Hallo ketemu lagi di chapter 29.
Yuk ramein cerita ini dengan vote dan komen sebanyak-banyaknya di setiap paragraf nya.
Selamat membaca
_________________________________________
TIDAK terasa hari ini adalah hari terakhir Rafera belajar seperti biasanya di kelas, sebab minggu depan sudah terlaksana nya ujian semester. Lalu minggu depan nya Rafera harus mengikuti ujian praktek kelulusan, setelah itu barulah ujian sekolah dimulai.
Di kelas, Rafera hanya menatap datar papan tulis yang berisikan kisi-kisi ujian semester mata pelajaran kimia. Sudah lima menit yang lalu Bu Tia sudah keluar dari kelas Rafera dan meninggalkan catatan kisi-kisi pada papan tulis tersebut.
Tidak ada niatan untuk mencatatnya. Rafera memilih untuk ke kantin saja. Karena waktu istirahat telah tiba, Rafera segera menuju kantin sebelum kantin ramai.
Berjalan menelusuri koridor, tidak sengaja ia berpapasan dengan Arven. Rupanya cowok itu berjalan sendiri menuju kantin. Rafera mencoba cuek terhadap Arven, namun ketika melihat raut wajah Arven, Rafera sebenarnya tidak tega untuk menjauhinya.
Setibanya di kantin Rafera memesan batagor dan es teh. Lalu gadis itu duduk di bangku kantin yang kosong. Seraya menunggu, Rafera memilih untuk bermain ponsel, gadis itu mengobrol dengan Astria lewat instagram.
“Hai Kak, kita boleh gabung gak?”
Sepertinya Rafera mendengar ada yang bertanya padanya, gadis itu mendongak mendapati dua orang perempuan yang sebelumnya Rafera pernah jumpai. Dan ya ternyata dua orang itu adalah Sheila dan teman nya Mika.
“Boleh banget.”
Sheila dan Mika langsung duduk di bangku kantin depan Rafera, mereka meletakkan pesanan nya di meja yang sama dengan Rafera. Sejenak keheningan menyelimuti mereka, tetapi Rafera memilih untuk mengobrol saja agar tidak canggung berada di meja kantin yang sama.
“Kalian kelas 10 ya?”
Mika mengangguk begitupun dengan Sheila. “Iya Kak,” jawab Sheila.
“Kak Sekar, maaf kalau Mika waktu itu ngerepotin Kak Sekar.” Mika berkata dengan pelan setelah mengumpulkan keberanian nya untuk berkata dengan kakak kelas.
“Oh iya santai aja kali. Urusan Clara mah kecil bagi gue.”
“Hehe iya Kak.” Mika menyengir tumbang. Sungguh ia masih merasa canggung kepada Sekar.
“Udah Mik, Kak Sekar baik kok. Jadi lo gak usah takut kalau mau ngobrol sama Kak Sekar.” Sheila memegang pundak kiri Mika seperti merangkul.
“Kenapa takut sama gue?” tanya Rafera bingung. Padahal Rafera tidak pernah memiliki masalah dengan Mika.
“Semenjak kejadian waktu itu, Mika jadi takut salah bicara Kak, apalagi ke kakak kelas.” Sheila menjelaskan, karena sedari tadi Mika tak kunjung membuka mulut nya. Makanan nya juga masih utuh dan belum ia suap sedikitpun.
Rafera tersenyum lebar, berusaha seramah mungkin agar Mika tidak takut padanya. “Gak semua kakak kelas itu kaya Clara. Jadi Mika gak usah takut kalau salah bicara ya.”
“Iya Kak.”
Tak lama pesanan Rafera datang dan Rafera mulai mengajak Sheila dan Mika untuk makan bersama. Sebab sebelum pesanan Rafera datang, mereka enggan untuk makan duluan. Mungkin mereka merasa tidak enak jika makan duluan, padahal Rafera tidak mempermasalahkan hal itu.
🧩🧩🧩
“Sial, HP gue pake mati.”
Di bangku halte depan sekolah sedari tadi Rafera menggerutu kesal. Bagaimana tidak, ponsel nya mati total karena habis baterai. Apalagi dirinya lupa membawa charger dan ia belum sempat mengabari Kak Rania untuk menjemputnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk Sekar
Fiksi RemajaSeperti mimpi buruk. Tidak pernah terbayangkan bagaimana rasanya hidup di tubuh orang lain. Apalagi orang itu hidup penuh dengan masalah. Rafera Shaney, dirinya harus merasakan hidup penuh penderitaan yang dialami oleh pemilik tubuh asli yaitu Sekar...
