Last Chapter

1.1K 55 4
                                        

Jika matahari berporos pada orbitnya apa yang di lakukan bintang yang kadang kala tak menampakan dirinya? Bulan yang katanya sempurna tapi kenapa saparo yang malah terlihat? Apakah karena ada salah satu benda langit yang menghalangi? Atau apa karena bulan sedang enggan untuk menampakan diri sempurna nya?

Tapi ini bukan tentang bulan.

Tapi tentang apa yang Alvan pikirkan, ketika dia sedang duduk termenung menatap langit malam, menikmati sejuknya angin di balkon kamarnya, meski terdapat beberapa cemilan dia merasa enggan untuk sekedar menyentuhnya.

Entah kenapa pemikiran itu tersirat ketika rasa ingin tahu tentang tata surya yang bahkan bukan mata pelajaran yang ia kuasai ataupun dia senangi.

"Bang apa yang harus aku lakukan?" tanyanya pada diri sendiri, ketika rasa gundah mulai menyeruak kedalam pikirannya.

"apa sudah benar yang aku lakukan ini?" tanyanya lagi.

'apa kamu merasa terbebani selama kamu melakukannya?' tanya Al yang kini berbicara dalam pikirannya.

"tidak, aku malah merasa puas dengan hasilnya selama ini"

'lalu apa yang kamu cemaskan? Lakukan saja lagi, sampai kamu merasa itu adalah waktunya'

"Entahlah, sekarang-sekarang ini hati ku merasa tak tega dengan senyuman yang selalu mereka pancarkan padaku, perlakuan manis yang selalu mereka lakukan terhadapku dan aku malah membalasnya dengan acuhan" jelasnya dengan sedikit jeda "meski pada awalnya aku merasa puas dengan apa yang aku lakukan, tapi setelah hampir tiga tahun ini-"

'kurang dari tiga tahun Alvan' potongnya.

"kurang dikit elah"

'4 bulan dari sekarang'

"sama ajah"

'serahmu lah' pasrah Al pada akhirnya 'jadi apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?'

"Aku masih bingung bang, apa aku harus mencoba menerima mereka atau lebih baik seperti ini" jawab Alvan lesu.

'lakukan seperti yang kamu inginkan Alvan, jangan terpaku pada satu, karena hidupmu itu milikmu'

"Apa abang akan menerima segala pilihanku?"

'tentu saja, kenapa tidak?'

"abang memang yang terbaik" gumam Alvan dengan senyuman merkah.

'apapun untuk adek manis abang'

"Alvan" panggilan itu terdengar membuatnya menoleh pada arah sumber suara yang ternyata Lista yang melihat kearahnya.

"Ah bunda, ada apa?" Lista perlahan mendekat, mengulas senyumnya lalu duduk di sebelah Alvan "apa yang sedang kamu lakukan? Bunda pikir kamu sedang berbicara dengan seseorang tadi"

"Memang, aku sedang berdiskusi dengan bang Al" jawabnya.

"Bang Al yah"

"apa ada sesuatu bunda?" tanya Alvan ketika melihat Lista yang terlihat seolah murung.

Menggeleng dengan cepat Lista tersenyum lembut ke arah Alvan "tidak ada, hanya saja bunda merasa ingin berbicara dengan abangmu itu, apa dia tidak pernah mau untuk menampakan dirinya lagi?"

"sesekali abang melakukannya, ketika di rumah papa salah satunya" Lista tau siapa yang di sebut papa oleh Alvan itu, tentu saja kepala keluarga Bagaskara.

"Apa bunda boleh berbicara dengannya?" tanya Lista tersirat akan keraguan dalam ucapannya.

"Bagaimana bang? Bunda ingin bicara dengan abang" Tanya Alvan yang langsung berucap dalam pikirannya.

'apa yang ingin dia bicarakan? Jika tidak penting tidak perlu'

"jangan seperti itulah bang, dia bundaku, aku menyayanginya"

Lista yang melihat kerutan tak suka pada Alvan membuatnya berpikir lebih, apa Al menolak dirinya? "apa yang abangmu katakan Alvan?"

"Kata abang, jika tidak terlalu penting maka tidak perlu" jawabnya polos.

"Eum. Baiklah, tidak apa, memang perkataan yang akan bunda katakan tidak terlalu penting juga"

"Bang..." rengek Alvan yang seolah merasa tak tega dengan nada suara lesu bundanya.

"Jangan memaksanya Alvan tidak apa, bunda mengerti kok" ucap Lista seraya mengulas senyum ke arahnya.

'baiklah abang akan lakukan' pungkas Alvan pada akhirnya.

"Abang mau kok bun, sebentar" setelahnya Alvan memejamkan matanya hingga beberapa saat kemudian mata itu kembali terbuka, dengan tatapannya yang terlihat tajam, wajah yang semula penuh ekspresi itu kini terganti dengan wajah datar yang seolah enggan untuk di dekati.

"Jadi apa yang ingin anda katakatan nyonya?" nada penuh penekanan itu terdengar kentara, suara semula lembut dan hangat kini tersirat akan kalimat yang seolah memancarkan ancaman.

Lista hanya tersenyum sebagai balasan, lalu menggenggam kedua tangan Al "terimakasih Al, terimakasih atas semuanya, terimakasih karena sudah menjaga Alvan dengan baik, meski bunda tau ucapan terimakasih saja tidak cukup untuk membalasnya, tapi tetap bunda akan melakukannya karena hanya ini yang bisa bunda lakukan saat ini" ucapan tulus itu terdengar dari bibir Lista, perlahan air itu menggenang di pelupuk matanya.




-TAMAT-

Anyingaseo barudak....

Akhirnya gua kembali, meyelesaikan satu part terkahir, dan ini adalah part paling panjang yang pernah gua bikin.karena nyampe 5ribu kata lebih.

Tapi mau gua jual ah pdf lengkapnya, Rp5000,- ajh yee, kalo ngerasa masih kemahalan boleh lah nego tipis.

Semuanya ada 34 halaman, kalo minat beli chat ajh wa gua. Ok. 081943347220

Kali-kali pengen nyoba duit hasil jualan karya sendiri. Mwehehehe!!

Dan jangan lupa mampir ke profil gua, karena gua bikin 2 cerita baru :

1. Jadi Antagonis - MC cwe dengan standar kehidupan bar" nya, masuk kedunia novel bukan untuk memperbaikinya, tapi untuk menikmati kehidupannya dan perannya sebagai seorang antagonis.

2. Satu Pijakan Berbagai Arah - Tentang hidup yang di anggap sebagai tanggung jawab, kehidupan yang tak ingin ia singgahi justru dia perani, menanggung beban yang bahkan ia sadar itu bukan lah bebannya.

Sekali lagi. Terimakasih untuk kalian yang udah nemenin gua selama ini :)

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 31 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang