Jaemin tidak henti menggerutu ketika ponselnya tidak berhenti bergetar karena panggilan tanpa henti dari Lee Minhyung. Jaemin yang ingin menikmati waktu santainya dengan pergi keluar sambil menghirup udara malam harus terganggu karena Minhyung terus saja menghubunginya, bahkan setelah Jaemin keluar dari minimarket untuk membeli soda kesukaannya, Minhyung tidak menyerah menelfon Jaemin sampai Jaemin mengangkat panggilan itu.
"Kau ini kenapa sih?! Tidak bisakah kau berhenti menggangguku?!" seru Jaemin kesal, mengabaikan seorang ibu paruh baya yang mendelik padanya karena suara keras Jaemin.
"Jaemin-ah, datanglah ke tempat biasa~ aku kesepian, aku butuh teman~"
"Ck, jadi menurutmu kami ini apa, hyung?!"
Jaemin mendesis kesal ketika mendengar suara Minhyung dan samar-samar suara Chenle diseberang sana. Jaemin bisa menebak kalau Minhyung mabuk dan penyebab Minhyung mabuk pasti karena ada masalah dengan orang tuanya.
"Aku ke sana."
Setelah mengatakan itu, Jaemin memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya lalu duduk di kursi yang tersedia di depan minimarket. Dia membuka botol soda yang ia beli lalu meminumnya sampai habis setengah.
Ujian kenaikan kelas telah selesai dan Jaemin tidak mau repot-repot memikirkan hasilnya. Dia tidak peduli jika nanti dia berakhir tinggal kelas atau malah beruntung naik kelas. Yang terburuk, Jaemin akan pindah sekolah dan ayahnya tidak segan-segan mengirim Jaemin ke sekolah berasrama dengan tingkat kedisiplinan setara dengan sekolah militer.
Tiba-tiba saja Jaemin kepikiran dengan saudaranya, Huang Renjun. Apakah anak itu berhasil menyelesaikan ujiannya dengan baik? Apakah Renjun akan berhasil membuat Na Jaehyuk bangga lalu akan membandingkan Jaemin dengan Renjun?
"Memikirkannya membuatku sakit kepala" desis Jaemin sebal. Dia menegak soda yang ia beli sehingga tersisa sedikit.
"Na Jaemin!"
Jaemin mengerjapkan matanya ketika mendengar suara yang ia kenal. Jaemin mencari asal suara tersebut dan mendapati Donghyuck berlari ke arahnya dengan wajah panik.
"Apa Minhyung menghubungimu?" tanya Donghyuck dan Jaemin menganggukkan kepalanya.
"Kau kenapa santai sekali sih?! Minhyung membutuhkan kita tahu! Dia bilang, dia kesepian! Suaranya juga terdengar menyedihkan, sepertinya dia memiliki masalah yang berat."
Jaemin berdecak mendengar Donghyuck berbicara seperti itu. Sepertinya Donghyuck dengan mudah termakan racauan Minhyung yang mabuk.
"Dia itu sedang mabuk, Donghyuck. Apanya yang kesepian? Di sana sudah ada Chenle. Bisa juga ada Jeno di sana karena Minhyung pasti menghubungi Jeno terlebih dahulu" jelas Jaemin membuat Donghyuck mengernyitkan alisnya.
"Mabuk?" gumam Donghyuck terdengar tidak percaya.
"Ikut aku, maka kau akan mengerti."
***
"Dia pikir, semua masalah di dunia ini akan selesai dengan alkohol? Aku pikir Minhyung ini pintar karena berprestasi, ternyata dia luar biasa bodoh."
Chenle tertawa mendengar gerutuan Donghyuck yang lebih mengarah ke penghinaan. Suara dentuman musik tidak membuat suara tawa Chenle teredam. Remaja 15 tahun itu terkikik sambil meraih satu kaleng bir di atas meja namun tangannya sudah dipukul oleh Donghyuck.
"Kau mau mati?" ancam Donghyuck dan Chenle hanya bisa memajukan bibirnya karena tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau.
"Kalau haus, minum saja milkshake punya Jisung atau orange juice punyaku" ucap Donghyuck dan Chenle mau tidak mau melakukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[FF NCT DREAM] EVEN IF
FanfictionHal pertama yang dia ketahui ketika dia tersadar dari tidur panjangnya adalah, persahabatan mereka telah hancur. Dia tidak tahu kesalahan apa yang menyebabkan persahabatan mereka retak seperti ini dan tidak bisa dia perbaiki lagi. Persahabatan yang...
![[FF NCT DREAM] EVEN IF](https://img.wattpad.com/cover/363075072-64-k180808.jpg)