Sepenggal Kisah Lama {3}

334 43 3
                                        

Masa lalu Yoon [Name]

Bab Ketiga {Last}

"Tanpamu, hancurlah mimpiku."

"Tidak ada yang baik-baik saja, saat kamu tidak lagi bersamaku."

"Kamu adalah alasan mengapa aku bertahan, ketika kamu tak lagi ada disisiku. Maka untuk siapa lagi aku hidup?"

➷➹➷➹➷➹➷➹➷➹➷➹➷➹➷

Setelah kejadian dimana sang ibu untuk pertama kalinya main tangan dengannya, kini hari-hari pun berlalu begitu saja dan hubungan [Name] dengan Sooyoung pun berakhir menjadi canggung.

Tak lagi ada interaksi di antara mereka seperti hari-hari sebelumnya, [Name] yang selalu menghindar dan Sooyoung yang selalu terhalang oleh kesibukan ketika ingin memperbaiki apa yang telah retak di antara dirinya dan putrinya.

Dan untuk Eunseo, wanita tua satu itu tampaknya sedang mencoba berbagai cara untuk menjauhkan [Name] dari Jihoon.

Tetapi [Name] yang sudah muak dikekang pun selalu berhasil menggagalkan segala rencana sang nenek untuk menjauhkannya dari Jihoon dan melindungi lelaki itu dengan mengancam Eunseo menggunakan kelemahan sang nenek yang sudah lama [Name] ketahui.

Dengan begitu untuk sementara waktu [Name] pun bisa tenang, sebab setelah diancam neneknya itupun terlihat tak lagi mencoba untuk mengusik Jihoon-nya.

Walaupun tak dapat dipungkiri [Name] masih waspada terhadap wanita tua itu, sangat tahu bagaimana watak sang nenek yang jelas takkan mudah menyerah begitu saja demi mencapai apa yang dia mau.

"Sedang memikirkan apa hm?" Jihoon tiba-tiba datang dari belakang dan mengejutkan [Name] yang semula sedang termenung di bangku taman yang menjadi awal pertemuannya dengan sang kekasih.

Menoleh dan tersenyum tipis ketika Jihoon mulai mendudukkan dirinya di sampingnya. "Tidak... Bukan apa-apa." Jawabnya dengan air muka ceria, seolah ekspresi sedih sebelumnya tak pernah ia tunjukkan.

Jihoon yang sadar bahwa sang kasih tengah menyembunyikan sesuatu pun hanya menatap sang dara dalam diam, meski khawatir dan penasaran namun dia memilih untuk tetap bungkam. Memberikannya waktu sampai [Name] siap untuk bercerita dengannya.

"Mau apel?" Tawar Jihoon sambil menunjukkan sekeranjang buah apel merah ke hadapan sang gadis yang lantas terdiam melihatnya. "Dapat dari mana itu?" Tanya [Name] heran, pasalnya keranjang buah yang Jihoon bawa berwarna merah muda dan ada hiasan bunga yang jelas terlihat begitu feminim untuk lelaki gagah seperti Jihoon memilikinya.

Jihoon yang ditanya pun sontak tersedak ludahnya sendiri ketika melihat kekasihnya tampak menahan tawa kala melihat warna dari keranjang buah yang dia bawa. "...Hanya ini yang tersisa." Jawabnya pelan dengan semburat rona merah segera menghiasi pipinya hingga ke leher.

[Name] pun terkekeh, lantas dengan gemas dia mencubit pipi Jihoon yang memerah. "Aigoo... Pacarnya sih ini? Jadi pengen kugigit." Gemasnya dengan kedipan nakal yang membuat Jihoon semakin memerah.

"H-hentikan!"

Dan [Name] tertawa puas setelahnya, melihat bagaimana manisnya Jihoon ketika sedang salah tingkah. Membuatnya merasa gemas dan terasa desiran hangat di dalam dada, beginilah rasanya jika seseorang memiliki orang yang dicintai dan memahami dengan benar soal dirinya.

Tak banyak bertanya dan selalu mencoba menghiburnya melalui segala sikap dan kalimat hangatnya yang terasa begitu tulus, tak pernah memaksanya untuk bercerita dan selalu berkata bahwa dia akan menunggu sampai dirinya sendiri siap untuk meluapkan perasaan yang menyesak di dalam dada.

Eleceed X ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang