BAB 47. TITIK NADIR DAN BAYANGAN MASA LALU

72 3 6
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.

Keheningan yang mencekam merayapi seluruh ruangan, begitu pekat hingga terasa menyesakkan paru-paru. Satu-satunya suara yang berani merobek tirai sunyi itu hanyalah isakan lirih Evan yang memilukan, menggema pelan, memberat di udara. Tubuhnya terkulai lemas tak berdaya, seolah setiap serat kekuatannya telah direnggut paksa, meninggalkan kerangka yang nyaris kosong. Seolah jiwanya pun turut pergi.

Billa berdiri mematung, terpaku. Ia menatap Evan dengan tatapan penuh luka yang menganga, hatinya bak diremas kuat, mencelos ke dasar perut. Sejenak ia melupakan bahwa Acha sudah dibawa ke rumah sakit, namun bayangan kondisi mengenaskan gadis itu masih terpampang jelas di benaknya, menambah sayatan perih yang tak berujung di relung jiwanya. Segalanya terasa hancur lebur, tak bersisa.

Papa Clarissa melangkah maju, setiap jejak kakinya terdengar jelas di lantai yang sunyi, memecah kebisuan dengan bunyi yang tajam. Ia berhenti tepat di hadapan Sanjaya, matanya menyala penuh amarah, memancarkan kobaran api yang siap membakar habis segalanya.

"Sanjaya Wirama," desisnya tajam, suaranya bagai geraman rendah dari binatang buas yang siap menerkam, "kau benar-benar gila. Kau tidak berubah! Sama busuknya seperti dulu!"

Sanjaya menyeringai, tawa lantangnya pecah membelah keheningan, mengoyak suasana duka dengan nada yang begitu asing dan kejam.

"Ahaha, Sanjaya Wiraga, kembaranku!" ucapnya, nadanya penuh ejekan, seolah mengejek penderitaan di hadapannya.

Seketika, Evan tersentak syok, seolah baru saja disiram air es. Tubuhnya bergetar. Mata sembabnya yang tadinya terpejam rapat kini membelalak lebar, memandang bergantian antara Sanjaya dan Papa Clarissa.

"Apa kalian kembar?" tanyanya, suaranya tercekat, nyaris tak terdengar, sebuah gumaman tak percaya yang dipenuhi kebingungan. "Dan nama kalian sama?" sambungnya, kebingungan jelas terpancar di seluruh raut wajahnya yang pucat.

Papa Clarissa, yang ternyata bernama asli Sanjaya Wiraga, menunjuk Sanjaya Wirama dengan jari gemetar penuh jijik, seolah tak sudi menyentuh udara yang sama dengan adiknya.

"Saya Sanjaya Wiraga dan bajingan ini Sanjaya Wirama!" ucapnya tajam, penuh penekanan di setiap kata, seolah ingin meludahi nama itu. "Sungguh, saya tidak sudi melihatnya lagi, Evan Alexander Sanjaya. Untuk selanjutnya, kau bisa panggil pamanmu ini dengan nama Wira agar tak membuat kita bingung."

Wira mengepalkan tangannya, urat-urat di lehernya menegang, wajahnya memerah menahan ledakan emosi.

"Kau benar-benar keterlaluan, Sanjaya!" serunya, suaranya bergetar hebat, menahan amarah yang meluap-luap dari dalam dadanya hingga hampir pecah. "Aku sangat malu atas perlakuan bajingan itu! Walaupun persaudaraan kita sudah putus, aku masih menganggapmu sebagai saudara kembar karena kita lahir dari rahim yang sama!"

Sanjaya hanya terkekeh, tanpa sedikit pun rasa sesal di matanya, seolah penderitaan orang lain hanyalah lelucon baginya.

"Aku tidak peduli," jawabnya dingin, datar, tanpa emosi. Raut wajahnya tiba-tiba berubah masam, menunjuk Sanjaya Wiraga dengan telunjuknya yang menusuk. "Ini semua gara-gara kau!" ucapnya dengan nada penuh amarah yang meledak, bak gunung berapi. "Coba saja papa kita tidak pilih kasih dan..."

"Dan apa?!" potong Wira, suaranya meninggi, menyambar ucapan Sanjaya, tak membiarkan adiknya menyelesaikan kalimat.

"Dan tidak memberiku kantor PT Sanjaya Reksa Abadi yang besar itu untukku?, dan kau hanya mendapatkan yang di cabang dua? Kurang apa ayah kita kepada kita? Bukankah sudah adil?!"

CHAVAN [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang