Selamat datang di chapter 34. Jangan lupa sebelum membaca dipastikan sudah vote chapter ini.
Selamat membaca.
____________________________________________
TIDAK terasa ujian semester berlalu, hanya tinggal menghitung hari menuju kelulusan kelas dua belas. Dan Rafera merasakan di posisi murid kelas dua belas tersebut.
Jika ditanya, apakah bisa mengerjakan soal ujian semester? Rafera akan menjawab bisa. Sebab mengerjakan nya tentu sesuatu hal yang gampang, hanya saja hasil yang menentukan. Rafera sendiri tidak tahu hasil jawaban nya benar atau salah.
Saat ini Rafera sedang di kantin sekolah. Hari ini hari terakhir ujian semester, dan seharusnya sudah waktunya pulang. Namun Rafera masih ingin berlama-lama di sekolah untuk menenangkan pikirannya.
Rafera memakan batagornya dengan lamunan. Banyak pikiran yang memenuhi isi kepalanya. Sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa Arven datang menghampiri nya dan duduk didepannya.
“Kamu melamun terus. Kamu mikirin apa?”
Sontak Rafera menatap cowok di depannya. Rafera sampai tidak menyadari Arven berkata apa padanya. “Lo ngomong sama gue?”
Arven mengangguk. “Iya.”
Rafera hanya mangut-mangut mengerti. Hingga keheningan menyelimuti keduanya.
“Aku dengar, Kak Rania cerai ya?”
Rafera kembali menatap Arven. “Serius?”
Lagi-lagi Arven mengangguk. “Iya. Kak Rania akhirnya resmi cerai. Emangnya kamu nggak tahu? Kan kalian serumah.”
Rafera menghembuskan napasnya kasar. Bingung mengapa Arven tidak mengetahui jika Rafera sudah tidak tinggal bersama Rania lagi, dan mengapa malah mengetahui perceraian Rania.
“Gue belum cerita ya sama lo.”
“Soal?”
“Gue dan Sekar,” balas Rafera yang membuat Arven mengerutkan dahi.
“Maksudnya gimana sih?”
Rafera lagi-lagi menghembuskan napasnya. Menatap penuh manik mata Arven. “Gue bukan Sekar. Gue Rafera.”
Rafera akhirnya menceritakan semuanya dari awal ia ingin menolong Sekar hingga saat ini. Betapa terkejut nya Arven mendengar hal ini.
“Jadi lo bukan Sekar? Terus Sekar dimana?”
Rafera tertawa sumbang. Tidak percaya jika Arven langsung merubah cara bicaranya. Seketika Arven merubah kata menjadi lo-gue dari sebelumnya aku-kamu.
“Gue juga ngga tau. Mungkin jiwa Sekar ada di tubuh gue. Dan mungkin emang udah mati.”
Terlihat perubahan ekspresi yang ditimbulkan Arven. Cowok itu terlihat frustasi ketika mendengar kalimat terakhir Rafera. Cowok itu menatap arah lain dengan ekspresi yang Rafera sendiri tidak bisa menebaknya.
Kini Arven menatap penuh Rafera yang masih mengunyah batagornya. “Selesai ujian sekolah, anterin gue ke makam lo.”
Dahi Rafera mengkerut sebentar lalu ia mengangguk. Rafera akan menemani cowok itu ke makam dirinya, atau mungkin itu makam Sekar. Karena Rafera sendiri sampai sekarang belum ke sana.
🧩🧩🧩
“Arven mau ke makam gue."
Saat ini Rafera dan Dion sedang berada di kafe dekat sekolah mereka. Karena sebelum ke sini, Rafera melihat-lihat gedung sekolahnya dari luar. Rasanya, ia sangat merindukan masa-masa sekolah di sana.
“Yaudah anterin aja.” jawab Dion enteng.
“Anterin sih iya anterin. Tapi gue aja nggak tau di di mana kuburannya.” Rafera mencibir jawaban dari Dion. Dan Dion hanya terkekeh geli.
“Yaudah gue anterin deh.”
Rafera mengangguk mengiyakan. “Oh iya. Besok lo udah ujian praktik?”
Dion menggeleng. “Masih minggu depan nya lagi. Seminggu besok free class.”
“Oke.”
Dahi Dion mengkerut. “Kenapa nanya begitu?”
Rafera tersenyum lebar yang membuat Dion bergidik ngeri. “Hari senin kebetulan gue ujian praktik bola basket doang, dan bakal kelar sekitar jam sepuluh siang. Jadi gue mau menyelinap ke kelas.”
Dion melotot. “Lo mau ngapain anjir? Nanti kalau mereka tau lo masih hidup kayak gini gimana?”
Rafera memutar bola matanya malas. “Ya emang itu tujuan gue ke sekolah. Gue mau ceritain semua nya ke mereka. Dan gue juga mau pamitan sama mereka kalau gue ngga mungkin bisa kembali ke sekolah itu lagi.”
Rafera rindu dengan teman-teman nya di sekolah lamanya. Mereka satu kelas sejak kelas sepuluh. Sistem sekolah di sana seperti itu, jadi dari kelas sepuluh tidak ada pengacakan kelas. Karena memang di sana hanya ada empat kelas untuk masing-masing kelas, dua MIPA dan dua IPS.
Dion mengangguk. “Tapi, lo ke sekolah pakai seragam sekolah lo yang lama, jangan lupa pakai hoodie. Nanti gue usahain lo bisa masuk ke kelas tanpa ketauan guru.”
“Duh, baik banget sih lo. Jadi makin sayang deh.” Rafera tersenyum lebar dan bangkit berniat untuk memeluk Dion yang berada di depannya.
Dion menahan pundak Rafera yang mendekat. “Idih najis.”
Rafera mengerucutkan bibirnya. “Ish jahat banget sih.”
🧩🧩🧩
Sudah berapa kali Claire berjingkrak-jingkrak di depan Clara yang bersidekap dada. Clara menatap jengah Kakaknya yang berisik di depannya.
“Kenapa sih Kak?” tanya Clara dengan ekspresi tidak ada semangat sama sekali.
“Kakak mau nikah sama pacar Kakak, Mas Robi.”
Clara akhirnya mengerti alasan Kakaknya ini terlihat bahagia. Sebab pacarnya yang sudah mengisi hati nya hampir tiga tahun ini akhirnya menikahinya juga.
Tapi sayangnya, mereka tidak tahu kalau Robi sebelumnya sudah menikah.
Dan Rania pun tidak tahu kalau ternyata Robi sudah pacaran dengan Claire sebelum mereka menikah.
“Nanti temenin Kakak ke rumah Om Tara ya. Kakak mau minta beliau jadi wali nikah.”
Clara hanya bisa mengangguk pelan. Memang sudah seharusnya Claire meminta tolong kepada adik dari Ayahnya tersebut. Sebab orang tua mereka sudah tiada.
“Oh iya. Gimana kamu sama Arven?”
Clara menggeleng lemah. Sepertinya ia dengan Arven tidak bisa bersatu. Kemarin benar-benar dirinya dicampakkan oleh Arven, cowok yang selama ini ia cintai sejak awal kelas sepuluh itu.
Arven juga menjelaskan bahwa ia benar-benar tidak bisa mencintai Clara. Dan di hati nya hanya ada Sekar, Sekar, dan Sekar.
Clara sudah capek dengan semua ini. Percuma ia melakukan aksi bully kepada Sekar. Namun hasilnya sia-sia, yang justru membuat Arven semakin lama kian menjauh darinya.
“Nggak tau. Mungkin emang bukan jodohnya.”
Claire duduk di sebelah Clara yang terduduk lesu di sofa. Ia sebagai Kakaknya hanya bisa memeluk nya dan menyalurkan rasa iba nya kepada sang Adik.
Claire berharap, kebahagiaan selalu menyelimuti Adiknya.
_______________________________________________
Akhirnya cerita ini udah 1k lebih dibaca. Makasi buat teman-teman yang udah menyempatkan waktu nya buat baca dan vote cerita ini.
Dua chapter lagi tamat nih. Ada kesan pesan buat chapter ini?
Sampai jumpa di next chapter 35. Bye and see you.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untuk Sekar
Teen FictionSeperti mimpi buruk. Tidak pernah terbayangkan bagaimana rasanya hidup di tubuh orang lain. Apalagi orang itu hidup penuh dengan masalah. Rafera Shaney, dirinya harus merasakan hidup penuh penderitaan yang dialami oleh pemilik tubuh asli yaitu Sekar...
