Dengan posisi tengkurab Alvan menatap layar handphonenya yang menampilkan film animasi dengan genre isekai, berkekuatan overpower dan dapat memusnahkan musuh hanya dengan satu kali jentikan jari.
Kreak...
Pintu terbuka di iringi sosok pemuda berwajah datar dengan membawa nampan yang berisi makanan, berjalan pelan ke arahnya.
"Taro di meja bi, nanti Alvan makan" ucapnya tanpa menoleh ke arah lain, karena mata yang masih fokus menatap layar.
"Ekhem.!!" Dehemen pelan ia lakukan, namun itu tidak membuat Alvan terganggu, dan malah lebih memfokuskan dirinya pada film yang masih terus berlanjut.
Alvan yang merasa masih di perhatikan berucap "Bibi boleh pergi, saya masih mager"
Mengerutkan sedikit alisnya, remaja yang membawa nampan itu merasa heran dengan apa yang Alvan lontarkan, apa suara yang baru saja ia keluarkan terdengar seperti suara perempuan?
"Mau sampai kapan kamu melakukan hal itu?" Pada akhirnya dia bertanya karena diri yang sudah merasa jengah di abaikan.
Tapi itu tidak membuat Alvan terganggu, dia masih fokus menatap layar hp nya, bahkan dia tidak mau menggubrisnya sama sekali.
Geram seakan tidak mendapatkan jawaban, remaja itu kembali memanggil, mamun kali ini dengan nada menyentak.
"Alvan.!!"
Sampai akhirnya Alvan menoleh, dengan tatapan malasnya, dia menatap penuh ke arah pemuda tersebut "Apa?"
Menatap tak suka "Kau mengabaikan ku?" Alvan memutar bola matanya malas "ada hal penting tuan Dion?"
Ya pemuda itu adalah Dion, kakak ketiga Alvan.
Dion mendelikan matanya sinis "Sopan kah begitu?"
"Peduli apa gua?"
"Jaga bicara mu Alvan!"
Alvan mengerutkan keningnya bingung "Di saat lo gak tau diri dalam bersikap?"
"Semakin kurang ajar ya kamu!" Hardiknya menatap tajam ke arah Alvan.
Alvan menatap tak kalah tajam "Gak usah banyak bacot, apa mau lo?" Sarkasnya.
Dion menghela nafas pelan "makan lah" Menyunggingkan senyumnya Alvan menatap intens ke arahnya "lo peduli?"
Brak!
Dion menaruh nampan itu dengan kasar "jangan buat saya marah Alvan!"
"Kalo mau lo tinggal lakuin, gak usah curhat dulu, gak guna" Timpalnya dan itu malah membuat Dion semakin naik pitam.
"ALVAN.!!" Panggilnya dengan penuh penekanan.
"Pergi! Kalo lo datang cuman buat mau brisik"
Dion yang sudah hampir di batas ke sabarannya, menatap Alvan nyalang "Lancang! Kamu mengusir saya?"
"Lantas? Apa kurang jelas dengan apa yang gua bilang barusan? Lo gak setua itu buat jadi tuli kan?"
"Kurang ajar!" Geramnya marah lalu menarik paksa kerah baju Alvan hingga membuatnya berdiri.
Alvan menyunggingkan senyumnya kala tatapan mereka beradu "orang lemah kaya lo, gak akan sebanding sama gua" ucapnya.
"Sialan!" geram Dion, hingga membuat dia mengangkat tangannya dan akan mengarahkannya pada pipi Alvan.
Namun pergerakannya tertahan, kala tatapan mata Alvan seolah menantangnya, bahkan tak terlihat rasa takut sedikit pun dari sorot matanya.
"Arrghtt!!" racaunya sembari melepas cengkramannya di kerah baju Alvan, dan memilih pergi begitu saja, tanpa berniat berkata lebih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvan's Transmigrasi [End] ✓
RomanceAlvan seorang remaja 18tahun, dengan keahliannya sebagai Hacker handal dengan setatusnya yang menyandang sebagai salah satu sniper terbaik di kalangan organisasinya. Menjelani hidup dengan penuh kekerasan, mengharuskan dia menjadi pribadi yang mandi...
![Alvan's Transmigrasi [End] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368203447-64-k679740.jpg)