08. Kesempatan

662 87 0
                                        

Donghyuck tidak henti memandangi surat yang sudah beberapa hari ini berada di tangannya. Bahkan, setelah Donghyuck membaca dan memahami isi surat dari dirinya di masa depan pun, Donghyuck tidak sedikit pun tergerak menuruti permintaan yang tertulis di surat.

Beberapa hari ini, Donghyuck memperhatikan gerak-gerik si anak baru itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Na Jaemin?

Si anak baru yang langsung menjadi pusat perhatian setibanya dia di kelas Donghyuck. Semua murid membicarakan sosok Na Jaemin yang dingin dan tidak banyak bicara. Dia juga tampan sampai-sampai beberapa murid perempuan dari kelas lain sampai kakak kelas pun mendatangi kelas Donghyuck hanya untuk melihat si Na Jaemin ini.

Dan yang Lee Donghyuck dapati adalah, si Na Jaemin ini seolah menganggap, sekolah adalah milik orang tuanya. Dia jarang masuk kelas dan suka tertidur ketika guru menjelaskan di depan kelas. Dia juga jarang mengerjakan tugas dan jarang mengikuti piket yang berakhir teman satu piketnya hanya bisa menghembuskan nafas pasrah karena terlalu takut untuk protes.

Melihat perangai Na Jaemin yang menjijikkan bagi Donghyuck, dia benar-benar tidak menyangka, bahwa si berandalan yang suka berbuat seenaknya itu akan menjadi teman bahkan sahabat dekatnya.

Bagaimana bisa Lee Donghyuck betah bersahabat dengan makhluk seabstrak Na Jaemin? Apakah ada sesuatu yang membuat Donghyuck langsung membuka tangannya lebar-lebar menyambut Na Jaemin sebagai sahabat baiknya?

Oh, jangan-jangan, dia yang memanggilku dengan panggilan Haechan? - ucap Donghyuck di dalam hatinya. Dia mulai menduga-duga siapa sosok yang memanggil dirinya dengan panggilan Haechan itu?

Suara pintu rumah yang ditendang dengan kuat menyadarkan Donghyuck dari memikirkan surat yang ada di tangannya. Dia segera menyembunyikan surat itu di dalam saku celananya dan berdecak ketika mendengar racauan dari si iblis yang ternyata masih hidup itu.

Bukankah dirinya di masa depan mengatakan kalau si iblis itu pergi dari hidupnya? Jadi, kapan si iblis itu pergi? Bisakah dari sekarang, saja?

"Hei! Lee Donghyuck! Kau tidak memasak apa-apa?! Aku lapar sekali, sialan!"

Donghyuck mengacak rambutnya dengan kesal, dia melampiaskan kekesalannya di sana. Donghyuck sangat tidak betah tinggal dengan si iblis yang merupakan adik dari ibunya itu.

Donghyuck pikir, jika dia tinggal bersama adik ibunya, maka Donghyuck akan diperlakukan dengan baik. Tetapi, semua yang Donghyuck pikirkan hanyalah angan-angan belaka. Sosok iblis itu ternyata lebih kejam dari ibu tiri.

Remaja 16 tahun itu membuka pintu kamarnya sehingga terdengar suara deritan pintu seperti suara rintihan nenek-nenek tua. Donghyuck berjalan mendekati si iblis yang duduk ongkang-ongkang kaki di atas sofa.

"Apa saja yang kau lakukan di rumah ini, hah?! Sampai kapan kau menjadi anak tidak berguna di rumah ini?!" seru si iblis yang wajahnya sudah memerah karena marah.

Donghyuck hanya bisa diam, jika dia menjawab, maka yang ia dapatkan adalah pukulan di tubuhnya. Tetapi, sepertinya, si iblis memiliki suasana hati yang buruk.

"Kenapa kau diam saja, anak sial?!" serunya marah lalu menedang Donghyuck sampai anak itu tersungkur di atas lantai yang dingin.

Donghyuck meringis sambil menyentuh perutnya yang terasa sakit, dia kesulitan bernafas karena sesak yang ia dapatkan akibat tendangan tidak manusiawi dari pamannya sendiri.

"Ck, membuang waktuku saja!" gerutu si iblis itu yang berjalan keluar dari rumah sambil menendang pintu rumah lagi.

Donghyuck terbatuk dan menatap sinis punggung si iblis yang perlahan menghilang dari pandangannya. Dia benar-benar berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan.

[FF NCT DREAM] EVEN IFCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang