Chapter 74 : Untung Deritamu Bukan Deritaku

361 50 0
                                        

Setelah puas menghabiskan waktu bersama dengan kedua orang tuanya kini tinggalah [Name] dan Silvanna berdua di tepi pantai.

Baik Sooyoung dan Yeonjun sudah kembali ke tempat asal mereka masing-masing dan tentunya Silvanna-lah yang telah memulangkan mereka, meski pada awalnya ketiga orang itu sulit untuk dipisahkan karena ketiganya yang saling tak mau berpisah lagi membuat Silvanna harus ekstra sabar saat memberi pengertian pada mereka. Bahwa semakin lama keduanya tinggal di alam bawah sadar [Name], maka akan semakin sulit bagi [Name] untuk bangun dari komanya yang entah sudah berlangsung berapa lama.

Jelas itu adalah hal yang berbahaya ditambah Silvanna akan terkena imbasnya, karena Dewi satu itu menggunakan otoritasnya tanpa izin langsung dari sosok yang sempat dia sebutkan dalam batinnya.

Membawa tanpa izin roh Sooyoung yang sudah tenang di alamnya untuk mempertemukannya dengan [Name], jelas telah melanggar aturan Surgawi ditambah membawa jiwa orang yang masih hidup dari dunia nyata ke dunia [Name] yang sekarang.

Kira-kira hukuman apa yang akan Dewi itu terima jikalau sang 'Yang Mulia' mengetahui perbuatannya ini?

Dan soal [Name] sendiri itu jelas telah mendapatkan persetujuan, karena itu baik Silvanna maupun [Name] takkan terkena masalah ketika mencampuri dimensi lain dengan memasukkan jiwa [Name] ke raga salah satu manusia di dimensi tersebut.

"Sekarang apa?" [Name] bertanya, memecahkan keheningan yang sempat melanda di antara mereka berdua yang termenung menatap laut.

Silvanna diam sejenak, memandangi lautan luas di depannya dengan pandangan yang dalam. Sebelum kemudian menoleh ke arah [Name] yang tengah asik menjahili seekor kepiting dengan terus menimbun hewan kikir itu dengan pasir, hingga sang kepiting terus saja oleng dan terjerembab pada kubangan lumpur yang dibuat oleh [Name] beberapa saat yang lalu.

Dan begitu terus sampai membuat sang kepiting murka dan melempari [Name] dengan batu kecil yang dia angkat dengan kedua capit tajamnya dan setelahnya bergegas pergi ke arah laut meninggalkan [Name] yang cekikikan kala kejahilannya berhasil membuat si kepiting kikir kesal dan pergi.

Silvanna menatap datar.

Dasar manusia biada--

"Kau sudah melupakannya?"

"Hah?" [Name] menoleh, menatap heran Silvanna yang tiba-tiba bertanya seperti itu. Sedang Silvanna sendiri masih dengan tatapan datarnya. "Jihoon, kau belum bisa melupakan anak itu bukan?"

[Name] terkesiap. "K-kenapa... Kenapa kau tiba-tiba mengungkitnya?"

Silvanna menolehkan pandangan, menatap kembali pemandangan laut yang menghantarkan rasa tentram ketika melihatnya. "Jangan terus terpaku dengan masa lalumu [Name], anak itu takkan bisa tenang jika kau tidak juga melepas kepergiannya." Paparnya dengan penuh pengertian, tak ada tekanan sedikit pun di dalam suaranya.

Namun tetap bisa membuat [Name] tercekat ditempat, lidahnya mendadak kelu untuk berucap dan menyanggah perkataan Silvanna yang mengusik batinnya.

"Aku tak bisa..."

Silvanna menoleh kala [Name] akhirnya membalas ucapannya dengan kepala yang kini tertunduk dan jemari tangan terkepal erat di atas paha.

"Aku takkan bi─

"Memang tidak bisa atau kau sendiri yang tidak ingin melepaskannya?" Tukas Silvanna dengan tajam.

Deg!

Deg!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Eleceed X ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang