tragedy

13.5K 863 8
                                        


Gavin celingak-celinguk saat sudah dekat dengan gerbang. Mencari dimana Ethan sedang menunggu.

Walaupun sebetulnya tidak perlu banyak usaha untuk menemukannya. Gavin lupa kalau kendaraan mereka cukup mencolok.

Kali ini Gavin akan menaiki Aston Martin Vanquish. Gavin menyeringai senang.

Gavin berjalan mendekati Ethan yang melambaikan tangan dengan semangat. Sedikit terheran mengapa Ethan mengendarai mobil sendirian. Bukankah mereka sedang menghadapi masalah? Apalagi Ethan sedang mengandung. Tidakkah itu berbahaya?

"Haiii Gavinn!! I'm so excited I'm sorry" Gavin tertawa kecil. Ethan memang terlihat sangat antusias. Apakah bawaan bayi?

Mobil kemudian bergerak meninggalkan area sekolah, Gavin melirik beberapa murid yang memerhatikan mobil ini.

"Kita ke mall yaa. Pulang sekolah pasti capek ya? Maaf ya saya ngerepotin"

"Enggak kok kak, santai ajaa. Hari ini nggak banyak kegiatannya" senyum Ethan mengembang mendengarnya.

"emm, itu isinya... bayi??" Gavin bertanya dengan polos sambil menunjuk perut Ethan. Duduknya sedikit miring agak menghadap Ethan.

Ethan tertawa sampai memegangi perut.  Ekspresi Gavin sangat lucu. Mata membulat seperti anak lima tahun yang memang penasaran dan terheran.

"Iya dong, Gavin... Coba pegang nih," Ethan menarik tangan Gavin dan meletakkan di perutnya.

"Kalau kamu beruntung harusnya bisa ngerasain bayinya ge——" belum selesai Ethan bicara, Gavin dapat merasakan gerakan di bawah telapak tangannya.

Matanya membola, Gavin terpaku beberapa saat lalu saat tangannya merasakan gerakan lagi, senyumnya merekah.

"IH, GERAK!" serunya nyaring. Ethan tertawa lagi. Gavin memang seperti anak 5 tahun.

Ethan menoleh saat tidak ada pergerakan lagi dari Gavin. Matanya berbinar dengan air mata menggenang dan bibir menyunggingkan senyum. Ethan tidak yakin perasaan macam apa itu.

Ethan memilih menghentikan mobil di pinggir jalan yang lengang.

"Gavin.." tangannya menggenggam tangan Gavin yang terasa dingin.

"adek..."

"bayi..."

Gavin berkata lirih hampir seperti bergumam masih dengan senyum yang tersungging apik. Ethan mengangguk.

"Iyaa, adek bayi. Gavin mau punya adek?"

Ethan menangkap jelas anggukan samar yang diberikan Gavin. Ethan tersenyum teduh.

"Iya ini adeknya kak Gavin ya?" Ethan mengelus perutnya, seolah sedang bertanya pada sang bayi di dalam perut kemudian menempelkan kembali tangan Gavin.

"Tuh, adek seneng ya di temenin kak Gavin?"

Ethan terkekeh karena bayinya seakan mengerti dan banyak menendang-nendang perutnya. Namun ia justru mendengar isakan dari Gavin.

"Ehhh, kok nangis??" Ethan reflek memegang kedua pipi Gavin dan mengusap air mata di pipi pemuda itu.

Gavin menggeleng. Jujur, dia sendiri juga tidak paham mengapa dirinya menangis. Mungkin karena perasaannya tiba-tiba membuncah. Dirinya takjub. Ini pengalamannya pertama kali melihat dan memegang perut orang hamil!

Apalagi perkataan Ethan membuat dirinya terenyuh. Gavin merasa mereka benar-benar seperti keluarga.

"Seneng ya? Hahaha" Ethan memeluk Gavin dan mengusap belakang kepala Gavin. Gavin mengangguk kecil di pundaknya.

,——

Jordan saat ini berada di kantor, di ruangannya sendiri. Pekerjaannya untuk hari ini sudah selesai dan entah kenapa Jordan memilih tinggal padahal biasanya ia akan pergi berkeliling, mengganggu siapa saja.

Jordan memerhatikan layar monitor yang menunjukkan map. Jordan sedang mengawasi mobil yang di kendarai oleh Ethan.

Alisnya mengernyit saat mobil tiba-tiba berhenti. Dirinya tidak mendapati hal yang aneh. Alarm bahaya juga tidak berbunyi. Tapi kenapa berhenti?

Jordan ingin menghubungi Eadrick tapi pintu ruangannya sudah lebih dulu terbuka oleh Eadrick. Ketika ia kembali melihat monitor, berencana untuk memberitahu Ed, mobil sudah kembali bergerak.

"Kirain kenapa kok belum bikin ribut padahal udah jam segini. Too worried, huh?" Ed mengambil duduk di samping Jordan setelah menarik kursi lain.

"Hah?"

"Lo tertarik sama bocah itu kan?" Ed menyandarkan punggungnya santai sambil menunjuk layar monitor.

"Ew. You okay, Ed?" Eadrick menoleh dan mendorong kepala Jordan kebelakang menggunakan jari telunjuknya.

"Then why, lo diam disini??" Ed menunjuk Jordan yang duduk diam di kursi kerjanya lalu menunjuk layar monitor.

"Lah, kan lo yang bilang, jangan sampai dia jadi target? Apalagi sekarang dia sama suami lo" Jordan memerhatikan kembali layar monitor. Berusaha bersikap biasa saja padahal ia tengah gugup, entah mengapa.

Ed memicingkan mata, mencoba memancing Jordan. Ed terkekeh sebelum ikut bergabung melihat ke layar monitor.

"Mobil mereka sempat berhenti sebentar tadi, sebelum lo masuk."

Jordan menunjuk layar, "Dan mulai dari sini, mobil ini selalu ada di radar. Unknown car" Jordan menoleh pada Ed yang mengangguk dan bergegas memakai jasnya.

"I believe in my husband. Tapi gue harus disana. To finish that."

,——

Gavin dan Ethan sudah sampai di mall yang di tuju. Mereka masih di parkiran. Ethan memilih parkir di ujung, di tempat yang sepi.

Gavin bergegas keluar lebih dulu dan membukakan pintu Ethan. Ethan terkekeh melihat tingkah Gavin.

Tapi senyumnya pudar melihat seseorang yang berada 10 langkah di belakang Gavin.

Gavin terheran melihat perubahan ekspresi Ethan. Sedikit ngeri melihat wajah dingin dan tatapan tajam itu.

Gavin melihat Ethan meraih sesuatu dari pinggangnya. Sekilas ia lihat kilatan besi tajam.

"Gavin, tutup mata!"

Bersamaan dengan seruannya, Ethan melempar benda itu ke belakang Gavin.

Bersamaan dengan seruannya, Ethan melempar benda itu ke belakang Gavin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


top position Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang