Part. 59

3.1K 169 9
                                        


Motor sport yang perlahan terparkir di halaman mansion, terlihat sang pengendara yang seolah bukan hal baru lagi untuk kedatangannya, bahkan penjaga menunduk hormat pada remaja yang kini turun dari motor tersebut.

"Tuan muda" sapa salah satu bodyguard yang berjaga namun remaja itu yang tak lain adalah Alvan hanya mengangkat tangannya tanpa mau menimpali.

Berjalan memasuki area mansion kediaman Gevano, sampai pandangannya teralihakan pada keluarganya yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu dengan menyesap teh dalam keheningan.

"Alvan" panggilan dari Dion seolah membuat atensi mereka mengarah pada arah pandangnya.

Raka yang baru saja keluar dari pintu lift berjalan ke arahnya "kamu pulang Al?"

"Aku hanya ada perlu dengan opa" jawabnya datar.

"Apa kamu tidak ingin menyapa bunda terlebih dahulu sayang?" Lista berkata ketika dia keluar dari arah dapur sembari membawa coockies yang baru selesai di open.

Alvan berajalan ke arahnya seraya mengambil satu cookies coklat itu "tidak untuk sekarang bunda, maaf" ucapnya sembari memasukan kue itu ke dalam mulutnya

"Alvan"

Alvan menoleh pada suara parau itu yang kini sudah berdiri dari sofa, menatap sendu kearahnya seakan ada kata yang tercekat dalam tenggorokannya.

Gino berjalan perlahan menghampiri Alvan dalam diam, menatap lamat pada putra bungsunya yang sangat ia rindukan, bahkan penyesalan besar terus menggerogoti hatinya.

"Alvan, bisakah meluangkan waktu mu untuk Daddy?"

Alvan lebih memilih mengabaikan Gino dan menatap ke arah Arka yang berdiri di sebalah Gino "Dimana opa?" tanyanya

"Kamu tidak ada niatan menyapa terlebih dulu?" Tanya Arka.

"Jangan membuatku mencarinya sendiri"

"Di lantai tiga, ruang pribadi kerja Opa, kamu tidak lupa kan?" jawab Cleo.

Alvan menatap skilas pada Cleo "terimaksih" jawab Alvan lalu berjalan menuju arah lift tanpa memperdulikan tatapan sendu dari Gino yang terserat raut sesak yang begitu kentara.

"Bersabar lah sedikit Gino" ucap Arka sembari menepuk pundak Gino pelan.

Sedangkan kini Alvan berhenti tepat di ruang kerja milik Renhard, tanpa berkata lebih dia masuk tanpa permisi.

Renhard tak memperdulikan hal itu, hanya diam menatap sang cucu yang kini sudah ada di hadapannya.

"Berhentilah dari pekerjaan mu Opa" ucap Alvan menduduk dirinya di sofa.

Renhard menghela nafasnya sesaat lalu beranjak dari kursi kerjannya, berjalan menuju sofa lalu mendudukan dirinya di sebrang Alvan.

"Baru ingat kalo kamu punya rumah?" sarkas Renhard.

Alvan mengerutkan dahinya "yang isinya hanya hama?"

"Al-"

"Tidak perlu basa basi Opa, waktuku tidak banyak" potongnya dalam jeda, lalu mencondongkan wajahnya ke arah Renhard "Opa tau siapa Reynald Kavelo?"

Renhard sedikit terkejut dengan apa yang Alvan tanyakan "jelaskan yang lebih sepesifik, kamu tau yang bernama Reynald itu tidak satu"

"Tapi teman ah ralat lebih tepatnya sahabat Opa bukannya hanya ada satu yang bernama Reynald?"

Renhard menatap sengit "darimana kamu tau tentang dia?"

"Opa tau kan di belakang ku ada siapa?" ucapnya dengan manaikan sedikit alisnya.

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang