Acha Syaqila Putri terlihat seperti remaja biasa. Senyum manis, sikap manja, dan hidup yang tampak normal.
Padahal semua itu bohong.
Di balik wajah polosnya, Acha menyimpan kemampuan mematikan-hasil latihan dari orang yang sama yang pernah menghancu...
Pagi itu terasa lebih cerah dari biasanya. Sinar matahari masuk pelan lewat jendela dapur, jatuh di lantai keramik yang masih dingin. Aroma kopi dan roti panggang mulai mengisi ruangan kecil itu.
Di dapur, dua sosok berdiri berdampingan—Acha dan Byan. Seorang abang dan adik yang pagi itu sedang mencoba memasak sarapan bersama. Ini pertama kalinya mereka benar-benar berdua di dapur. Biasanya, ada Sella—ibu mereka—yang sibuk memberi instruksi sambil sesekali mengomel kecil. Tapi pagi ini berbeda. Dapur terasa lebih sunyi, lebih canggung, tapi juga lebih hangat dengan tawa kecil yang sesekali pecah.
"Bang?. Serukan acha ajak masak gini"
Byan yang melihat adiknya senang pun tersenyum "iya" serai mengelus pucuk kepala acha "abang pulang kampus mau ke kantor"
Acha yang sedang asik dengan alatnya pun langsung mendongak "acha juga mau ke butik"
Byan tersenyum "terus kayak gini ya cha, abang gak mau kamu berubah"
"Berubah gimana bang"
"Udah udah sini makanannya, ntar telat ke kampusnya"
"Ishh.. Lain di tanya lain dijawab" grutu acha kesal
Byan yang melihat adiknya seperti itu langsung menarik hidung nya
"ABANG!!!"
Byan yang melihat acha mengejarnya pun langsung berlari mengelilingi meja makan
"UDAH CHA AYOK MAKANANN!! " ucap Byan yang masih terus berlari
Acha yang mendengar itu bercak pinggang "abang lucknut"
"Hahahahhaha" tawa byan, ia paling senang melihat acha bahagia "nantik abang cari siapa yang bikin papa mama pergi ya cha" batin Byan
Kali ini acha tidak membawa motornya, tetapi ia membawa mobil sang mama tercinta.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Evan yang sedang asik dengan anak anak pun langsung memanggil acha dan menghampirinya