Donghyuck tidak berhenti tersenyum sepulangnya dia dari pantai pada hari itu. Dia kembali teringat setelahnya mereka memesan air kelapa lalu membicarakan banyak hal seolah-olah mereka sudah berteman selama bertahun-tahun.
Sesampainya Donghyuck di rumah, dia tertegun ketika melihat Staff 1810 berada di depan pintu rumahnya. Melihat keberadaan staff kaku itu membuat Donghyuck mempercepat langkah kakinya menghampiri seseorang yang telah membimbingnya selama ini.
"Bukankah aku diberi waktu sampai lusa?" tanya Donghyuck.
"Benar tuan, tapi saya tetap datang karena bisa saja tuan telah memutuskan apa yang akan tuan lakukan selanjutnya" jelas Staff 1810 dan Donghyuck menganggukkan kepalanya mengerti.
Dia pun mempersilakan staff kaku tersebut masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, mereka berdua akan duduk di atas sofa sebelum akhirnya salah satu di antara mereka membuka percakapan. Namun, hari itu, Staff 1810 tidak membuka percakapan terlebih dahulu, dia malah memperhatikan suasana di rumah kecil milik Donghyuck.
Sedangkan Donghyuck, dia lebih memperhatikan Staff 1810 yang jarang sekali menunjukkan ekspresi di wajahnya. Bahkan, Donghyuck tidak pernah melihat senyum terukir di wajah staff kaku itu.
Sekali saja, Donghyuck ingin melihat staff itu tersenyum sebelum mereka berdua benar-benar tidak akan bertemu lagi. Memang staff kaku itu begitu menyebalkan, namun, kehadirannya yang hanya seminggu sekali itu cukup menghibur Donghyuck yang suka merasa kesepian ketika sendirian di rumah kecil ini.
"Bisakah kau tersenyum padaku, sekali saja?"
Donghyuck mengatakannya tanpa sadar. Dia sendiri terkejut karena tidak menyangka mengucapkan kalimat seperti itu pada Staff 1810 yang hanya memandangnya dengan tatapan datar seperti biasa.
"Apa tuan memerlukan waktu untuk memikirkan keputusan tuan?"
Donghyuck mengatupkan bibirnya sebelum akhirnya dia mendengus jengkel. Bukankah seharusnya dia bisa menebak kalau staff kaku itu tidak akan menanggapi hal-hal yang tidak berhubungan dengan surat?
"Sebelum itu, aku ingin menggunakan penawaranku. Masih ada dua lagi kan?" ucap Donghyuck dan staff kaku itu menganggukkan kepalanya.
Donghyuck membuka dan menutup mulutnya kembali. Dia melakukannya beberapa kali karena ragu, haruskah dia menggunakan sisa penawarannya sekarang?
Staff 1810 begitu sabar menunggu Donghyuck membuka mulutnya. Tidak seperti biasanya, staff kaku itu selalu menyuruh Donghyuck mengatakan apa yang ingin ia katakan secepatnya dengan alasan waktu mereka terbatas. Tapi, sekarang, Staff 1810 hanya duduk diam menanti kalimat yang akan Donghyuck ucapkan padanya.
"Apakah teman masa kecilku, salah satu dari mereka?" tanya Donghyuck.
Staff 1810 sedikit mengernyitkan alisnya dan Donghyuck menyadari hal itu. Dia bingung melihat pergerakan staff kaku yang bahkan jarang berekspresi itu. Donghyuck menyadari kalau staff tersebut bingung dengan pertanyaan Donghyuck.
Dia bingung harus menjawab apa.
"Iya, tuan" jawab Staff 1810 pada akhirnya.
Donghyuck menganggukkan kepalanya mengerti. Di dalam ingatannya, nama teman masa kecilnya itu adalah Jae.
Di antara mereka yang namanya berawalan Jae hanya Na Jaemin.
Huh?
Tidak mungkin kan?
"Penawaran anda tersisa satu tuan, apa anda ingin menggunakannya sekarang?"
Suara Staff 1810 membuat Donghyuck tersadar dari lamunannya. Jantungnya berdegup kencang dan memutuskan untuk tidak berpikir yang macam-macam dulu kalau belum menemukan buktinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] EVEN IF
FanfictionHal pertama yang dia ketahui ketika dia tersadar dari tidur panjangnya adalah, persahabatan mereka telah hancur. Dia tidak tahu kesalahan apa yang menyebabkan persahabatan mereka retak seperti ini dan tidak bisa dia perbaiki lagi. Persahabatan yang...
![[FF NCT DREAM] EVEN IF](https://img.wattpad.com/cover/363075072-64-k180808.jpg)