Hari ini Donghyuck tidak mau kecolongan. Dia akan memaksa Jaemin mengikuti kegiatan belajar bersama dengannya hari ini. Kebetulan Donghyuck diberi jatah libur oleh pemilik restoran tempat Donghyuck bekerja. Lalu, si iblis juga sudah lama tidak pulang ke rumah membuat suasana hati Donghyuck sedikit membaik dan memiliki semangat untuk belajar serta mengajari si otak udang Na Jaemin.
Namun, tidak ada tanda-tanda kalau Na Jaemin menghadiri kegiatan belajar mengajar hari ini. Bahkan, waktu telah mendekati jam istirahat dan Na Jaemin tidak ada menampakkan batang hidungnya di kelas. Tas tidak bergunanya saja juga tidak ada membuat Donghyuck ingin sekali menendang remaja itu kalau mereka bertemu nanti.
Jam istirahat pun tiba dan Donghyuck tidak mendengar kabar apa pun dari Na Jaemin. Wali kelasnya yang sempat memohon pada Donghyuck untuk mengajari Na Jaemin pun juga acuh saja dan tidak menanyakan keberadaan anak didiknya itu.
Sepertinya wali kelas mereka sudah menyerah dengan kelakuan Jaemin.
"Kenapa wajahmu murung begitu, Lee Donghyuck?" tanya Minhyung ketika Donghyuck berjalan menuju kantin.
Donghyuck tidak sengaja bertemu dengan Minhyung serta Jeno yang hanya tersenyum pada Donghyuck sebagai bentuk sapaan.
Donghyuck mendelik pada Minhyung karena dia terlampau kesal dengan Na Jaemin yang malah tidak datang ke sekolah padahal dia sudah berencana akan menyeret anak itu pergi ke perpustakaan kota bersamanya.
"Teman sialanmu tidak masuk ke sekolah dan dia sangat merepotkanku" gerutu Donghyuck mengundang tawa dari Minhyung serta senyuman tipis dari Jeno.
"Memangnya apa yang dilakukan Jaemin sampai dia merepotkanmu?" tanya Jeno membuat Donghyuck semakin dongkol ketika kembali mengingat apa yang terjadi sebelum ini.
"Aku menjadi tutornya dan dia malah tidak datang hari ini. Padahal aku ingin menyeretnya ke perpustakaan kota karena kemarin dia dengan seenaknya pergi meninggalkanku" Donghyuck tidak berhenti menggerutu.
Minhyung dan Jeno malah tertawa mendengar kekesalan Donghyuck pada Na Jaemin itu.
"Kalau kau sebegitunya ingin belajar dengannya hari ini, nanti pulang sekolah ikut saja dengan kami. Kami tahu di mana tempat persembunyiannya setelah melakukan hal yang luar biasa besar" jelas Minhyung dan Donghyuck mengernyitkan alisnya ketika Minhyung menyebut "hal yang luar biasa besar".
"Apa yang si bodoh itu lakukan?" tanya Donghyuck penasaran.
Minhyung memasang wajah pura-pura terkejutnya, "Kau tidak tahu? Na Jaemin menghabisi Kim Sungwoon sampai-sampai anak malang itu masuk UGD. Kasihan sekali. Tapi, dia pantas mendapatkannya walaupun tulangnya ada yang patah karena Jaemin."
"Sepertinya, Na Jaemin tidak membutuhkan kita untuk menghabisi Kim Sungwoon" celetuk Jeno dan Donghyuck tidak peduli akan hal itu.
Dia shock karena Jaemin mematahkan tulang seseorang sampai-sampai masuk UGD.
Sekali lagi, Donghyuck mempertanyakan, kenapa dia bisa bersahabat dengan manusia sebengis Na Jaemin?
***
Ruangan ini tidak terlalu sempit, namun mampu memberikan sensasi sesak di dada hanya karena keheningan panjang di antara dua manusia yang merupakan ayah dan anak itu. Tidak ada yang berbicara sejak Na Jaemin dipanggil oleh Na Jaehyuk untuk menemuinya di ruang kerjanya.
Jaemin tentu memenuhi panggilan sang ayah. Dia tahu apa yang ingin ayahnya katakan sampai-sampai tidak memperdulikan kalau Jaemin harus berangkat ke sekolah hari itu.
Ketika Jaemin masuk ke dalam ruang kerja ayahnya, dia hanya diam dan menatap sang ayah yang sudah tidak muda lagi. Terdapat beberapa rambutnya mulai memutih serta kerutan di dahi serta sudut matanya. Kantung matanya pun juga terlihat dan sedikit hitam menandakan bahwa sang ayah sangat bekerja keras demi memenuhi kebutuhan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] EVEN IF
FanfictionHal pertama yang dia ketahui ketika dia tersadar dari tidur panjangnya adalah, persahabatan mereka telah hancur. Dia tidak tahu kesalahan apa yang menyebabkan persahabatan mereka retak seperti ini dan tidak bisa dia perbaiki lagi. Persahabatan yang...
![[FF NCT DREAM] EVEN IF](https://img.wattpad.com/cover/363075072-64-k180808.jpg)