Duduk termenung menatap langit seakan sudah menjadi kebiasaannya semenjak kecil, karena memang hanya dengan memandang langitlah dia mampu untuk menenangkan hatinya.
Semilir angin berhembus sejuk menerpa surai kelabunya yang memiliki panjang hingga batas pinggang, kedua matanya mengedip dengan pelan tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari pemandangan langit pagi ini.
Terlihat begitu cerah dengan beberapa burung yang sesekali terbang bebas di udara dengan kicaunnya yang terdengar seperti sebuah melodi di telinga sang gadis remaja.
"[Name]," Seseorang memanggil namanya membuat dia lantas segera menolehkan pandangan dan menemukan sesosok pemuda dengan paras yang cukup tampan kini berdiri disana sambil membawa sebuket bunga mawar di tangannya.
Wajahnya terlihat dihiasi oleh rona merah seraya melangkah gugup mendekati sang gadis yang tengah duduk di sebuah sofa yang terletak di rooftop sekolah.
Tak perlu banyak berpikir, dari wajah dan tatapannya saja sang gadis pun sudah bisa langsung mengetahui apa alasan pemuda itu datang menemuinya yang sedang menyendiri di rooftop.
Terlebih buket bunga mawar di tangannya itu, apa lagi yang harus diragukan? Sudah jelas kedatangannya adalah untuk menyatakan perasaannya.
"Apa?" Sang gadis menyahut dengan nada datar, ekspresi wajah yang semula tenang kini telah kembali dingin.
"A-aku..."
Gadis itu menatapnya yang berbicara dengan begitu gugup seraya kepalanya yang tertunduk tak berani untuk membalas tatapannya.
"Ck." Ia berdecak malas sembari beranjak berdiri dan melangkah mendekati pemuda tersebut. "Jangan sia-siakan waktumu untuk ini, karena sudah jelas jawaban apa yang akan kau terima dariku." Ujarnya yang berhenti berjalan di samping sang pemuda yang sontak terdiam kaku di tempatnya.
Melirik sekilas pada buket bunga mawar di tangan pemuda tersebut dia pun menghela nafas kasar. "Jangan pernah menyukaiku, karena aku tak layak untuk menerima cinta seperti itu." Lirihnya berbisik dengan suara yang terdengar sedikit lembut, tak seperti sebelumnya dingin dan acuh tak acuh.
"Kamu layak [Name]!"
Sang gadis sontak menghentikan langkah ketika mendengar pemuda itu tiba-tiba saja berucap demikian, tanpa perlu menoleh ia pun diam mendengarkan apa yang akan pemuda tersebut katakan lagi padanya.
"Semua orang layak mendapatkan cinta [Name], termasuk kamu." Lanjut sang pemuda seraya melangkah mendekat dan berdiri di belakang sang gadis dengan menyisakan beberapa jarak di antara mereka. "Aku... Aku sudah lama memperhatikanmu selama ini, karena itu aku tahu kamu adalah orang yang baik [Name]. Meski selama ini kamu begitu dingin kepada orang lain, tapi nyatanya kamu tak pernah berpaling dari orang yang membutuhkan bantuanmu." Ucap pemuda itu lagi dengan senyuman kecil terbit di bibirnya, walau ada rasa sesak di dada karena tahu dia telah ditolak tanpa sempat untuk mengungkapkannya lebih dulu.
"Semua orang layak mendapatkan cinta?" Ulang sang gadis seraya menunduk menatap kedua kakinya yang terbalut sepatu. "Benarkah begitu?" Lanjutnya bertanya.
"Benar! Jadi [Name], tolong─
"Kalau begitu, apa seorang pembunuh juga berhak mendapatkan cinta?" Sela sang gadis sambil menoleh ke arah sang pemuda dengan sorot matanya yang terlihat kosong.
Deg!
"A-apa...?"
_o0o_
KAMU SEDANG MEMBACA
Eleceed X Reader
Fantasy⚠️Ooc, reverse harem, kissing, fights, blood, obsession, mature. Dll. ⚠️MC bukan FL yang 'baik', sedikit dominan dan suka melakukan 'skinship'. Harap minggir jika tidak suka FL yang seperti ini. Memuat tema 'dark' berkedok romance, bijaklah dalam me...
