Siang itu, rumah Acha terasa berbeda.
Ada tawa yang lebih hangat, ada tatapan yang lebih dalam, dan ada beban yang pelan-pelan berubah menjadi tekad. Liza dan Billa datang bukan sekadar sebagai tamu—mereka datang sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang malam nanti akan mengubah banyak hal.
Acha telah menceritakan semuanya.
Tentang penculikan. Tentang ALL STAR. Tentang THE LION.
Tentang luka yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Kesya, Liza, dan Billa mendengarkan tanpa menyela.
Tak ada ekspresi terkejut berlebihan—hanya rahang yang mengeras, mata yang menggelap, dan genggaman tangan yang semakin kuat.
Mereka tidak kasihan.
Mereka marah.
Dan kemarahan itu bukan untuk menjatuhkan Acha—
melainkan untuk berdiri di sisinya.
THE LION sendiri tak pernah meragukan kemampuan mereka.
Cerita yang sampai ke telinga Byan dan Evan bukan cerita kosong. Balapan? Mereka sudah melahapnya sejak lama. Menang? Itu bukan kebetulan—itu hasil disiplin dan luka yang ditempa diam-diam.
Ratu balap mereka?
Acha dan Billa.
Saat pertama kali mendengarnya, Byan sempat tertawa kecil—tak percaya.
Namun kenyataan menamparnya pelan.
Acha bukan hanya adiknya yang manja.
Ia adalah badai yang selama ini memilih diam.
Dan Billa?
Ia berdiri sejajar dengan Acha.
Tenang, tajam, dan tak pernah ragu saat harus melangkah ke depan.
Kesya.
Liza.
Acha.
Billa.
Empat nama.
Empat perempuan.
Empat kekuatan.
Mereka menguasai bela diri bukan untuk pamer, melainkan untuk bertahan. Untuk memastikan bahwa tak ada lagi rasa tak berdaya seperti di masa lalu.
Byan masih mengingat jelas perasaan herannya.
Acha jarang keluar rumah—atau setidaknya begitu yang ia kira.
Nyatanya, Acha punya ruang sendiri. Ruang sunyi tempat ia berlatih, jatuh, bangkit, dan menguat tanpa sorotan siapa pun.
Malam pun tiba.
Aula markas THE LION kembali dibuka.
Tempat itu bukan sekadar bangunan—ia adalah saksi sumpah, rahasia, dan keputusan-keputusan besar. Tidak semua anggota pernah menginjakkan kaki di sana. Aula itu hanya digunakan saat sesuatu benar-benar penting terjadi.
Dan malam ini—
adalah salah satunya.
Gelas-gelas diangkat.
Bukan untuk mabuk.
Melainkan untuk menandai awal.
“WELCOME, QUEEN THE LION.”
Cing.
Bunyi gelas beradu terdengar sederhana, namun maknanya berat.
Sejak detik itu, tidak ada lagi jarak.
Tidak ada lagi keraguan.
Para ratu THE LION berdiri sejajar dengan para singa.
Bukan sebagai hiasan.
Bukan sebagai simbol kosong.
Melainkan sebagai bagian dari inti.
Tawa pecah.
Percakapan mengalir.
Keakraban terjalin cepat, seolah mereka memang ditakdirkan berada di lingkaran yang sama sejak awal.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAVAN [END]
AzioneAcha Syaqila Putri terlihat seperti remaja biasa. Senyum manis, sikap manja, dan hidup yang tampak normal. Padahal semua itu bohong. Di balik wajah polosnya, Acha menyimpan kemampuan mematikan-hasil latihan dari orang yang sama yang pernah menghancu...
![CHAVAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/357387260-64-k821142.jpg)