Plak! Kepalanya tertoleh cepat ke arah kanan tatkala sebuah tamparan melayang ke wajahnya dikala dia baru saja menginjakkan kaki di sebuah ruangan milik salah seorang keluarganya.
"Dasar anak sialan!" Maki seorang wanita tua dengan tatapan yang sangat tajam, deru nafasnya tampak memburu akibat amarah yang kian memuncak.
Sang gadis yang baru saja ditampar pun hanya menundukkan kepala dengan tangan terkepal erat di samping tubuh.
"Kenapa kau melakukannya?" Wanita tua itu kembali bicara dengan nada yang begitu dingin, sembari mencengkram erat kedua pundak sang gadis yang memiliki tinggi hanya sepinggangnya.
"Maaf..." Lirih sang gadis dengan bibirnya yang meringis tertahan, karena sakit yang terasa pada pundaknya yang tengah di cengkram dengan kuat.
Wanita tua berdecak. "Aku bertanya bukan untuk mendengar kalimat maaf darimu! Jadi katakan padaku, apa yang telah kau perbuat kemarin hm?" Dia mengulang penuh tekanan membuat sang gadis merasakan sesak di dadanya.
Jantungnya berdegup dengan kencang, badannya mendadak gemetar dikala dirinya dituntut untuk menjawab pertanyaan dengan benar.
"Bermain─
Plak! Kepala kecil itu kembali tertoleh, tepat ketika dia baru saja ingin menjawab. Bahkan ucapannya saja belum selesai, tetapi sang nenek sudah lebih dulu menyela dengan kembali melayangkan tangannya padanya.
"Bukankah aku sudah memerintahkanmu untuk belajar dengan benar hari itu? Jadi kenapa kau berani sekali menentangku? Apa alasanmu melakukannya?!"
"..."
Mendapati keterdiaman gadis itu membuat sang wanita tua kembali merasakan amarah dalam dirinya, lekas dia mengangkat tangan hendak kembali memukul sang gadis tersebut yang sontak saja memejamkan matanya.
Namun,
"Hentikan!" Suara lain telah lebih dulu datang dan menghentikan niat sang wanita tua membuat si gadis lantas melirik untuk menemukan sosok pria dewasa disana.
"Ibu, kumohon hentikan! Jangan menghukumnya lagi, tolong." Pinta pria itu dengan penuh permohonan membuat si wanita tua pun mendelikan matanya tajam, meski tampak tak senang dia tetap menurunkan tangannya dan berbalik menjauhi mereka.
"Dasar, anak dan ayah sama saja."
"Sama-sama pembawa sial!"
_o0o_
Usai Kaiden berpakaian kini pria tampan tersebut tengah mengobati Jiwoo dengan kekuatan awakened-nya sembari Jiwoo berbaring di atas sofa dengan posisi tengkurap.
'Kakinya tidak terluka tapi karena Jiwoo melindungiku...' Batin (Name) yang sedang duduk di lantai tepat di depan Jiwoo yang tengah diobati, gadis itu merasa bersalah pada Jiwoo sebab pemuda itu terluka karena dirinya.
"Maaf dan terima kasih." Ucapnya dengan suara pelan nyaris seperti bisikan hingga tak ada yang mendengarnya.
"Untunglah lukamu tidak terlalu dalam dan karena aku sudah kerahkan kekuatanku, jadi kau bisa pulih sedikit lebih cepat." Ucap Kaiden yang sudah selesai mengobati Jiwoo, walau tak terlalu bisa menyembuhkan sepenuhnya. Tapi itu cukup untuk meringankan sakit dan proses pemulihannya Jiwoo.
Kaiden pun lantas berpindah duduk seraya menghela nafas dengan kasar. "Anak ini merepotkan sekali." Keluhnya yang di balas kekehan dari Jiwoo.
Kemudian (Name) yang sudah pindah duduk di samping kucing abu-abu juga Jiwoo yang turut duduk juga pun memandang Kaiden yang sekarang tengah dalam wujud manusianya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eleceed X Reader
Fantasía⚠️Ooc, reverse harem, kissing, fights, blood, obsession, mature. Dll. ⚠️MC bukan FL yang 'baik', sedikit dominan dan suka melakukan 'skinship'. Harap minggir jika tidak suka FL yang seperti ini. Memuat tema 'dark' berkedok romance, bijaklah dalam me...
