Part. 49

6.4K 373 14
                                        


"Alvan belum pulang Re?" Tanya Leo yang duduk di sofa ruang tamu dengan cemilan kripik kentang sembari menonton acara televisi.

Ia mereasa heran ketika waktu yang sudah menunjukan pukul 9 malam namun belum melihat keberadaan Alvan.

Revan yang baru saja keluar dari arah dapur membawa sepiring nugget di tangannya "coba lo telpon" jawabnya lalu duduk di sebelah Leo.

Leo pun mengambil handphonenya yaang ia letakan di meja, melihat nama Alvan lalu menekan untuk menyambungkan telponnya.

"Kok gak aktif yah?" Ucapnya sembari terus menerus mencoba menghubungi Alvan.

Revan memasukan nugget ke mulutnya dengan pandangan lurus ke arah televisi "mungkin masih banyak yang perlu ia cari tahu"

"Untuk satu orang?"

"Bisa jadi kalo ada komplotannya kan?" Ucap Revan  meyakinkan.

"Bisa jadi sih"

Tapi entah kenapa perasaan Leo gak enak tentang itu, karena gak biasanya Alvan pulang terlambat, dan sangat sulit untuk di hubungi seperti ini.

Leo beranjak dari duduknya "gua tidur duluan"

Revan berbalik menatap ke arahnya "lah gak nongkrong bareng gua dulu?"

"No Alvan no tanggapan" jawabnya.

Hahhh...

Revan menghela nafas sesaat, kembali memasukan nugget nya ke dalam mulut "Sebucin itu dia sama Alvan, gimana kalo Alvan dah nikah nanti? apa dia bakal ikut ke malam pertamanya? atau malah ikut gabung di malam pertamanya? 1 untuk berdua gitu?" Gumam Revan lalu bergidik setelahnya "jangan sampe deh"

•••••

Alvan mengerjapkan matanya perlahan menatap ke area sekitar yang tampak terlihat gelap.

"Gino sialan!!" Racau Alvan ketika dia sudah mendapati tangan dan kakinya yang sudah di pasangi rantai panjang.

Krekk....

Pintu ruangan perlahan terbuka memperlihatkan seorang pria paruh baya yang datang dengan membawa nampan yang berisi makanan.

Alvan berkilat tajam menatap orang itu yang tak lain adalah Gino.

"Alvan makan dulu ayo"

"Belum puas anda dengan saya setelah saya memberikan itu semua?"

Hahh..

Gino menghela napas sesaat lalu menyimpan nampannya di atas meja, duduk di tepi ranjang dengan menatap Alvan intens "Alvan apa sulit bagimu untuk membuka hati untuk Daddy? Daddy hanya ingin dekat dengan kamu"

Alvan menyunggingkan senyumnya "dengan cara seperti ini? Itu malah membuat saya lebih muak"

"Alvan Daddy minta maaf atas semuanya, Daddy menyesalinya Alvan, Daddy tau Daddy salah dan Daddy ingin memperbaikinya lagi, Daddy ingin kita kembali bersama seperti layaknya keluarga"

"Jangan bercanda soal keluarga, saya tidak ingin mendengarnya dari mulut busuk anda" sarkas Alvan dan itu berhasil membuat Gino bungkam, bahkan gejolak amarahnya kian perlahan naik namun dia berusaha untuk mengotrolnya karena kali ini dia benar-benar ingin meminta maaf Alvan, dia ingin bersama putra bungsunya itu, menjalin layaknya keluarga.

"Alvan Daddy mohon, tolong maafkan Daddy, Daddy benar-benar menyasalinya Daddy ingin kita memperbaiki semuanya"

"Ingin memperbaiki anda bilang? Kenapa tidak dari dulu disaat saya mati-matian membutuhkan pertolongan anda, anda kemana? Dan dengan entengnya anda menyalahkan saya atas apa yang bukan saya perbuat, dan anda bukannya menolong saya malah anda membuat luka untuk saya?" Jawab Alvan dengan emosi yang memburu entah ini memang karena ia marah atas apa yang sudah Gino perbuat terhadap dirinya atau amarah kekecewaan yang berasal dari pemilik tubuh itu sendiri.

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang