BAB 01. PERTEMUAN TAK TERDUGA

3.5K 69 3
                                        

HAPPY READING
.
.
"Ia pikir hari itu akan berlalu begitu saja.
Nyatanya, hidup sedang membuka halaman baru—
perlahan, tanpa izin."
.
.

Hari telah beranjak sore. Jarum jam seakan mengingatkan bahwa Acha harus segera pulang. Langit perlahan dihiasi semburat jingga, membentang lembut di antara awan tipis—pertanda matahari tak lama lagi akan tenggelam. Udara yang tadinya panas mulai berubah sejuk, sementara aktivitas warga perlahan melambat, beralih dari hiruk-pikuk siang menuju ketenangan malam.

Acha Syaqila Putri berdiri di tepi halaman sekolah, mengenakan helm sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Di usianya yang menginjak delapan belas tahun, sebagai siswi kelas dua belas SMA Mentari, ia dikenal sebagai gadis manja, ceria, dan mudah akrab. Tingkahnya sering mengundang tawa, membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman.

“Ya udah, gue balik ya, Sya,” ucap Acha santai.

“Hati-hati lo!” sahut Keisya dari kejauhan.

Keisya Amora—sahabatnya sejak lama—selalu punya energi berlebih. Usianya sebaya dengan Acha, sama-sama masih pelajar, dan hampir tak pernah kehabisan semangat.

Acha hanya mengangguk singkat sebelum menyalakan motor. Suara mesin menyatu dengan lalu lintas sore yang mulai lengang. Ia melaju dengan kecepatan sedang, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Ada rasa lega yang samar—seolah hari yang panjang akhirnya memberi ruang untuk bernapas.

“Ke supermarket dulu aja deh. Pengen beli jajan,” batinnya ringan.

Tanpa ragu, Acha membelokkan motornya menuju supermarket terdekat. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke aspal yang mulai dingin. Namun, saat hendak menyeberang jalan, kelalaiannya menjadi awal dari sebuah kejadian yang tak pernah ia duga.

Ia tidak menoleh ke kanan maupun kiri.

Tiiinnn!

“Woy!”

Acha tersentak.

BRAKK!

Tubuhnya terhempas ke aspal. Dunia terasa berputar cepat, suara di sekitarnya mendadak samar sebelum semuanya terasa gelap sesaat.

“Aaaah!” pekiknya nyaring.

Rasa perih langsung menjalar dari lengannya. Sakitnya menusuk, membuat napasnya tersengal dan dadanya terasa sesak.

“Duh… sakit banget,” lirih Acha sambil menahan nyeri.

“Lo nggak apa-apa?” tanya seorang laki-laki dengan nada panik.

“Sakit lah! Lu nggak lihat tangan gue luka?” bentak Acha, emosinya bercampur antara kaget dan kesal.

Alih-alih marah, laki-laki itu justru terkekeh kecil.

“Perasaan lu deh yang nyebrang nggak lihat-lihat. Kok malah marah-marah?” balasnya santai.

Acha terdiam. Kata-kata itu menampar kesadarannya. Ia menghela napas pendek.

“Ya udah… gue minta maaf,” ucapnya pelan.

Mereka menepi ke depan supermarket agar tidak mengganggu lalu lintas. Lampu etalase menyinari wajah laki-laki itu samar-samar—posturnya tegap, sorot matanya tenang, namun menyimpan kesan waspada.

“By the way, nama lo siapa?” tanyanya.

“Kepo lo,” jawab Acha judes.

“Emang nggak boleh tahu?”

“Boleh sih, tapi buat apa?”

“Ya… mau berteman aja. Boleh, kan?”

Acha mendengus kecil. “Oh… berteman. Gue Acha.”

CHAVAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang