⚠️Ooc, reverse harem, kissing, fights, blood, obsession, mature. Dll.
⚠️MC bukan FL yang 'baik', sedikit dominan dan suka melakukan 'skinship'. Harap minggir jika tidak suka FL yang seperti ini.
Memuat tema 'dark' berkedok romance, bijaklah dalam me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di sebuah gedung tinggi yang ada di kota Seoul tampaklah seorang gadis bersurai abu-abu tengah berdiri di atas sana dengan netra heterocromia-nya yang menatap pemandangan kota dengan pandangan datar.
Angin berhembus kencang menerpa dirinya yang tak lantas membuat si gadis beralih tempat meski udara begitu sejuk nan menusuk hingga ke tulangnya.
Sudah tiga hari berlalu dan kakinya yang patah pun sudah mulai membaik begitu pun dengan traumanya yang perlahan sudah tak lagi mengusik kehidupannya.
Walaupun tak dapat dipungkiri masih ada jejak kelam yang tak semudah itu untuk dihilangkan dari ingatannya.
Sentuhan orang itu masih membekas di dirinya hingga terkadang (Name) sering kali merutuki dirinya sendiri yang tak bisa melawan sampai membiarkan orang itu menyentuh dan menciumnya dengan paksa.
"Menjijikkan..."
Merenung dan berpura-pura bahwa dirinya telah baik-baik saja itulah yang beberapa hari ini ia lakukan, melelahkan. Rasanya ia ingin menangis dan berteriak keras atau apapun yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan perasaan menyesakkan ini.
"Aku tidak baik-baik saja."
Seharusnya kalimat itulah yang ia katakan ketika orang terdekatnya bertanya apakah dirinya baik-baik saja, namun selalu saja kalimat dusta yang terlontar dari mulutnya yang diiringi dengan senyum penuh kepalsuan.
Dia sering melakukan itu dulu, hingga sekarang dapat dengan mudah melakukannya.
"Aku baik-baik saja."
"Tak perlu berbohong hanya karena tidak ingin orang lain mengkhawatirkanmu."
"Saat terluka maka katakanlah itu terasa sakit, saat kamu bersedih maka menangislah, itu adalah hal yang normal untuk setiap manusia [Name]."
"Tapi melakukan itu akan membuatku menjadi orang yang lemah."
Kecerian dan senyum tulusnya kini menghilang tersapu oleh topeng kepalsuan yang dirinya pasang untuk membentengi diri dari kerapuhan yang menusuk direlung hati.
"Selamatkan dia lebih dulu!"
"Tolong selamatkan dia! Jangan aku!"
"Aku mohon! Kenapa kalian tidak mendengarkanku! Aku bilang selamatkan dia lebih dulu!!"