Ruangan yang tak lagi bisa di bilang sunyi, dimana suara yang berbeda saling bersautan dalam satu ruangan. Di mulai dari erangan rasa sakit seolah tak ada yang bermakna, jeritan, sayatan, tembakan bahkan adu senjata tajam menjadi hal lumrah di dalam Mansion Gevano kali ini.
Menuruni tangga dengan tapak kaki yang menggema, dia Renhard perlahan turun melangkah dengan tatapan lurus menatap teman lamanya, atau yang kali ini menjadi musuh terbesarnya.
Karena masa lalu yang tak pernah usai?
Di balik itu terlihat dari sisi kanannya, kakak beradik Arkan dan Gino bertahan dengan sekuat tenaga, kala para bawahannya hanya tinggal beberapa yang bertahan.
Bahkan tak ayal mereka sedikit berjalan mundur ketika tak mampu menopang kembali serangan dari musuh yang mereka hadapi saat ini.
Sedangkan di sisi kirinya, Kanala beserta Reksa yang kembali di persatukan, bertarung dengan sengit saling membantu seolah mempercayakan bagian belakangnya satu sama lain.
Renhard berjalan seirama dengan Raka yaang masih menatap penuh waspada, meski tak dapat di pungkiri ia merasa ada yang membantu mereka dari jarak yang tak dapat ia tempuh.
Sring!
Prang!
Raka menahan serangan belati dari musuh, ketika musuh datang menyergapnya.
Brakht!!
Ini yang ia maksudkan, entah siapa yang membantunya hingga membuat musuh kembali ambrug dengan darah yang keluar dari kepalanya.
Karena tak mungkin jika itu keluarganya, melihat mereka yang masih sibuk dengan urusan mereka sendiri, atau mungkin bawahan Renhard? Tapi dia ingat betul bahwa Opa nya itu tidak memiliki pasukan sniper.
"Opa tau siapa yang membantu kita?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Lakukan apa yang jadi tugasmu saja, kamu akan tau sendiri jika keberadaan dia telah muncul disini" jawabnya yang membuat Raka merasa heran atas jawaban yang Renhard katakan.
Siapa yang di maksud Opa nya?
Hingga Renhard tiba di hadapan orang yang pernah ia anggap sebagai saudara, menatap sengit dengan penuh amarah "Kau masih saja mengacaukan hidupku!" tekannya.
Menarik sudut bibirnya, Reynald perlahan mendekat di kelilingi para bawahannya yang berjumlah sekitar 14 orang menatap waspada melindungi sang tuan dari serangan musuh yang mungkin akan datang secara tiba-tiba.
"Aku memang menginginkanmu dalam setiap hidup ku Ren, dan akan kulakukan apapun untuk itu" jawabnya di iringi senyuman khasnya.
"Menjijikan!"
"Hahaha!! Tenang saja Ren, karena itu hanya asumsi ku dulu" Renhard yang mendengar itu menatap dengan raut tanya "sekarang yang ku inginkan adalah ragamu, hidup atau pun mati" lanjutnya dengan menakankan kata terakhir.
Renhard menyungingkan senyumnya "kau mampu?"
"Kau meragukan ku Ren? Tenang saja, keberadaanmu di sisiku akan membuat mu bahagia meskipun kau mati membusuk sekalipun"
Menggeram marah "bedebah gila!!"
Dor!!
Srengh!!
Tembakan yang secara tiba-tiba Renhard arahkan dapat terhalau ketika musuh atau bawahan Reynald juga menembekan peluru yang sama hingga membuatnya bertabrakan.
Brakht!
Brakht!
Dalam Diam Reynald merasa geram, karena intuk kesekian kalinya pengawal yang melindunginya satu persatu kembali tumbang, meskipun ia tau siapa pelaku di baliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvan's Transmigrasi [End] ✓
RomanceAlvan seorang remaja 18tahun, dengan keahliannya sebagai Hacker handal dengan setatusnya yang menyandang sebagai salah satu sniper terbaik di kalangan organisasinya. Menjelani hidup dengan penuh kekerasan, mengharuskan dia menjadi pribadi yang mandi...
![Alvan's Transmigrasi [End] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368203447-64-k679740.jpg)