Nih update lagi!
Tapi habis ini kalau votenya belum nyampe 250, gue ga bakal update ya!
Happy reading!
Memeriksa ponsel sembari sesekali melihat beberapa orang yang berada di dalam lift, Gavin mengangkat sudut bibirnya. Sosial media tengah gempar sekarang.
RC company memberikan beberapa klarifikasi melalui media-media besar lalu agensi Moonlight menguliti Adinatas tanpa ampun. Jangankan kebusukan besar, sekecil apapun itu kini sudah tersebar luas. Adinata hancur dalam hitungan detik. Oliv memang tidak main-main.
Lift berdenting dan Gavin sudah tiba di lantai yang ia tuju. Hal pertama yang tertangkap dalam pandangannya adalah beberapa orang pria yang berdiri di koridor dengan jarak tertentu.
Ada lima, tiga memakai masker dan dua lagi tidak.
Gavin melewati satu, pria bermasker itu mengenakan jaket bomber hitam, rambutnya cepak, sibuk memeriksa ponsel.
Berjalan lagi, Gavin melewati pria yang memakai jas rapi, berdiri tegak menenteng tas kerja di depan salah satu pintu apartemen.
Di depan sana, di dekat unit apartemennya berdiri dua pria dengan pakaian yang mirip dengan pria pertama lengkap dengan maskernya. Satu sibuk berbincang di telepon, satu lagi hanya diam menunggu sambil bersedekap dada. Gavin merasa pandangan pria itu terus mengikutinya.
Sampai di depan pintu, Gavin sempat menoleh sebentar dan bersitatap dengan pria terakhir yang berada di ujung koridor. Dari tampang dan perlengkapan yang di pakai, pria itu jelas sekali adalah seorang bodyguard. Sore yang sibuk, pikirnya.
Segera setelah memasuki apartemennya, Gavin menuju dapur dan memeriksa lemari es. Dirinya sedang memikirkan akan makan apa malam ini.
Setelah selesai menyiapkan semua bahan yang akan ia masak hari ini, Gavin menuju kamarnya untuk membersihkan diri setelah itu barulah dia mulai memasak. Namun sebelum kakinya menyentuh lantai dapur lagi, bel berbunyi lebih dulu. Gavin jadi putar haluan untuk membuka pintu.
Crek!
Satu moncong pistol tepat berada di kepalanya. Gavin secepat kilat mengangkat kedua tangannya setinggi telinga dan tidak bergerak sedikitpun kecuali matanya.
Tiga pria dengan masker yang Gavin amati tadi kini salah satunya sedang menodongkan pistol di kepalanya. Satu mengamati sekitar dan satu lagi mencoba semakin melumpuhkan Gavin dengan mengikat tangannya.
"Lift sampai dalam sepuluh detik"
Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
Enam
Tujuh
Delapan
Sembilan
Bug!
Gavin menyikut salah satu dari mereka yang sedang mengikat tangannya. Tidak menyia-nyiakan reflek terkejut dari yang lain, Gavin segera mencoba mengalihkan arah moncong pistol.
KAMU SEDANG MEMBACA
top position
RandomKata orang, masa SMA itu masa terindah. Menurut Gavin Junior Ainsley, biasa saja. Tapi untungnya, ada orang-orang spesial seperti ketiga sahabatnya atau teman-teman club basket. Setidaknya, cukup berwarna. Sampai ketika rasanya hidupnya perlahan ber...
