mari berteman di ig author = @echanwifeys dm aja nanti di follback kok
~~~~
Selamat Membaca
Monggo Enjoy
~~~~
Double Take - DHRUV
~~~~~
“Kamu berbohong? Aku percaya, namanya juga cinta hehe.”
~~~~~
Kepercayaan diri seseorang memang bisa muncul kapan saja dan di mana saja tergantung dengan suasana hatinya. Percaya diri sendiri sudah menjadi hal yang sangat biasa bagi Rani karena bertemu dengan banyaknya orang denga karakter yang berbeda beda membuatnya mudah berbaur. Perempuan yang tengah asik mendorong troli berisi tumpukan berkas yang akan dihancurkan nampaknya begitu bahagia dan percaya diri disaat rekan kerjanya menatapnya dengan aneh.
“Itu anak divisi mana kok bahagia banget kelihatannya.”
“Emang ada manusia yang bisa bahagia di kantor ini?”
“Lah itu apa buktinya, tuh anak kelihatan banget.”
Seseorang yang tengah dibicarakan itu hanya membalasnya dengan senyuman, dia tidak perduli dengan ucapan orang-orang di sekelilingnya yang tengah membahasnya. Oh ayolah siapa yang tidak bahagia jika rencana yang dia susun dengan sedemikian rupa berjalan lancar. Ia hanya butuh beberapa tahapan rencana untuk menggagalkan niat buruk sang papa.
“Idih seneng banget si pengantin baru.”
“Cangkemu!”
Sinta shock mendengar ucapan pelan namun penuh tekanan dari Rani, melihat Rani yang menahan amarah kepadanya begitu menyenangkan. “Chill bro.”
“Cal cil cal cil, nikah aja belum udah gembar-gembor pengantin baru. Mulut tuh dijaga sedikit napa, dikira murah ngeluarin duit buat nikahan?” tanya Rani dengan tidak santai.
“Lah lo ngapain ngeluarin duit beb sedangkan lo sendiri bisa mandi uang di bathup. Punya suami berduit seharusnya seneng Ran, nggak semua orang bisa beruntung kayak lo.”
“Dih si curut sok iye banget nasehatin gue kayak gitu, udah kayak anaknya Mario Teguh aja.”
“Hahaha nasehat beb, terus gimana rencana yang lo susun itu aman?”
Rani mengacungkan jari jempol untuk menjawab pertanyaan Sinta. “Sampai sekarang sih aman-aman aja, pokok intinya gue harus bikin calonnya papa bisa ilfeel ke gue. Kalau plan A udah jalan, plan B tinggal ngikutinnya mah easy bro.”
“Ati-ati ketahuan sama bokap lo sendiri, Ran,” peringat Sinta.
“Ah aman kali Sin, urusan Papa mah kecil di tangan gue. Lagian juga adiknya keliatan nggak suka gitu ke gue, bisa gue jadiin alasan juga kan?” tanya Rani.
Sinta mengerutkan kening bingung memikirkan apa yang dilakukan Rani hingga membuat pertemuan pertamanya dengan sang sang keluarga calon terkesan bad attitude.
“Lo ngelakuin kesalahan apa sih Ran, masa first impression udah buat calon adik ipar lo sendiri nggak suka.”
“Bukan adek ipar gue beb, orang pernikahannya kan belum dimulai.”
“Iya terus gue nanya ke lo, lo ngelakuin apa kok adiknya calon lo sendiri nggak suka sama lo?” tanya Sinta sekali lagi.
Rani mengendikan bahu ke atas. “Nggak tahu beb, orang ketemu juga biasa-biasa aja. Nggak tahu di mana pokok gue lihatnya waktu benerin selan infus abangnya dia mukanya sinis banget gitu, yaudah bisa gue simpulin kalau dia nggak sama gue kan? Ah nggak usah dipikir kali lagian orang kayak gitu juga nggak penting-penting amat di hidup gue.”
“Yaudahlah males mikir juga gue, habis ngantor kita nonton siksa dajjal yuk Ran,” ajak Sinta.
Rani menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
“Yaelah sombong amat, gue pesenin temat duduk VVIP dah nanti.”
“Bukan itu Sinta, lo tahu sendiri calon gue lagi opname di rumah sakit masa gue hura-hura sama lo. Bisa ditebas nih leher gue kalau ketahuan Papa, jalan-jalan nunggu si Mas ganteng ini sembuh dulu aja.”
“Bilang aja lo udah kesemsem kan sama dia?” tuduh Sinta.
“Nggak anjay.”
“Heleh dibilangin juga ngeyel, jilat ludah sendiri kan lo. Gak dapet bapaknya, anaknya disikat juga,” ledek Sinta.
Rani hanya bisa menggelengkan kepala mendengar Sinta yang terus mengejeknya, ia dan juga sang rekan kerja itu tidak berhenti hingga jam pulang kantor. Bahkan Sinta masih sempat menjulurkan lidahnya di saat akan memasuki taksi.
“Lo kalau tahu orangnya kayak gimana pasti juga seneng Sin, tapi masalahnya dia redflag banget anjir. Tipe-tipe orang yang suka ngatur tapi nggak suka diatur, aneh kan itu.”
Setelah mengatakan itu Rani segera bergegas menaiki motornya dan pulang, dia sepertinya lupa jika memiliki tugas baru yaitu menjenguk Tama. Dia kali ini tidak akan banyak berbicara karena sang papa akan ikut, namun sebisa mungkin rencananya juga akan tetap berjalan.
***
“Bagaimana keadaannya Pak Tama, semua terasa baik?”
“Alhamdulillah baik Pak Imam, bagaimana dengan keadaan bapak sendiri? Saya mohon panggil Tama saja tanpa embel-embel Pak.”
Rani memutar bola matanya jengah melihat sang papa yang begitu sopan kepada orang yang jauh lebih muda darinya. Ia bahkan yakin ada ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perut papanya itu.
Apa sebaiknya dia menyarankan sang papa dengan Tama saja?
Ah sepertinya itu bukan langkah yang tepat malah justru mempercepat kiamat saja. Rani memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan melihat apakah outfit yang dia kenakan saat ini sudah pantas atau belum.
“Masa pakai kemeja basic sama rok kulot kayak gini norak, nggak kan yah?” tanyanya kepada diri sendiri.
Perempuan itu kembali duduk di sofa dengan mengupas apel yang telah dia bawa dari rumah, ia hanya mendengarkan percakapan sang papa dengan Tama tanpa menanggapinya terlalu serius.
“Dulu Rani itu saya suruh masuk kedokteran tapi nggak mau Pak, udah jadi dokter seharusnya dia sekarang dan bisa ngerawat Pak Tama.”
Eh apa ini kenapa namanya dibawa-bawa?
“Rani itu Pak dul- eh sebentar ada telepon, permisi ya Pak” Imam menggantungkan ucapannya dan berlalu untuk mengangkat telepon.
Rani hanya bisa menggelengkan kepala mendengar dirinya yang tengah menjadi bahan pebincangan diantara dua pria itu. Ia menatap Tama yang kebetulan juga tengah menatapnya. “Mas Tama mau apel?” tawarnya.
Tama menggeleng.
“Tumben ada respon, biasanya juga diem aja kayak patung pancoran,” ucap Rani secara lirih takut jika didengar sang empu.
Keterdiaman kedua orang itu terpecah saat seorang suster memasuki ruang inap dan membawakan makan malam bagi sang baginda pangeran. Posisi Tama yang tengah duduk membuat suster itu dengan sigap menatanya di atas ranjang.
Rani kembali melanjutkan kegiatannya mengupas apel dan memotongnya menjadi kecil-kecil, jika Tama tidak mau biarlah dia saja yang makan.
“Hei Rani Mas Tama dibantu makan, kesusahan itu Mas Tama makan pakai tangan kiri.”
Baik Rani maupun Tama sama-sama terlonjak kaget mendengar ucapan Imam yang terkesan seprti teriak, pria itu berbicara di samping pintu keluar masih dengan ponsel yang berada di samping telinga. Rani dengan kaku segera berdiri melihat tatapan tajam sang papa, ia bergerak dengan ragu menghampiri Tama yang menatapnya bingung.
“Ya Allah Papa kenapa jadi orang care banget sih, gue sama Mas Tama ini nggak mau bersama kok dipaksa aja,” gerutu Rani di dalam hati.
.
.
.
STAY SAFE
surabaya hujan mulu dri pgi, di tempat kalian juga?
25 April 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Garis Lakon
Literatura FemininaBerbagai cara Rani lakukan untuk menjauhkan pria yang selama ini selalu di agung-agungkan oleh sang papa seperti dewa. Ia akan bertekad kuat menggagalkan segala cara agar kata sah tidak akan pernah terdengar di telinganya, ia tahu benar bagaimana ti...
