"Sudah lama kita tidak bertemu, hyung."
Suara yang berat dan terkesan ramah itu menyapa gendang telinga Donghyuck. Lelaki yang khas dengan kulit tan nya itu menoleh ke asal suara dan mendapati sosok bertubuh tinggi sudah duduk di hadapan Donghyuck.
Beberapa jam sebelumnya, Donghyuck sempat mengirim pesan kepada Park Jisung, selaku salah satu sahabat dekatnya. Donghyuck ingin menanyakan beberapa hal kepada Jisung sehingga dia mengajak Jisung untuk bertemu dengannya disebuah kafe daerah Gangnam.
Beruntungnya, Jisung memang tidak memiliki jadwal sepulang dari kantor dan tanpa merasa aneh dengan Donghyuck yang tiba-tiba mengajak bertemu, Jisung pun mengiyakan ajakan Donghyuck dan berakhir dengan dirinya duduk di depan Donghyuck sambil tersenyum manis.
Sudah cukup lama Donghyuck dan Jisung tidak bertemu seperti ini, sehingga Jisung terlihat antusias. Senyuman yang terlihat seperti anak TK diberi permen oleh ibunya itu, tidak kunjung luntur dari wajah Jisung.
"Ya, sudah cukup lama. Itu semua karena kita sibuk dengan kehidupan masing-masing" jelas Donghyuck lalu menghembuskan nafas lelah karena dia sendiri bekerja terlalu keras demi sesuap nasi.
Jisung menganggukkan kepalanya setuju. Padahal, tempat kerja Jisung dan Donghyuck jaraknya tidak terlalu jauh. Tetapi, mereka berdua malah jarang menghabiskan jam makan siang mereka bersama-sama. Jisung juga tidak memiliki keberanian untuk menghubungi Donghyuck karena dia terlalu takut.
Takut jika Donghyuck bertanya sesuatu mengenai persahabatan mereka.
Jujur saja, Jisung telah ikhlas dan melupakan semua kenangan indah dan pahit yang terukir di dalam persahabatan mereka. Awalnya, tentu Jisung cukup berat melepaskan persahabatan mereka dan membiarkan persahabatan itu hancur padahal saat itu Donghyuck tengah berjuang di antara hidup dan mati.
Namun, pada akhirnya, Jisung memilih melepaskan mereka dari kehidupannya. Mau seberapa lama pun mereka berteman, yang namanya manusia pasti ada yang datang dan ada yang pergi.
Untuk apa mempertahankan seseorang yang lebih memilih pergi dari hidup kita, bukan?
Tapi...
"Tiba-tiba saja, Jeno hyung, menghubungiku" ucap Jisung memecah kesunyian di antara mereka berdua.
Donghyuck langsung tertarik ketika Jisung menyebut nama "Jeno", lebih tepatnya Lee Jeno.
Lee Jeno adalah salah satu sahabat dari mereka berdua, yang terkenal sabar dan pengertian. Dibalik wajahnya yang terlihat dingin, Lee Jeno adalah si pengamat di dalam persahabatan mereka. Dia tidak pernah marah dan selalu tersenyum ketika sahabat-sahabatnya usil kepadanya. Dia jarang mengatakan bahwa dia menyayangi para sahabatnya, namun dia memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan kepada para sahabatnya bahwa dia menyayangi mereka.
Maka dari itu, Donghyuck begitu heran, ketika dia mendengar semua penjelasan Jisung seminggu pasca dia terbangun dari koma. Donghyuck tidak menyangka, bahwa manusia sesabar Lee Jeno, malah tersulut emosi dan berkelahi dengan Lee Minhyung -salah satu dari sahabat Donghyuck dan Jisung juga.
"Kenapa dia menghubungimu?" tanya Donghyuck sambil menatap lekat Jisung yang terlihat bingung entah karena apa.
Jisung menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menyalurkan rasa bingungnya. Terlihat jelas Jisung kebingungan saat ini dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepada Donghyuck.
"Dia menanyakan kabar kita semua" bisik Jisung, dia heran sekali dengan situasi yang ia hadapi saat ini.
Dan ucapan Jisung membuat Donghyuck mengernyitkan alisnya tidak mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] EVEN IF
FanfictionHal pertama yang dia ketahui ketika dia tersadar dari tidur panjangnya adalah, persahabatan mereka telah hancur. Dia tidak tahu kesalahan apa yang menyebabkan persahabatan mereka retak seperti ini dan tidak bisa dia perbaiki lagi. Persahabatan yang...
![[FF NCT DREAM] EVEN IF](https://img.wattpad.com/cover/363075072-64-k180808.jpg)