Hai Hai apa kabar? Semoga baik. Gimana puasanya? Lancar gak?😂
Malem malem enak nih baca ceritanya, semoga cerita ini semakin lama semakin seru.
Sebelum membaca dipastikan vote dan komen yang banyak biar semangat update cerita nya😀
Oke selamat membaca 👌
____________________________________
SAAT ini di pagi yang cerah. Rafera masih bermalas-malasan di atas kasur, karena hari ini adalah hari minggu yang dimana hari ini adalah hari yang cocok untuk bersantai setelah enam hari full beraktivitas.
“Sekar, ayo sarapan bareng. Mas Robi sudah menunggu,” Kak Rania berujar seraya mengetuk pintu kamar Rafera yang terkunci dari dalam. Rafera hanya menyaut tanpa berniat untuk turun dari kasur dan keluar kamar.
Namun lagi-lagi Kak Rania membangunkan Rafera dengan suara yang sedikit meninggi, membuat Rafera mau tidak mau berjalan keluar kamar tanpa mencuci wajahnya maupun menyisir rambutnya yang berantakan.
Dengan langkah malas Rafera menuruni satu persatu anak tangga. Rafera dikejutkan dengan hadirnya seorang laki-laki yang terlihat lebih tua dari Kak Rania. Laki-laki tersebut sudah duduk di bangku meja makan dengan bermain ponsel. Sedangkan Kak Rania sedang menyiapkan minum.
Rafera perlahan menarik kursi dan mulai mendudukinya. Gadis itu hanya diam dengan keadaan ruang makan yang memang sunyi, hanya terdengar suara piring yang Kak Rania siapkan.
“Sekar, ini suami Mba. Namanya Robi, panggil Mas Robi ya seperti biasanya,” ujar Kak Rania setelah usai menyiapkan makanan untuk suaminya dan juga Rafera.
Rafera hanya diam dengan tatapan canggung menatap wajah Kak Robi, Rafera tidak terbiasa memanggil seseorang laki-laki yang lebih tua dengan sebutan ‘Mas’.
“Maaf ya Sekar, Mas gak jenguk kamu dan baru tahu kalau kamu amnesia. Karena Mas banyak kerjaan di luar kota.” Kak Robi menjelaskan kepada Rafera.
“Iya gak apa-apa kok,” balas Rafera dengan senyuman yang terasa canggung.
Akhirnya mereka bertiga mulai makan bersama dan sesekali mengobrol seperlunya, dan di meja makan hanya Kak Rania yang bersemangat bercerita kepada Kak Robi tentang kehidupan sehari-hari dan juga tentang adik kandungnya di rumah sakit.
Tapi nyatanya Kak Robi hanya membalas sedikit dan lebih terfokus pada ponselnya. Hal itu membuat Rafera bertanya-tanya, ada apa di ponselnya sampai-sampai terlihat lebih penting dari curhatan istrinya. Namun, Rafera hanya diam dan sesekali membalas cerita Kak Rania.
🧩🧩🧩
Di kamarnya, Vano hanya bisa meringis kesakitan tatkala sang pembantu di rumahnya mengobati luka baru cowok itu. Bahkan luka lama nya pun masih membekas dan belum kering sepenuhnya.
“Mbok, Vano harus gimana ya biar Papa gak kayak gini?” ucap Vano dengan lirih yang membuat Mbok Ninik tidak bisa berkata-kata. Mbok Ninik hanya bisa meneteskan air mata nya tidak tega melihat keadaan anak dari majikannya itu.
“Kalau seandainya Vano anak orang lain, Apa kehidupan Vano bakal bahagia?”
“Kalau seandainya Vano mati-”
“Jangan ngomong gitu Vano. Mbok gak suka. Jangan diulangi lagi ya?” ucap Mbok Ninik memotong ucapan Vano yang lama-lama melantur. Suara Mbok Ninik sampai serak sebab menangis.
“Sebenarnya Papa dendam sama Vano kali ya karena ketika Vano lahir Mama jadi meninggal.”
“Sudah Vano, sudah. Lebih baik kamu istirahat ya, luka nya sudah Mbok perban semuanya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk Sekar
Fiksi RemajaSeperti mimpi buruk. Tidak pernah terbayangkan bagaimana rasanya hidup di tubuh orang lain. Apalagi orang itu hidup penuh dengan masalah. Rafera Shaney, dirinya harus merasakan hidup penuh penderitaan yang dialami oleh pemilik tubuh asli yaitu Sekar...
