Empat hari.
Empat hari yang terasa seperti empat bulan.
Akhirnya Askar diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Langkahnya masih pelan, wajahnya pucat, tapi setidaknya ia sudah berdiri dengan kakinya sendiri. Udara sore menyambutnya saat pintu otomatis rumah sakit terbuka.
Anak-anak THE LION menunggu di luar.
Tak ada sorakan.
Tak ada candaan.
Hanya rasa lega yang diam-diam menyesakkan dada.
Acha berdiri paling depan. Matanya memperhatikan Askar dengan saksama, memastikan dia benar-benar baik-baik saja.
“Jangan sok kuat lagi,” ucapnya datar.
Tapi nada suaranya tidak setajam biasanya.
Askar hanya tersenyum tipis.
Di saat yang sama—
Di bawah markas THE LION, suasananya berbeda.
Ruang bawah tanah itu tetap lembap dan dingin. Lampu redup menggantung, cahayanya menggambar bayangan panjang di tembok kusam. Udara terasa berat, seakan waktu berjalan lebih lambat di sana.
Anggota All Star masih berada di situ.
Duduk bersandar.
Terdiam.
Kehilangan banyak hal—tenaga, harga diri, dan kesombongan mereka.
Mereka tidak dibunuh.
Tidak juga dibebaskan.
Dibiarkan hidup.
Hidup untuk memikirkan semuanya.
Langkah kaki terdengar dari tangga besi.
Beberapa kepala terangkat refleks.
Yang turun adalah Liza dan Tio, membawa kardus makanan dan air minum.
Tanpa banyak bicara, mereka membagikannya satu per satu.
“Ambil,” ucap Liza singkat.
Tak ada nada mengejek.
Tak ada senyum puas.
Hanya kewajiban.
Karena meskipun marah, meskipun dendam, THE LION masih punya batas.
Mereka mungkin keras.
Tapi bukan kejam tanpa alasan.
Raka duduk di sudut. Tatapannya kosong menatap lantai. Untuk pertama kalinya, tak ada aura menantang di dirinya.
Sunyi menguasai ruangan itu lagi.
Hanya suara bungkus makanan dibuka perlahan.
Di atas, di ruang utama markas, Acha berdiri memandangi tangga menuju bawah tanah.
Byan mendekat.
“Empat hari,” gumamnya.
Acha mengangguk pelan.
“Empat hari Askar lo bikin di rumah sakit.”
Suasana di antara mereka hening.
“Gue gak mau kita jadi monster,” lanjut Acha pelan. “Tapi gue juga gak mau mereka lupa.”
"wahh, masih hidup lo?" tanya Askar, suaranya sedikit tersulut emosi, meskipun tubuhnya belum pulih sepenuhnya.
"Lepasin kita, anjing!" teriak Nando, emosinya meledak.
"Gue tau motif kalian buat bales dendam, tapi gak usah main keroyokan, basi, murahan tau gak?!"
ucap acha dengan nada tenang seperti bersahabat.
"Setidaknya kalian bisa ngumpulin kita jadi satu kaya gini trus lakuin sesuka hati dan semau kalian, kaya gini" imbun billa.
"kaya gini?" ucap Byan
shapp..
"anjing"
Byan serasa benar benar ingin bermain, ia melempar pisau ke arah mereka hampir saja mengenai salah satu anggota All start.
Dari tatapan geng All start jelas tak terima, mereka menatapa anak anak geng Thelion dengan tatapan membunuh.
"suatu saat nanti pasti akan terjadi di mana kalian akan gua BUNUH" ucap raka sengaja menekan kata 'bunuh'.
Acha dan para anggota The Lion yang melihat itu hanya memutar bola mata malas, seolah ucapan Nando hanyalah angin lalu.
"Kalau kita lepas, bisa janji enggak?" tanya Liza, nadanya meremehkan, menyiratkan ejekan.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAVAN [END]
ActionAcha Syaqila Putri terlihat seperti remaja biasa. Senyum manis, sikap manja, dan hidup yang tampak normal. Padahal semua itu bohong. Di balik wajah polosnya, Acha menyimpan kemampuan mematikan-hasil latihan dari orang yang sama yang pernah menghancu...
![CHAVAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/357387260-64-k806921.jpg)