][Enjoy Reading...][
*
*
"Al lo bangun?" Leo bergumam kala netranya bersitatap dengan remaja yang baru saja membuka matanya dari sekian lama dia tertidur.
"A-air" ucapnya kala dahaga yang ia rasakan.
Buru-buru Leo melepaskan tautan tangannya lalu mengambil gelas yang terletak di meja.
Sedangkan Revan berjalan ke arah Alvan, membantunya untuk terduduk setelah melepaskan nassal canula yang terpasang di hidungnya.
Leo menyodorkan gelasnya pada Alvan, membantunya untuk meminum cairan bening itu. Setelah di rasa cukup Leo kembali meletakan gelas itu di meja.
Hingga keduanya, Revan dan Leo berjajar menatap Alvan penuh minat, seolah haru penuh kebahagiaan tersirat di antara mereka, terlihat dari lengkungan bibir mereka yang merkah dengan senyuman.
"Ba-bang Le-o"
Perlahan senyuman haru itu pudar, terganti dengan tatapan kaku seolah menyiratkan kekecewaan yang mendalam. Orang yang di nanti nyatanya tidak kembali?
"Lo Alvan?" tanyanya pelan dengan wajah datar yang terlihat kentara.
Seolah sadar dengan pertanyaan yang di maksud, Alvan mengangguk sebagai jawaban, dia tau Alvan yang di maksud adalah dirinya bukan Alvan abangnya.
Entah karena apa dia tidak tau, namun dalam jarak mata memandang ia sudah tau bahwa ia kembali pada tubuh nya sendiri.
"Dimana dia?" tanyaya dengan tegas "Dimana Al gua tanya?" tekannya kembali kala mendapati Alvan hanya terdiam membeku.
Namun gelengan yang ia isyaratkan, seolah itu menjadi jawaban pasti yang telak menampar keras dirinya.
Revan yang tau dengan posisi apa yang di alaminya mencoba mengelus pelan punggungnya "Leo"
Panggilan itu membuatnya menoleh, menatap Revan dengan datar "dia ninggalin gua Re" Revan menggeleng "itu belum tentu"
Leo menunjuk ke arah Alvan "lo liat itu bukti nyata dan lo mengelak?" sarkasnya.
"Leo tenangin diri lo, Al mungkin-"
"Cukup!!" potongnya segera, menatap nyalang ke arah Revan "gua gak butuh kata-kata, tapi gua butuh bukti nyata" tekannya.
"Al mati-matian menjaga dan malah dia yang mengambil alih setelahnya?" pertanyaan yang seolah menjadi pernyataan itu terlontar spontan "lo pikir gua nunggu di sini sekian lamanya buat ngeliat siapa Revan? Kalo bukan buat Al, mana sudi gua berdiri disini sekian lamanya, apa perlu gua bunuh dia ajah?!"
"Leo!!" Panggil Revan dingin, dia tak menyukai hal ini. Meski ia tahu seberapa besar Leo menyayangi Al.
"Bukannya kita udah tau bahwa Al berjuang untuk siapa?" tanyanya "bukannya kita sepakat bahwa apapun yang menyangkut Al berarti kita juga ikut terkait?"
Diam. Leo seolah terbungkum dengan apa yang di utarakan Revan, ia begitu sadar bahwa dulu dia sempat menerima kehadiran seseorang yang di anggap adik oleh Al, meski nyatanya dia tidak kenal dengan kepribadiannya sama sekali.
"Jadi kita seharuanya merima apa yang sudah Al titipkan untuk kita"
Bught!
Satu pukulan telak mendarat tepat mengenai rahang Revan, hingga membuatnya tertoleh kesamping mencoba menahan rasa sakit yang sempat mendera.
"Jaga bicara lo! Dia tidak akan pergi begitu saja" tukasnya dengan emosi.
Revan menoleh, menatap remeh "lo yang bilang bahwa dia pergi ninggalin lo seakan Al gak akan balik lagi" Revan menarik kerah baju Leo menatapnya dengan nyalang "lalu sekarang apa? Lo menyangkal hal itu?" namun keterdiaman yang Revan dapatkan hanya sorot mata yang perlahan memudar kala embun yang perlahan terlihat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvan's Transmigrasi [End] ✓
RomanceAlvan seorang remaja 18tahun, dengan keahliannya sebagai Hacker handal dengan setatusnya yang menyandang sebagai salah satu sniper terbaik di kalangan organisasinya. Menjelani hidup dengan penuh kekerasan, mengharuskan dia menjadi pribadi yang mandi...
![Alvan's Transmigrasi [End] ✓](https://img.wattpad.com/cover/368203447-64-k679740.jpg)