30. Keputusan yang Bijak

516 65 1
                                        

Jika ditanya bagaimana hari-hari Lee Donghyuck ketika menunggu tahun ajaran baru. Maka jawabannya, tidak ada hal menarik yang perlu Donghyuck ceritakan karena hidupnya tidak jauh dari bekerja.

Selama liburan yang Donghyuck lakukan adalah bangun tidur, membersihkan rumah, lalu pergi bekerja. Kegiatan yang terus menerus ia lakukan tanpa merasa bosan. Karena, hanya kegiatan itu yang membuat Donghyuck melupakan sedikit masalahnya dan mendapatkan uang untuk menghidupi dirinya sendiri.

Setelah Donghyuck memberikan uang ke si iblis, si iblis itu seperti biasa tidak pulang ke rumah. Donghyuck sudah bisa menduga ke mana perginya si iblis itu dan kenapa tidak pulang-pulang juga ke rumah.

Dan selama beberapa hari ini Donghyuck menjalani harinya, dia jarang sekali bertemu dengan Staff 1810. Padahal, Donghyuck sangat menantikan surat balasan dari dirinya di masa depan. Namun, sudah dua kali si staff kaku itu tidak datang menemuinya dan sampai detik ini, disaat tahun ajaran baru dimulai, Donghyuck belum juga bertemu dengan Staff 1810.

Donghyuck harap di Hari Sabtu nanti, staff tersebut bisa memberikan penjelasan yang bisa Donghyuck terima dengan senang hati.

"Ini baru tahun ajaran baru, Donghyuck, kenapa kau malah memasang wajah cemberut seperti itu?"

Sapaan dari Lee Minhyung membuat Donghyuck reflek melihat pantulan bayangannya di kaca. Dia baru menyadari kalau kedua sudut bibirnya turun, menandakan betapa suramnya Donghyuck menyambut tahun ajaran baru.

"Ck, hanya mendapatkan sedikit kesialan di pagi hari" jawab Donghyuck sekenanya, dia tidak mau mengatakan alasan raut masamnya muncul di wajahnya karena tidak kunjung bertemu dengan Staff 1810.

"Sekarang kau sudah kelas 12, Minhyung. Aku harap kau tidak bermain-main lagi dan fokus dengan perguruan tinggi" ucap Donghyuck dan Minhyung hanya tertawa mendengar nasihat dari sosok yang satu tahun lebih muda darinya.

"Dan aku harap kau, Jeno, dan Jaemin memanggilku hyung. Hei, sebentar lagi aku ini akan menjadi mahasiswa tahu" ucap Minhyung sambil membusungkan dadanya.

"Kita hanya beda satu tahun, untuk apa repot-repot memanggil hyung?"

Kalimat Donghyuck itu hanya dijawab dengan decakan sebal dari Minhyung. Mereka berdua berjalan menuju aula untuk mengikuti upacara penyambutan tahun ajaran baru.

Ketika mereka melewati mading, Donghyuck langsung teringat dengan poster yang tertempel di sana. Sebuah poster yang berisikan lomba musik.

"Kau tidak jadi ikut lomba musik?" tanya Donghyuck sekedar basa-basi saja.

"Untuk apa aku ikut?" tanya Minhyung balik.

"Memangnya kau tidak mau ikut? Kalau tidak salah waktu itu kau bilang, kalau kau mau ikut tapi tidak bisa ikut" jawab Donghyuck berusaha mengingat ucapan Minhyung.

Minhyung terdiam, remaja yang akan berusia 18 tahun itu menghela nafas lelah lalu memberikan senyuman tipisnya pada Donghyuck.

"Kalau kau jadi aku, apa kau tetap ikut? Walaupun orang tuamu menentang dan akan memarahimu, apa kau akan tetap ikut?"

Donghyuck mengatupkan bibirnya, remaja itu mendengus lalu mengedikkan bahunya acuh tak acuh.

"Itu kan hanya lomba, tentu saja aku akan ikut. Kapan lagi aku bisa melakukan hal yang aku suka bukan?" celetuk Donghyuck dan membiarkan Minhyung terdiam di tempatnya.

Minhyung perlahan tersenyum lalu berlari menyusul Donghyuck dan memiting lehernya main-main.

"Yaah, pendapatmu sangat berbeda dengan Jeno. Dan aku akan mengikutimu pendapatmu saja!"

[FF NCT DREAM] EVEN IFCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang