Virly turun dari motor sport aport Alvan ketika kendaraan roda dua tepat berhenti di pekarangan mansion Gevano, menatap heran Virly melihat Alvan yang tak kunjung turun dan malah kembali menyalakan kendaraannya.
"Lo gak masuk?"
"Tidak untuk saat ini" jawabnya.
"Kapan?" Tanya Virly kembali dan Alvan malah mengangkat kedua bahunya acuh lalu berlalu pergi menyisakan Virly yang menghela nafas pasrah menatap kepergian Alvan.
Tanpa berpikir panjang Virly masuk ke dalam dengan sbuah senyuman kala mengingat acara bermain mereka, terlebih dia cukup puas kala Alvan sudah tidak menutup diri padanya, seperti dia perlahan menerima keberadaan Virly yang semula dia acuhkan. Mungkin?
"Kenapa lo senyum-senyum kaya gitu?" Sapa seseorang yang ternyata adalah Laksa.
"Serah gua lah, lo siapa?" Sungutnya.
"Songong lo"
Virly mengangkat kedua bahunya acuh, sampai dia kembali berjalan menuju lift "darimana kamu Vir?" Virly menoleh ketika melihat keberadaan ayahnya yang duduk bersama dengan Daddy nya.
"Biasa yah, main" jawabnya enteng
"Alvan tidak bersama mu Vir?" Tanya seseorang yang tak lain adalah Cleo kakak pertamanya.
Gino yang mendengar itu menatap Virly mengesampingkannya aktivitasnya yang bergulat dengan laptop "Alvan bersamamu Vir?"
Vir menggelang "tidak, hanya tadi kita habis bermain bersama?"
"Lalu kemana dia sekarang"
Virly mengangkat bahunya "entahlah Dadd, tadi sempat ku ajak namun dia memilih pergi tanpa menjawab"
"Kenapa dia tidak mau?"
"Mungkin dia jengah disini, yang hanya bisa menyakitinya tanpa ada yang menghargainya" sarkas Virly.
"Virly!!" Tekan Cleo dan Virly berlenggang pergi tanpa mau menghiraukannya.
"Apa sudah sebesar itu bencimu untuk Daddy Alvan?" Gunamnya dengan pandangan lurus kedepan "jika memang kamu enggan untuk datang sendiri maka Daddy yang akan membawamu pulang Alvan" ucapnya lagi dengan sudut bibir yang mulai ia naikan.
•••••
Alvan merapikan dasinya, kala ia menatap pantulan dirinya di cermin, dengan sedikit mengusak rambutnya tanpa niat merapikannya, Alvan keluar dari dalam kamarnya di lantai dua.
Sampai atensinya bertemu dengan Leo dan juga Revan yang duduk di meja makan dengan spotong sandwich serta segelas susu hangat sebagai pelengkap di kala mereka memulai sarapan.
"Apa perlu kita tindak lajuti perkara Deza?" Tanya Revan saat Alvan telah duduk sembari meneguk susunya perlahan.
"Untuk saat ini biarkan, sampai mereka sudah melebihi batasnya" jawabnya.
"Apa dia sudah menjadi bagian dari kita?" Tanya Leo seaaat karena melihat mereka yang seakam peduli dengan adik tingkatnya itu.
"Tidak" Leo menaikan sebelah alisnya atas jawaban Alvan "hanya saja gua ngerasa tetarik untuk menjadikan dia bawahan gua karena keahlian dia yang sama dengan gua, tanpa sepengetahuan kedua temannya itu"
Leo mengetuk dagunya seraya berpikir "boleh juga, lagian anggota lo masih terbilang sedikit untuk lini belakang"
"Tapi keahliannya masihlah perlu di asah apalagi dengan kebernian dia yang sangat minim" seru Revan.
Alvan menatap Revan "Lo benar, bahkan untuk mencari tau tentang keluarganya saja dia tidak mampu"
"Yahh kita lihat saja nanti, jika memang perlu, kita bisa menambahkan penyedap rasa untuk membuatnya lebih terasa" timpal Leo yang membuat mereka mengangguk setuju.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvan's Transmigrasi [End] ✓
RomanceAlvan seorang remaja 18tahun, dengan keahliannya sebagai Hacker handal dengan setatusnya yang menyandang sebagai salah satu sniper terbaik di kalangan organisasinya. Menjelani hidup dengan penuh kekerasan, mengharuskan dia menjadi pribadi yang mandi...
![Alvan's Transmigrasi [End] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368203447-64-k679740.jpg)