BAB 17. HARUS TETAP BERJALAN

399 18 0
                                        

Pagi datang tanpa suara.

Tidak ada aroma masakan dari dapur. Tidak ada langkah kaki Mama yang biasanya lebih dulu bangun. Rumah itu terlalu rapi, terlalu sunyi, seolah ikut berduka bersama penghuninya.

Acha duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela. Cahaya pagi masuk perlahan, menyentuh wajahnya yang masih terlihat lelah. Matanya sembab, tapi tidak ada air mata yang jatuh.

Bukan karena ia tidak ingin menangis.
Ia hanya sudah terlalu capek untuk menangis.

Di meja kecil, tergeletak daftar alat ospek yang ia tulis semalam. Kertas itu sedikit terlipat, tintanya agak berantakan—seperti pikirannya.

Acha memegang kertas itu lama.
Ada rasa bersalah karena hidup tetap berjalan, sementara Mama dan Papa tidak lagi ada.

“Cha harus jalan,” gumamnya pelan.
Entah untuk siapa.

Ia berdiri, merapikan rambut seadanya. Seragam belum dikenakan, tas belum disentuh. Ia hanya berdiri di tengah kamar, mencoba mengumpulkan dirinya sendiri.

Di luar kamar, rumah tetap sunyi.
Terlalu sunyi untuk sebuah pagi.

Acha menarik napas panjang. Dadanya masih terasa berat, tapi kali ini ia tidak memukulnya, tidak juga menangis. Ia hanya diam—belajar berdamai dengan rasa sakit yang belum pergi.

Hari ini bukan tentang kuat.
Hari ini tentang bertahan.

Dan untuk pertama kalinya sejak kepergian Mama dan Papa, Acha memilih satu hal sederhana:
tidak menyerah, meski hatinya belum siap.

"Cha besok udah bisa masuk kampus kan? " ucapa Byan menghampiri acha yang sedang sarapan

"Iya bang, besok ospek pertama"

"Udah dibeli peralataannya belum? "
Acha menggeleng.

"Yaudah mau abang temenin?"

"Gak usah bang acha sama keisya"
Byan hanya mengangguk

Setelah sarapan selesai, Acha langsung meraih tasnya dan berlari kecil ke luar rumah. Keisya sudah menunggunya di depan, berdiri sambil memainkan ponsel.

“Bang, Acha pergi dulu ya. Assalamu’alaikum… eh—bilang sama Ma—”

Kalimat itu terhenti di udara.

Acha membeku.
Napasnya tercekat.
Baru kali ini lidahnya terasa begitu berat hanya untuk menyebut satu kata.

Byan yang menyadari hal itu langsung melangkah mendekat dan memeluk Acha tanpa berkata apa-apa lebih dulu.

“Wa’alaikumussalam,” ucapnya pelan.
“Hati-hati ya, Cha. Jangan sedih lagi… ada abang.”

Acha mengangguk di dalam pelukan itu. Bibirnya melengkung, tapi senyumnya getir—senyum orang yang sedang berusaha baik-baik saja.

Byan melepas pelukannya perlahan.

“Yaudah,” kata Acha akhirnya.
“Acha pergi dulu.”

Ia melangkah keluar rumah.
Pagi itu tetap terasa kosong, tapi setidaknya Acha tahu—
ia tidak berjalan sendirin.

***

Sesampainya di toko peralatan tersebut acha dan keisya langsung mencari peralatannya untuk ospek

Tidak butuh waktu lama, akhirnya keisya dan acha sudah menemukan apa yang ia cari, saat ingin membayar barang tersebut tiba tiba datang seseorang perempuan yang menyenggolnya dengan kasar.

CHAVAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang