15. Huang Renjun

745 76 1
                                        

Donghyuck meringis ketika merasakan sudut bibirnya yang sakit ketika digerakkan. Ingatan Donghyuck kembali ke malam di mana si iblis pulang dalam keadaan mabuk.

Si iblis itu kalah berjudi dan lagi-lagi meminta uang kepada anak yang masih berusia 16 tahun. Seorang anak yang bekerja banting tulang demi mencukupi kebutuhan mereka berdua.

Si iblis itu dengan membabi buta memukul Donghyuck bahkan tidak peduli dengan rintihan yang lolos dari celah bibir anak itu.

Akibatnya, pagi ini Lee Donghyuck terbangun dengan tubuh penuh lebam serta luka sobek di sudut bibirnya. Remaja itu meringis sekali lagi ketika mencoba berdiri untuk bersiap ke sekolah. Dia menghembuskan nafas lelah dan tidak berhenti berdoa kepada Tuhan untuk segera mencabut nyawa si iblis itu.

Walaupun tubuhnya mati rasa, Donghyuck tetap memaksakan diri pergi ke sekolah karena dia tidak mau melewatkan satu materi pun demi nilainya.

Setelah bersih-bersih dengan perjuangan, Donghyuck pun berangkat ke sekolah dengan sedikit tertatih. Dia sudah berusaha menutupi luka sobek di bibirnya tetapi karena tidak ada hasil yang memuaskan, Donghyuck menutupnya dengan masker. Flu akan dia jadikan alasan jika ada yang bertanya kenapa dia menggunakan masker.

Karena tubuh yang sakit karena pukulan dari si iblis membuat Donghyuck merasa jarak rumah ke halte begitu jauh. Dia bahkan mengeluarkan peluh yang cukup banyak padahal tidak biasanya dia seperti itu ketika berjalan menuju halte.

Setibanya Donghyuck di halte, dia melihat seseorang yang mengenakan seragam duduk di bangku halte dengan kepala menunduk dalam. Rambut hitam kecokelatannya cukup panjang dan berantakan sehingga Donghyuck tidak bisa melihat wajah seseorang itu dengan jelas.

Donghyuck duduk di bangku halte seperti murid laki-laki itu. Pandangan mata Donghyuck tertuju pada lebam di dekat mata si murid serta sudut bibirnya yang robek seperti Donghyuck. Lirikan mata Donghyuck tertuju pada jemari si murid yang gemetar.

"Tanganmu..." gumam Donghyuck dan dia tidak sadar bahwa gumaman kecil itu tentu terdengar oleh si murid yang duduk tepat di sebelahnya.

Murid laki-laki itu mendongakkan kepalanya dan tatapan matanya begitu hampa ketika bertemu dengan Donghyuck. Laki-laki itu menyembunyikan tangan gemetarnya ke dalam saku celana dan mengabaikan gumaman Donghyuck yang mungkin terdengar tidak penting untuknya.

Donghyuck memilih diam lalu tanpa sadar dia kembali memperhatikan murid laki-laki yang duduk di sebelahnya. Seragam yang dikenakan laki-laki itu jelas dari sekolah yang lokasinya tidak jauh dari sekolah Donghyuck. Tatapan mata Donghyuck jatuh ke name tag yang tersemat di almamater si murid itu.

Huang Renjun.

Bus tujuan Donghyuck pun tiba dan dia yakin kalau anak laki-laki itu juga menaiki bus tujuan yang sama dengan Donghyuck. Tetapi, sampai pintu bus tertutup pun, si murid bernama Huang Renjun itu masih betah duduk di bangku halte.

***

"Kenapa kau menggunakan masker?"

Suara itu sudah begitu akrab di pendengaran Donghyuck. Dan entah sejak kapan Minhyung sudah akrab saja dengannya. Padahal, sahabat pertama Donghyuck itu Jaemin bukan? Tapi, kenapa orang pertama yang akrab dengan Donghyuck adalah Minhyung?

"Flu" jawab Donghyuck singkat lalu dia berjalan cepat meninggalkan Minhyung yang dengan mudah menyusul Donghyuck.

"Kau sangat rajin, kalau aku jadi kau, aku lebih memilih tidak masuk dan beristirahat di rumah" celetuk Minhyung.

Minhyung berjalan di samping Donghyuck sambil membicarakan banyak hal tanpa menyadari kalau Donghyuck tidak nyaman dengan kedekatan mereka.

[FF NCT DREAM] EVEN IFCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang