BAB 03. HATI YANG MULAI RIBUT

1.3K 41 2
                                        

HAPPY READING
.
.
.

Bel istirahat berbunyi nyaring, memecah keheningan kelas. Para siswa berhamburan keluar, memenuhi koridor dengan tawa, teriakan, dan langkah tergesa. Suasana sekolah yang semula tenang mendadak riuh.

Namun Acha memilih tetap duduk di bangkunya. Kelas perlahan kosong, menyisakan suara kipas angin yang berdecit pelan. Ia mengeluarkan ponsel dari saku, menatap layar yang masih menyala. Sebuah nama membuat dadanya mengencang.

Raka.

Jarinya sempat ragu sebelum akhirnya mengetik balasan singkat. Setelah pesan terkirim, Acha menghela napas panjang, seolah baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan. Perkataan Keisya semalam kembali terngiang, menusuk pikirannya tanpa ampun.

Ia meletakkan ponsel itu di atas meja.

"Siapa, Cha?" tanya Keisya yang baru kembali ke kelas.

"Raka."

Keisya langsung menegang. "Ngapain dia nge-chat lo?"

"Katanya cuma buat save contact doang," jawab Acha santai-terlalu santai untuk menutupi kegelisahannya.

Melihat wajah Keisya yang masih tak tenang, Acha menyenggol lengannya pelan.
"Tenang, aman kok."

Padahal di balik nada ringannya, ada rasa takut yang ia tekan dalam-dalam.

Keisya mengangguk, meski jelas belum sepenuhnya percaya. "Eh, ngomong-ngomong... lo dijemput, Cha?"

Acha mendengus kesal. "Iya. Gara-gara tangan gue kegores dikit, motor gue malah disita."

Nada kesalnya tak bisa menyembunyikan senyum kecil yang tiba-tiba muncul di bibirnya.

Keisya menyipitkan mata. "Kenapa lo senyum-senyum?"

Acha menggeleng cepat. "Enggak ada."

"Kesambet apa lo?"

"Apaan sih."

"Alah... kata anak-anak tadi lo diantar sama cowok ganteng. Siapa?" desak Keisya.

Acha tertawa kecil, menggeleng-geleng.
"Teman abang gue."

"Yakin cuma teman?" Keisya menaikkan alis.

Acha terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata lirih, "Sebenarnya... gue suka sama dia."

Keisya berhenti melangkah. "Wah."

"Cuma ya gitu," lanjut Acha cepat, seolah takut perasaannya terdengar terlalu jelas.

Keisya menepuk pundaknya. "Sabar ya, bestie. Semoga aja cinta lo nggak bertepuk sebelah tangan."

"Dasar Keisya anjing!" Acha mendengus.

"Ya elah, didoain juga."

"AAMIINNNN!"

"Bertepuk sebelah tangan," bisik Keisya sengaja.

Melihat wajah Acha yang kesal, Keisya tertawa renyah dan berjalan lebih dulu.

"Hahahaha... Keisya anjing!"

---

Saat jam pulang berbunyi, Acha tak menunggu di gerbang seperti biasanya.

Ia justru yang ditunggu.

"Gue ditunggu?" gumamnya kaget saat melihat Evan berdiri tak jauh dari gerbang sekolah.

"Ciee... bestie gue dijemput tepat waktu," goda Keisya sambil tertawa.

"Apaan sih," Acha menunduk, pipinya terasa hangat.

"Udah, Cha. Samperin sana."

"Iya, gue duluan ya."

CHAVAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang