Beneran ga berasa udah sampai di epilog.
Jangan lupa vote sebelum membaca.
Selamat membaca.
_____________________________________________
JIKA ditanya apakah kenyataan ini bisa diterima, Rafera tidak akan bisa menjawab. Karena kenyataan yang ada membuat dirinya harus bisa menerima, padahal belum tentu dirinya sendiri bisa menerima atau sanggup menerimanya.
Semua orang yang terlibat dengan Sekar sudah mengetahui jika Sekar sudah tiada. Hanya tersisa raga nya yang diisi oleh jiwa lain. Dan Rafera harus menerima kenyataan pahit ini.
Rafera berasa di ambang kebingungan. Dirinya tidak bisa menjadi Sekar seutuhnya. Sebab nyatanya Rafera dan Sekar berbeda, mereka seharusnya mempunyai jalan nya sendiri-sendiri.
Rasanya sulit menjadi diri sendiri di raga orang lain.
Kini Rafera sedang duduk di kursi yang telah disediakan untuk para murid kelas dua belas yang sudah resmi seluruhnya lulus. Setelah melewati ujian sekolah yang dijalani mereka, akhirnya mereka mendapatkan hasilnya.
Tinggal mereka yang menentukan. Apakah mereka ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, atau memilih untuk memulai kariernya yang baru, atau mungkin ada yang ingin menemukan cinta sejati mereka.
Rafera tersenyum tipis. Melihat Vano yang sedang berdiri di podium untuk memberikan ucapan terima kasih atas segalanya yang membuat dirinya bisa berasa sampai titik ini. Dan Vano menjadi salah satu murid dengan nilai ujian tertinggi di sekolah ini.
“Pertama-tama. Vano ingin berterima kasih kepada guru-guru Vano yang udah membimbing Vano hingga Vano bisa mendapatkan nilai yang memuaskan, dan terima kasih juga untuk teman-teman yang udah mendukung Vano.”
“Vano sendiri tidak menyangka bahwa Vano akhirnya bisa memenuhi ekspetasi dari Papa Vano sendiri. Walaupun beliau tidak hadir, tapi Vano tetap akan berterima kasih kepada Papa yang udah mendidik anak Papa satu-satunya ini sampai bisa berdiri di sini dengan membawa hasil dari usaha Vano dan dengan motivasi dari Papa.”
“Mungkin sudah cukup dari Vano untuk semua nya. Sekian dan terima kasih.”
Vano turun dari podium dan duduk di kursi sebelah Rafera.
“Selamat ya Vano. Gue bangga banget sama lo, dan lo emang pantas mendapatkan ini.” Rafera menatap Vano yang mengenakan jas dengan rambut yang rapi sangat menambah tingkat ketampanan nya.
Vano mengangguk, Vano menatap lama wajah Sekar yang terlihat cantik. Dengan mengenakan dress biru muda dengan rambut yang dicepol, menyisakan beberapa helai rambut ikal di sisi kanan dan kiri nya.
Bisa dibilang ini adalah acara terakhir yang sekolah adakan, yaitu pelepasan kelas dua belas sekaligus membagikan hasil nilai-nilai ujian mereka. Dan setelah ini, mereka yang ingin mendaftarkan diri ke Perguruan Tinggi Negeri bisa mendaftar secepatnya.
Seperti yang akan dilakukan Vano. Cowok itu memang berniat untuk berkuliah. Sedangkan Rafera, ia sendiri tidak tahu akankah ia bisa kuliah dengan keadaan seperti ini. Nilai yang menurun dan juga ia tidak memiliki uang yang cukup.
Rafera sampai lupa jika dirinya akan melakukan hal yang sama seperti Vano tadi. Bedanya, Rafera akan berbicara tentang dirinya yang bukan Sekar. Serta Rafera akan memberi tahu mereka tentang vidio Clara yang merundung Sekar sebelum Sekar bunuh diri.
Rafera telah meminta tolong kepada panitia yang memang mengendalikan penuh monitor. Dengan bantuan Vano, Arven, dan tentunya Pak Juna membuat permintaan tolong nya bisa dipenuhi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk Sekar
Fiksi RemajaSeperti mimpi buruk. Tidak pernah terbayangkan bagaimana rasanya hidup di tubuh orang lain. Apalagi orang itu hidup penuh dengan masalah. Rafera Shaney, dirinya harus merasakan hidup penuh penderitaan yang dialami oleh pemilik tubuh asli yaitu Sekar...
