekad Evan untuk bertahan sedikit diringankan oleh kedatangan kawan-kawannya. Setelah kondisi mereka mulai membaik, satu per satu anggota The Lion datang berkumpul di ruangan itu, termasuk Rama, dan para Queen The Lion yaitu Billa, Liza, Keisya, dan Clarissa. Mereka duduk bersama, saling menyemangati dan mulai berbagi kisah-kisah lama dari markas.
Sementara itu, sebagian anggota The Lion harus kembali, mengambil peran baru. Mereka bergerak menuju Kota Pratama Jaya yang juga memiliki satu markas penting di sana. Aidil dan Bara dipercayakan sebagai ketua, mengamankan daerah itu. Yang tersisa dan bertahan di ruangan ini, berbagi keheningan bersama Evan dan Acha, hanyalah Bagas, Byan, Arya, Gilang, Laskar, dan Mulky. Selain itu, Aidil juga hadir di tengah mereka, karena ia telah memutuskan untuk pindah dan menetap sepenuhnya di Kota Indra Kencana ini.
Dalam suasana keakraban itu, Bagas tiba-tiba melontarkan lelucon ringan. "Yakin kalian masih lanjutin pacarannya kalian kan sepupuan?" tanyanya kepada Clarissa dan Rama.
Mulky menyahut dengan tawa terbahak. "Yaelah, mana bener lagi, Cok! Mampus kalian, cinta kehalang sepupu!"
Clarissa langsung membalas tak terima. "Gila kalian! Lagian gue enggak ada rasa sama dia, dia sendiri yang maksa gue jadi pacarnya!"
Tentu, plot twist ini awalnya sukses membuat mereka terkejut, karena yang mereka tahu selama ini hanya Evan dan Rama yang memiliki hubungan sepupu, dengan kedatangannya sanjaya wiraga mampu membuat semua ini sangat amat membuat mereka syok berat dan juga dengan kenyataan Clarissa memiliki ikatan darah persepupuan dengan evan dan rama.
(Maaf ya buat para readers, awalnya aku kepikiran mau pakai nama kota yang udah ada di Indonesia buat latar ceritaku. Tapi, karena alurnya nanti banyak banget adegan kriminal sama aksi-aksi yang melanggar hukum, aku jadi mikir mending nama kotanya aku samarin aja, atau malah aku bikin kota khayalan sendiri. Biar lebih bebas aja gitu ngembangin ceritanya tanpa harus mikirin lokasi aslinya. Hehehe.)
Rama dan Clarissa diam-diam menyelinap keluar. Keduanya sama-sama merasa tercekik oleh keharusan bersikap normal di depan anggota The Lion lainnya. Mereka memilih atap rumah sakit sebagai pelarian. Angin malam Kota Indra Kencana yang dingin menerpa wajah mereka, membawa bau asap rokok yang baru saja dihisap Rama.
Clarissa memecah keheningan, suaranya terdengar datar dan dingin, mencerminkan kejernihan pikirannya setelah rahasia keluarga terungkap.
"Udah lah, Ram. Dari awal juga kita main-main. Kenapa lo enggak mau gue putusin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAVAN [END]
AcciónAcha Syaqila Putri terlihat seperti remaja biasa. Senyum manis, sikap manja, dan hidup yang tampak normal. Padahal semua itu bohong. Di balik wajah polosnya, Acha menyimpan kemampuan mematikan-hasil latihan dari orang yang sama yang pernah menghancu...
![CHAVAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/357387260-64-k821142.jpg)