Kini para anggota THE LION sudah kembali berkumpul di markas.
Malam turun perlahan, menyelimuti bangunan itu dengan sunyi yang berat. Lampu-lampu kota di luar jendela berkelip samar, sementara di dalam markas hanya lampu putih redup yang menyala, membuat bayangan mereka memanjang di dinding.
Tak ada lagi tawa.
Tak ada rebutan cemilan.
Yang ada hanya kelelahan.
Mereka duduk berpencar.
Ada yang bersandar di sofa, ada yang menunduk menatap lantai. Semua tahu satu hal-mereka harus lebih berhati-hati sekarang.
All Star tidak mungkin benar-benar menyerah.
"Apa kita bakal terus kayak gini?" gumam Bagas pelan.
Tak ada yang menjawab.
Mereka sebenarnya sudah lelah. Lelah menjaga markas. Lelah berjaga. Lelah berpikir siapa yang akan menyerang lebih dulu. Tapi masalah ini belum selesai.
Tiba-tiba-
Ting...
Suara notifikasi ponsel memecah kesunyian.
Semua kepala refleks menoleh ke arah sumber suara.
Evan menatap layar ponselnya. Cahaya biru dari layar menerangi wajahnya yang tiba-tiba berubah tegang. Matanya membaca cepat, alisnya menegang.
"Ada apa, Kak?" tanya Acha, memperhatikan perubahan ekspresi itu.
Evan tak langsung menjawab.
Ia berdiri.
Terlalu cepat.
Kursinya sedikit bergeser menimbulkan bunyi gesekan kecil yang terdengar jelas di ruangan sunyi itu.
"Acha,bentar ya. Mau pulang," ucapnya singkat.
Nada suaranya berbeda. Terlalu kaku.
Acha mengernyit. "Sekarang?"
Di luar, angin malam berhembus pelan. Suasana terasa lebih dingin dari biasanya.
Evan hanya memasukkan ponselnya ke saku, menghindari tatapan Acha.
"Iya. Penting."
Dan tanpa menunggu pertanyaan lagi, ia melangkah menuju pintu keluar markas.
Pintu terbuka.
Udara malam langsung masuk, membawa hawa yang membuat suasana terasa makin tidak nyaman.
Acha berdiri mematung beberapa detik.
Entah kenapa... dadanya terasa tidak enak.
Seolah-olah malam ini tidak akan berjalan tenang.
****
Evan saat ini mencari keberadaan papanya, tapi tidak ada, ia bingung pesan itu benar benar membuatnya bingung
Ting...
"Ke apartemen papa,sekarang!"
Evan yang mendapatkan pesan tersebut menghela nafas kasar
"Sial,dasar bajingan"
Evan yang baru sampai di apartemen pun langsung menggedor gedor pintu apartemen dan Saat pintu itu terbuka, evan melihat papanya dengan mora.
Evan menyergit "apa apa an ini" ucap evan emosi
KAMU SEDANG MEMBACA
CHAVAN [END]
AksiAcha Syaqila Putri terlihat seperti remaja biasa. Senyum manis, sikap manja, dan hidup yang tampak normal. Padahal semua itu bohong. Di balik wajah polosnya, Acha menyimpan kemampuan mematikan-hasil latihan dari orang yang sama yang pernah menghancu...
![CHAVAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/357387260-64-k806921.jpg)