HAPPY READING
.
.
“Yang ngerti kita bukan semua orang… cuma yang ada di samping kita."
.
.
Kini Acha yang ingin mendaftar kuliah pun dijemput oleh Evan, yang setia menunggu Acha yang tengah bersiap-siap. Setelah Acha selesai, ia berpamitan dengan Arga dan Sella. Arga yang melihat kedekatan Acha dan Evan hanya tersenyum senang. Arga berharap Evan bisa menjaga putrinya, entah apa yang ada di pikirannya saat itu.
"Udah, Kak!" seru Acha riang. Evan tersenyum melihatnya, lalu mengelus pucuk kepala Acha dengan lembut. Mendapat perlakuan itu, Acha langsung salah tingkah, membuat Evan merasa gemas melihat tingkah polah Acha yang lugu.
Di sepanjang perjalanan menuju kampus, Acha tak berhenti bercerita. Suaranya terdengar ringan, bahkan sesekali diselipi tawa kecil—namun setiap kata yang keluar justru menyimpan luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
Ia bercerita tentang masa-masa ketika hidupnya tak seindah sekarang. Tentang hari-hari di kelas dua SMP, saat sekolah bukan lagi tempat aman, melainkan medan perang yang harus ia lewati sendirian.
Kala itu, sepulang sekolah, Acha ditarik paksa oleh beberapa teman sekelasnya ke sebuah gang sempit di belakang deretan ruko. Gang yang sepi. Bau sampah. Dinding kusam. Tak ada orang. Tak ada yang peduli.
Ia dipukul. Ditendang. Dijambak.
Dihina dengan kata-kata yang lebih menyakitkan daripada pukulan.
Acha mengingat bagaimana tubuhnya terhempas ke aspal dingin, napasnya sesak, penglihatannya mengabur. Hingga akhirnya… gelap. Ia pingsan dalam keadaan nyaris sekarat.
Saat membuka mata, dunia terasa asing.
Bukan lagi gang sempit itu.
Bukan lagi suara tawa kejam.
Yang pertama kali ia lihat adalah dua wajah asing—Liza dan Billa—yang berdiri di atasnya dengan ekspresi datar namun waspada. Tubuh Acha terasa nyeri di mana-mana, tapi setidaknya ia masih hidup.
Mereka yang menyelamatkannya.
Mereka yang menghajar para pengeroyok itu tanpa ampun.
Billa, yang sejak tadi memperhatikan Acha dengan tatapan penuh rasa ingin tahu, akhirnya bertanya,
“Kenapa mereka bisa segila itu sama lo?”
Acha, dengan wajah lebam dan tubuh penuh luka, justru tersenyum kecil—senyum yang terlalu santai untuk seseorang yang baru saja hampir mati.
“Soalnya gue terlalu menggemaskan,” jawabnya pede.
“Banyak kakak kelas yang suka sama gue karena gue cantik. Teman-teman gue iri.”
Liza yang mendengar itu langsung memutar bola matanya malas.
“Dasar narsis,” gumamnya.
Namun sejak hari itu, segalanya berubah.
Liza dan Billa tak pernah benar-benar meninggalkan Acha. Dan dari merekalah Acha mengenal dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan siswi biasa.
Orang tua Billa—yang dulunya dikenal sebagai mafia besar sebelum akhirnya insaf—melihat sesuatu dalam diri Acha. Bukan hanya luka, tapi juga amarah yang terpendam. Dan sejak saat itu, Acha mulai dilatih.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk mencari masalah.
Melainkan agar ia tak pernah lagi menjadi korban.
Evan yang mendengar cerita itu terdiam. Tangannya mengerat di setang motor, rahangnya mengeras. Ia tak menyela, hanya mendengarkan—dan semakin sadar bahwa gadis yang duduk di belakangnya bukan sekadar imut dan manja.
Acha adalah hasil dari rasa sakit yang terlalu dini.
Dan dunia… yang lebih dulu kejam padanya.
“Papa, Mama, sama Abang kamu enggak tahu soal semua ini, Cha?” tanya Evan pelan. Nada suaranya terdengar hati-hati, seolah takut menyentuh bagian hidup Acha yang terlalu rapuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAVAN [END]
ActionAcha Syaqila Putri terlihat seperti remaja biasa. Senyum manis, sikap manja, dan hidup yang tampak normal. Padahal semua itu bohong. Di balik wajah polosnya, Acha menyimpan kemampuan mematikan-hasil latihan dari orang yang sama yang pernah menghancu...
![CHAVAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/357387260-64-k821142.jpg)