BAB 09. BUCIN IYA, PACARAN KAGAK

642 29 0
                                        

HAPPY READING
.
.
"Nyaman itu penting,
tapi kepastian juga nggak kalah penting.
Soalnya rasa aman
nggak bisa dibangun dari kata “jalanin aja dulu.”
.
.

Suasana markas terasa lebih berisik dari biasanya. Sore itu ruangan luas dengan pendingin udara dan lampu gantung elegan terasa hidup oleh tawa mereka. Sofa empuk dan meja panjang berbahan kayu solid terlihat mahal, jelas bukan tempat sembarangan.

Namun di atas meja itu justru tersaji minuman botolan biasa dari warung depan komplek dan camilan murah yang dibeli rame-rame. Bungkusnya berserakan, beberapa sudah kosong. Bukan karena tak mampu membeli yang lebih mahal, tapi karena mereka memang lebih suka kesederhanaan. Bagi mereka, yang membuat markas itu terasa “mahal” bukan isinya—melainkan kebersamaan di dalamnya.

Acha berdiri di tengah ruangan, napasnya naik-turun, matanya berkaca-kaca—antara marah dan lelah yang menumpuk jadi satu.

"Brakkk!"

"Anyingg!"

Suara bantingan itu memantul keras di seluruh sudut markas THE LION. Tawa yang tadi berserakan langsung mati. Beberapa anggota yang awalnya selonjoran refleks menegakkan badan, sebagian lagi menoleh dengan wajah bingung dan waspada.
Acha berdiri di tengah ruangan, napasnya naik-turun, matanya berkaca-kaca—emosinya meledak tanpa aba-aba.

“Kenapa ngomong kayak gitu, hah?” tanya Evan dengan tatapan tajam. Alisnya mengernyit, auranya berubah drastis. Ruangan seolah menyempit. Beberapa anggota THE LION langsung pura-pura sibuk, tapi jelas mereka memasang telinga.

Acha menelan ludah. Dadanya sesak.

“Acha stres, huaaaaa” suara Acha bergetar. Isakannya pecah, air mata menggenang lalu jatuh satu per satu, membasahi pipinya tanpa bisa dicegah.

Evan terdiam sepersekian detik.
Aura tegangnya luruh.

“Hei… kenapa, hm? Sini,” panggilnya pelan. Nada suaranya langsung turun, melembut, kontras dengan tatapannya barusan. Tangannya terulur, sabar.

Acha melangkah ke arahnya sambil menghentak-hentakkan kaki. Kesal, tapi rapuh. Marah, tapi jelas minta diperhatikan—persis anak kecil yang gengsi mengaku pengen dipeluk.

Lucu banget sih, batin Evan, gemas setengah mati. Tapi wajahnya tetap ia tahan serius.

“Ngapain sih senyum-senyum? Acha lagi stres juga, hiks…” rengek Acha, bibirnya manyun.

Tanpa peringatan, Evan menarik tangan Acha pelan. Gerakannya refleks, protektif.
Acha kaget, kehilangan keseimbangan—

Bruk!

“Agh—duh!”

Tubuh Acha jatuh tepat ke dada bidang Evan. Bunyi benturan kecil terdengar jelas di tengah keheningan yang mendadak canggung.

“Keras banget dada Kakak, sakit tahu!” omel Acha sambil berusaha bangun, wajahnya kusut antara malu dan kesal.

Evan malah terkekeh kecil, dadanya naik-turun menahan tawa.

“Senyum mulu tuh muka!” cibir Acha.

Evan langsung mendatarkan ekspresinya, seketika dingin.

Acha refleks panik.
“Enggak gitu, Kak…”

“Betah amat tuh pelukan. Tidur-tidur lagi,” celetuk Bagas santai, memecah suasana.

Acha buru-buru bangun, wajahnya makin merah.
“Itu badan apa batu sih? Kok keras banget,” gerutunya sambil mengusap bahu.

CHAVAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang