Chapter 77 : Akhirnya Bangun Juga

882 117 13
                                        

Rumah Sakit Shinhwa

Terlihatlah sesosok pemuda tinggi dengan tampang datarnya tengah duduk di samping brangkar sambil memandang penuh kerinduan pada (Name) yang masih belum terbangun.

Dan dikala air mata secara tiba-tiba mengalir keluar dari mata si gadis pemuda tersebut pun dengan lekas menyekanya dengan jemari.

"Kau menangis..." Ucapnya menatap wajah ayu (Name) yang sedikit pucat. "Apa yang sedang kau mimpikan sebenarnya?" Lirihnya bertanya pelan sambil mengusap lembut pipi (Name) yang tirus.

Menunduk dan mengecup lama kening (Name) seraya berharap bahwa semua mimpi buruk segera menjauh dari alam mimpi sang putri tidur.

"Lekaslah bangun (Name), aku─" Dia menjeda sembari menatap dalam wajah dari gadis itu yang telah menjadi pusat dunianya. "Aku merindukanmu." Lanjutnya berkata dengan tulus dari lubuk hati, benar-benar sangat merindukan sang gadis.

"(Name), aku ingin makan jajangmyeon bersamu lagi. Karena itu cepatlah bangun."

Setelah beberapa lama tinggal disana pemuda yang tak lain adalah Wooin itupun akhirnya beranjak pergi dari sana meninggalkan si gadis dalam sepinya kamar rawatnya.

Tak lama usai kepergian Wooin sang putri tidur pun perlahan-lahan mulai menunjukkan tanda-tanda akan segera terbangun dari komanya.

Jemari-jemari lentik itu bergerak pelan dan kemudian disusul dengan kedua kelopak matanya yang segera terbuka dan tampaklah kedua iris mata beda warnanya yang sudah lama tak terlihat.

Sepasang mata indah itu mengerjap pelan guna menyesuaikan cahaya lampu yang begitu terang dan sedikit menusuk retinanya.

Melepas pelan infus yang terpasang di tangan kiri seraya kemudian bangkit perlahan walau badan terasa kaku namun dengan segala upaya dia pun berhasil duduk dan menyandar pada headboard brangkarnya.

Memandang tangan kanannya sejenak yang telah sembuh sebelum kemudian beralih menatap ke arah langit senja diluar sana melalui jendela kamar rawatnya.

(Name) pun tersenyum. "Silvanna, terima kasih untuk semuanya." Ucapnya tulus.

"Jika kau benar-benar berterima kasih, maka berlututlah nanti di depanku." Sahut Silvanna dari dalam pikiran (Name) yang tentunya membuat si gadis remaja pun tertawa kala mendengar kalimat bernada angkuh tersebut.

"Jugullae?" Balas (Name) menghentikan tawanya seraya jemari tengah pun teracung ke depan dengan diiringi ekspresi kesalnya.

"Hahaha!" Tawa puas Silvanna terdengar sebelum kemudian dia memutuskan perbincangan mereka dan menghilang.

(Name) pun menggelengkan kepalanya pelan kala mendapati tingkah menyebalkan Silvanna barusan.

"Haus.." (Name) melihat ke arah nakas dan hanya menemukan gelas kosong disana, beralih ke meja yang terletak di tengah ruangan dan ternyata ada teko berisi air disana.

Lantas ia pun beranjak hendak turun namun karena badan yang masih terasa kaku (Name) pun berakhir nyungsep ke lantai.

Sruk Bruk!

"Aw! Bajing─" Baru saja mulutnya hendak melontarkan kalimat mutiara namun sudah keburu di sela oleh suara benda terjatuh.

Gedebug!

Tersentak kaget (Name) pun segera menoleh ke asal suara dan menemukan keranjang buah jatuh di lantai sana juga ada sesosok tak asing yang tengah berdiri kaku di dekat pintu, kedua matanya terpaku menatap padanya yang sedang dalam posisi bak suster ngesot.

Eleceed X ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang