Pagi itu terasa sunyi, meski matahari sudah naik perlahan. Acha melangkah kecil ke arah dapur dengan langkah malas, masih mengenakan wajah setengah mengantuk. Begitu melihat sosok yang ia cari, bibirnya langsung melengkung kecil. Tanpa sadar, ia mendekat, berdiri di samping Byan seperti anak kecil yang butuh sandaran. Ada rindu yang menggantung di dadanya—rindu pada rumah yang lengkap, pada suara yang belakangan hanya bisa ia bayangkan. Suaranya keluar lirih, manja, dan penuh harap, seolah pagi ini ia ingin memastikan bahwa ia tidak sendirian.
“Abang….”
Suara Acha terdengar lembut, nyaris seperti bisikan, mengawali pagi yang masih setengah mengantuk. Gadis itu berdiri di ambang dapur dengan rambut sedikit berantakan, matanya mencari satu sosok yang selalu memberinya rasa aman.
“Pagi,” balas Byan singkat, tapi sorot matanya hangat.
“Pagi, Bang. Papa sama Mama kapan pulang, Bang?” tanya Acha lagi. Nadanya manja, menyimpan rindu yang tak ia sembunyikan.
“Katanya seminggu lagi.”
Jawaban itu membuat bibir Acha langsung mengerucut. Wajahnya jelas menunjukkan kecewa. Ia menunduk kecil, seperti anak yang harapannya baru saja ditunda. Melihat itu, Byan refleks mengusap puncak kepala adiknya dengan penuh sayang.
“Di sini ada Abang sama The Lion, Cha,” ucapnya menenangkan.
Acha mendongak. Senyum kecil langsung muncul di wajahnya, rasa cemberutnya seketika sirna. Ia mengangguk pelan, lalu mendekat sedikit ke Byan—manja tanpa sadar.
Kini Acha dan Byan bersiap berangkat sekolah tanpa sarapan karena sama-sama tak berselera. Saat motor mereka melaju keluar pagar, pandangan Acha langsung tertuju pada satu sosok yang berdiri santai di sana.
“Loh, Kak Evan!?” serunya terkejut.
Evan hanya membalas dengan senyum tipis. Byan menatap sahabatnya itu dengan ekspresi bertanya.
“Gue mau jemput Acha,” kata Evan santai, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Acha mengernyit bingung. *Untuk apa? Acha kan punya motor,* batinnya.
Namun Byan yang peka langsung mengambil keputusan.
“Acha sama Evan aja sana.”
Tanpa ragu, Acha menurut. Lagipula, ia memang selalu senang berangkat bersama Evan.
Setibanya di sekolah, Acha langsung jadi pusat perhatian. Dua motor yang berhenti bersamaan saja sudah cukup mengundang tatapan, apalagi dengan aura The Lion yang tak pernah gagal mencuri sorotan.
“Hei… kenapa cemberut?” tanya Evan lembut.
“Acha bosan, Kak. Acha pengen cepet-cepet ke tempat kakak biar bisa bareng terus,” rengek Acha jujur, matanya memancarkan rindu.
Evan langsung menangkup pipi chubby Acha dengan kedua tangannya.
“Hei… ini udah mau semester dua. Minggu depan ujian kelulusan. Jangan sedih, ya.”
Nada Evan terlalu lembut untuk diabaikan. Acha tersenyum, lalu refleks memeluknya. Byan yang melihat itu langsung ikut nimbrung.
“Ih, Bang Byan ganggu!” keluh Acha kesal.
“Udah, udah. Masuk sana,” ujar Byan, melerai sambil tersenyum.
Acha cemberut sebentar, lalu berlari masuk ke sekolah, menghindari tatapan penuh selidik dari siswa lain.
“Eh, Cha, itu tadi siapa, lo?”
“Lo dipeluk dua cowok, ya?”
“Cha, lo rakus amat sih?”
“Iya, bagi satu kek!”
Celotehan demi celotehan terdengar, membuat Acha memutar bola matanya malas.
“Dia abang gue,” jawabnya singkat sebelum berlalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAVAN [END]
AksiyonAcha Syaqila Putri terlihat seperti remaja biasa. Senyum manis, sikap manja, dan hidup yang tampak normal. Padahal semua itu bohong. Di balik wajah polosnya, Acha menyimpan kemampuan mematikan-hasil latihan dari orang yang sama yang pernah menghancu...
![CHAVAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/357387260-64-k821142.jpg)