BAB 10. SISI GELAP ACHA

633 29 1
                                        

HAPPY READING
.
.
“Marah itu manusiawi.
Tapi kalau dendam yang pegang kendali,
kita bukan lagi membela harga diri—
kita sedang kehilangan diri sendiri.”
.
.

Sesampainya para anggota THE LION di rumah sakit, langkah mereka yang tadinya cepat mendadak melambat.

Lorong rumah sakit itu panjang dan terang. Bau antiseptik menusuk hidung, bercampur dengan aroma obat yang khas. Suara sepatu mereka menggema pelan di lantai keramik putih yang mengilap. Dari kejauhan terdengar bunyi bip… bip… alat monitor jantung dari ruangan lain—ritmis, dingin, tanpa emosi.

Dan saat pintu kamar itu terbuka…
Waktu seperti berhenti.

Askar terbaring di ranjang putih. Tubuhnya hampir tak terlihat di balik perban yang membalut lengan, bahu, hingga rusuknya. Tangan kanannya tergips, diganjal penopang. Di ujung ranjang, hasil rontgen tergantung, retakan tulang terlihat jelas seperti garis patah di kaca.
Wajahnya lebam. Bibirnya pecah. Ada goresan di pelipis yang masih berwarna merah keunguan.

Ruangan itu sunyi.
Sunyi yang berat.
Sunyi yang bikin dada sesak.

Acha berdiri paling depan. Tangannya mengepal tanpa sadar. Jantungnya berdetak terlalu keras sampai telinganya berdenging.

"Kok bisa sampai begini?" suaranya pelan. Tapi ada sesuatu yang bergetar di sana—amarah yang ditahan.

Byan melangkah mendekat. Otot rahangnya menegang.
"Berapa orang yang ngeroyok lo?"

Askar menghela napas pelan, meringis saat mencoba bergerak.
"All Star…" suaranya serak. "Mereka bawa semuanya."

Kalimat itu jatuh seperti bom.
Udara di ruangan terasa berubah. Lebih panas. Lebih berat.

"Pengecut!" suara Billa memecah sunyi.

Liza mendorong kursi hingga kakinya berdecit keras di lantai.
"Beraninya ngeroyok!"

Nama All Star seperti api yang menyambar sumbu. Semua orang tahu—permusuhan itu sudah lama. Tapi ini… ini bukan sekadar tantangan.

"Ini nggak bisa dibiarin," ucap Evan.
Suaranya rendah. Tidak keras. Tapi justru itu yang membuat bulu kuduk meremang.

"Kita lawan, Kak," sahut Acha cepat.
Evan menoleh.

Dan untuk pertama kalinya… ia melihat sesuatu yang berbeda.
Sorot mata Acha bukan lagi mata gadis yang sering bercanda. Tidak ada cahaya lembut di sana. Yang ada hanya dingin. Tajam. Penuh tekad.

Byan merasakan perubahan itu.
Bagas menelan ludah.

Beberapa anggota THE LION bahkan tak sadar mereka mundur setengah langkah.
Aura Acha berubah.
Bukan sekadar marah.

Tapi seperti seseorang yang siap membakar segalanya demi harga diri kelompoknya.
Evan menghela napas panjang. Tangannya masuk ke saku celana, berusaha tetap tenang.

Keputusan dibuat tanpa banyak kata.
Sebagian tetap tinggal menjaga Askar.
Sebagian lain berjalan keluar ruangan.

Dan ketika pintu kamar tertutup pelan di belakang mereka, suara langkah kaki di lorong kembali menggema.

CHAVAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang