HAPPY READING
.
.
.
.
.
Saat ini Acha berdiri di tepi pantai.
Langit sore menggantung redup, warna jingga bercampur abu-abu, seolah ikut menahan perasaan yang ia bawa. Angin laut berhembus cukup kencang, membuat rambutnya berantakan dan ujung bajunya berkibar pelan.
Pantai memang selalu jadi tujuan pertamanya saat kecewa.
Bukan karena indahnya.
Tapi karena berisiknya.
Suara ombak yang menghantam bibir pantai terdengar keras, berulang, tanpa jeda.
Bruuush…
Bruuush…
Suara itu menelan semua suara lain. Menelan isi kepalanya yang terlalu penuh.
Ia berjalan perlahan menyusuri pasir yang lembap. Setiap langkah meninggalkan jejak yang sebentar kemudian terhapus air. Seperti perasaannya—datang, lalu dipaksa hilang.
Angin asin menusuk hidung. Udara terasa dingin menyentuh kulit. Tapi justru itu yang ia suka. Sensasi nyata yang membuatnya sadar bahwa ia masih berdiri.
Acha menatap laut lepas.
Luas. Gelap. Dalam.
Dadanya terasa sesak tadi. Tapi setiap kali ombak datang dan pecah, ada sedikit beban yang ikut luruh bersamanya.
Di sini, ia tidak perlu kuat.
Tidak perlu jadi bos.
Tidak perlu pura-pura tidak peduli.
Hanya ada dirinya… dan suara laut yang tak pernah berhenti berbicara.
Dan di tengah berisiknya ombak itu,
akhirnya ia bisa mendengar isi hatinya sendiri.
"Cha?"
Acha yang merasakan namanya di panggil pun langsung mencari arah suara itu "kak evan?"lirih acha
Evan langsung menghampiri acha.
acha yang merasa sudah mulai tenang pun juga langsung menghampiri evan.
"Acha dengerin kakak dulu" ucap evan lembut serai menggenggam tangan acha
"Kak evan mau jelasin apa?,acha Terima kok"
"Sebenarnya kakak,Byan, rama dan sama yang lain juga lagi cari siapa dalang dari semua ini"
"Trus kenapa harus tutupin dari acha juga, trus bang Byan? Kenapa juga nutupin"
"Hei acha? Dengarin kakak, sebenarnya kakak pingin kasih tau kamu saat udah terungkap" ucap evan lembut
"Tapi"
"Udah gak usah dipikirin, ini biar urusan kakak sama yang lain"
Aghhh.....
Terkejut. Evan dan acha saling pandang
"Suaranya asalnya dari sana kak"
Acha menunjuk sebuah gubuk kecil yang terletak di pinggir pantai dan dibelakang nya ada pulau kecil yang lumayan lebat dengan pepohonannya.
Acha dan evan mulai perlahan mendekati gubuk itu, tanpa evan dan acha sadari ada seseorang yang sudah mengikuti mereka sedari tadi.
Bugg....
Bugg...
Aws...
Ringis acha pelan.ia melirik evan yang sudah pingsan dipukul oleh seseorang dengan menggunakan pakaian serba hitam, mereka tidak sendiri melainkan ada sekitar lima orang.
Salah satu dari mereka yang menyadari acha belum pingsan pun langsung memukul nya dengan balok yang berukuran lumayan besar.
Malam sudah menunjukkan pukul 03:05,itu bukan malam lagi tetapi sudah pagi.
Evan dan acha tidak kunjung kembali, Byan yang kwatir dengan acha pun baru mengingat jika ia pernah menaruh alat pelacak di motor acha.
Byan yang sudah mengetahui bahwa acha sedang berada di pantai pun langsung menyusul nya kesana, banyak kebingungan di wajah Byan.
Mengapa acha jam segini belum pulang?
Trus evan?
Apa yang mereka lakukan disana, sampai tidak pulang?
Itulah yang berada di pikiran Byan.
Sesampainya di pantai Byan hanya melihat dua motor terparkir rapi di pinggir jalan pantai itu, ia yakin pasti acha dan evan berada di pantai itu. Byan langsung memasuki area pinggir pantai itu, ia sudah mengelilingi pantai itu tapi tidak ada seorang pun yang Byan jumpai.
sudah hampir tiga jam Byan mencari mereka tapi tidak ketemu, ia langsung menghubungi bagas dan langsung menyuruh para anggota untuk mendatanginya ke pantai. Byan merasa janggal ada yang tidak beres, perasaannya juga semakin khawatir.
Matahari sudah terlihat, tetapi Byan dan anak anak thelion lainnya belum juga menemukan acha dan evan berada.
"Yan kita panggil aja anak anak lain" ucap bagas kepada Byan
"Jangan, kasian mereka yang lagi sibuk sama sekolah nya"
"Kita kita aja dulu yang cari evan sama acha" sambung Byan
"Yaudah balik ke markas dulu, biar kita atur rencananya" ucap bagas
Byan yang mendengar itu hanya menganggukan kepalanya dan langsung memanggil anggota nya "weyy balik markas"
Tidak banyak anggota yang berada di kota ini, tapi masih dibilang lumayan, karena ada dua puluhan para anggota disini selebihnya berada di kota pratama jaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAVAN [END]
ActionAcha Syaqila Putri terlihat seperti remaja biasa. Senyum manis, sikap manja, dan hidup yang tampak normal. Padahal semua itu bohong. Di balik wajah polosnya, Acha menyimpan kemampuan mematikan-hasil latihan dari orang yang sama yang pernah menghancu...
![CHAVAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/357387260-64-k806921.jpg)