Kata orang, masa SMA itu masa terindah. Menurut Gavin Junior Ainsley, biasa saja. Tapi untungnya, ada orang-orang spesial seperti ketiga sahabatnya atau teman-teman club basket. Setidaknya, cukup berwarna.
Sampai ketika rasanya hidupnya perlahan ber...
Gavin berencana pergi ke toilet saat seseorang tiba-tiba menepuk lengannya dari belakang dengan pelan. Gavin berhenti dan menoleh. Mendapati seorang pria dengan tubuh atletis dalam balutan pakaian formal yang tidak asing.
Menunduk saat merasakan sesuatu terselip di antara jemarinya. Sebuah kartu nama.
Al. Raven 05. Moonlight Corp.
"Saya sedang menjalankan tugas. Mohon kerjasamanya untuk terus bersama saya sementara waktu, tuan muda," bisik Al, anggota tim Raven itu sedikit menunduk dan memasang senyumnya saat tangannya berjabat dengan milik Gavin. Seolah dirinya sedang berkenalan dengan Gavin seperti orang lain.
Mata Gavin bergerak gelisah dan tangannya berkeringat dingin. Jelas Gavin tengah bingung dan gugup.
"Anda ingin pergi ke to—"
"Merapat. Al. Pukul lima. Bri. Pukul sebelas. Perkecil area. Target lebih dekat dengan Gavin."
Gavin menoleh menatap Al yang berhenti berbicara dan semakin merapatkan tubuh.
Gerakan itu seolah tersinkronisasi dengan beberapa orang. Tersebar di beberapa titik membuat sebuah pola di seluruh ruangan. Sesuai perintah, merapat. Memperkecil pola. Pola pertahanan di bawah komando Dave.
Gavin tentu tidak menyadari itu.
Seluruh tim Raven berbaur. Kecuali pihak musuh yang kelewat hati-hati dan membaca pergerakan dengan serius, tidak ada yang menyadari itu.
Jordan merasa gelisah di tempat. Rasanya ingin sekali mengambil pistol dan segera menarik pelatuk untuk melumpuhkan target supaya Gavin tidak perlu didekati oleh gagak sialan itu.
"Al. Almost clean. Target mundur. Jordan stay there!" bentak Oliv geram pada Jordan yang hendak mendekat ke arah Gavin.
"Hugo get ready. Lumpuhkan target"
Jordan mendengus, menatap lurus ke arah Al yang perlahan memberi jarak pada Gavin. Nasib baik, Al. Jordan mengurungkan niat untuk melubangi kepalamu.
,—
"Tolong segera tekan tombol kecil ini jika terjadi sesuatu atau jika Anda menyadari hal mencurigakan," jelas Al, memasang sebuah tombol di pergelangan blazer Gavin. Gavin mengangguk kecil.
Mereka berdua tengah berjalan beriringan menuju toilet.
Target sebelumnya sudah berhasil Hugo lumpuhkan. Jadi pertahanan dapat sedikit mengendur meskipun tim inti masih menyisir lantai pesta. Tapi meskipun begitu, tidak seharusnya Al mengendurkan pengawasan.
"FUCK! AL! ADA TARGET LAIN! MERAPAT KE BARAT!"
Ribut-ribut saling menyusul dari earpeace sepersekian detik setelah seruan Oliv terdengar. Pada sepersekian detik itu, Al kecolongan.
Untuk sesaat, pandangan Gavin menjadi gelap. Itu buruk. Detik berikutnya ada sesuatu yang mengalir di sela-sela rambut di kepala sebelah kiri yang mati rasa.
Pandangannya berkunang-kunang. Gavin linglung. Seperti kehilangan sebuah plot utama. Semuanya tidak jelas. Seolah berada dalam mimpi yang alurnya lompat tidak tentu arah. Tapi ini bukan mimpi.
Dirinya hanya sedang dalam perjalanan menuju toilet, mendengarkan Al mengenai tombol kecil itu. Al tiba-tiba berhenti sebentar. Lalu sesuatu terjadi.
Benar.
Seseorang menariknya di pertigaan lorong. Begitu kuat, membenturkan Gavin pada dinding sehingga kepalanya terluka. Nyerinya baru terasa bersamaan dengan kesadarannya yang perlahan merayap ke permukaan. Memandang ke depan, banyak senjata yang teracung tinggi. Gavin dapat merasakan seberapa erat Al memegang pistol itu, menunggu Oliv menurunkan tangannya.
"Saya tidak punya urusan dengan kalian! Saya hanya perlu anak ini!" suara bariton itu menusuk telinga Gavin atau bahkan seluruh tubuhnya.
Tangannya yang terkunci di belakang tubuh dan pisau yang menggores lehernya tidak lebih melumpuhkan pergerakannya dibanding suara itu. Suara yang sangat Gavin kenali. Suara sang ayah.
Oliv memegang erat pistol yang tersimpan di pinggang sementara tangannya yang lain masih teracung tinggi menghentikan seluruh pergerakan. Bertemu pandang dengan Gavin selama beberapa saat membuat Oliv semakin yakin mengambil keputusan.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Oliv menarik pelatuk. Peluru melesat mengenai lengan ayah Gavin. Dan Gavin tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melarikan diri.
,—
"Ayahmu akan membusuk di penjara... Gavin? Are you okay?"
Jordan meraih kedua tangan Gavin dan menggenggamnya dengan lembut sambil sesekali mengelus punggung tangannya.
Sementara Gavin duduk di pinggir hospital bed, Jordan duduk di kursi, mereka berhadapan.
"Hm yeah, cuma kegores dikit," jawab Gavin sekenanya tanpa membalas kontak mata. Gavin selalu saja berusaha untuk tidak menatap Jordan. Sementara Jordan menatap Gavin dengan dalam.
"Maksudku bukan tentang itu"
Gavin menunduk memandangi jemari mereka yang saling bertaut, "gapapa... kayaknya?"
"kok kayaknya?" protes Jordan mengundang tawa kecil Gavin.
"A little mean, but I don't think it will affect my life. Mungkin justru lebih baik, Jo. Toh, selama ini aku juga udah terbiasa sendirian"
"But from now on you will no longer be alone" pungkas Jordan membuat senyum Gavin mengembang dan Jordan menjadi ikut serta.
"Yeah, I have Oliv, Leo, and Ezra in my life, I'm not alone"
Senyum Jordan seketika luntur. Hampir membuat Gavin terbahak.
"And meee???" bujuk Jordan semakin mengeratkan genggaman tangan.
Gavin mau tidak mau terkekeh geli dan menganggukkan kepala.
"Yeah, and you too. Thank you, Jo" Gavin memasang senyum lebar. Rasanya ada sesuatu yang terangkat dari rongga dadanya. Membuatnya lebih ringan dan tentu saja Jordan turut andil dalam membuat perasaannya seperti ini.
Senyum Jordan tidak kalah lebarnya, menarik Gavin ke dalam pelukan hangat. Rasanya senang bisa melepaskan tali yang membelenggu pemuda di dekapannya ini.
Target terakhir yang telah berhasil dilumpuhkan, menjadi akhir dari masalah yang membuat Gavin terikat dengan keluarga Richardson. Bonusnya, mereka bisa melumpuhkan ayah Gavin juga meskipun dibayar oleh goresan luka.
Tapi jujur saja, Jordan merasa sedikit berat hati untuk melepaskan Gavin setelah ini.
"Gavin... can I kiss you?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
hmmz mau ngomong apa yah...
pertama terima kasih yg telah membaca, apalagi yg vote, apalagi yg komen 😻
kedua info aja nieh terjemahan udh gue taroh di komentar yak, ya sekenanya asal pada tau intinya gitu lah maap jg klo kelewat atau salah dikit wkwk
terussss kayanya abis ini agak slow update yak
bingung gue tuh, takut ga dapet feelnya. perasaan antara couple utama nih gmn ya cara menyampaikannya? (GUE GA ADA PENGALAMAN ROMANTIS ANJIR)
Keliatan gak sih feeling tokohnya? ARGH
yaudah itu aja. klo ternyata emg feelingnya kaga keliatan apalagi nyampe readers gue coba cari solusinya tp klo males yaudah biarin aja tinggal nyari ending ^^